DEDIKASI seorang prajurit sejati tidak pernah berakhir ketika masa dinas militer selesai, melainkan terus berlanjut melalui pengabdian tulus di tengah masyarakat dan dunia pendidikan Islam.
Perwira tinggi korps infanteri yang dilahirkan di Suliki pada 4 Maret 1945 ini merupakan salah satu tokoh militer keturunan Minangkabau terbaik yang berasal dari Padang Japang, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.
Langkah awal karier ketentaraannya ditempa dari tingkatan bawah dengan menyelesaikan pendidikan di AKABRI Magelang serta mengikuti Kursus Perwira Ahli Administrasi Personil pada awal era 1970-an.
Berkat kecerdasan dan potensi akademis yang menonjol, ia dikirim ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan pendidikan spesialisasi komputer analisis data processing di Fort Benjamin Harrison pada tahun 1975.
Sekembalinya ke tanah air, ia meniti anak tangga karier militer secara struktural dengan mengemban berbagai tugas operasional serta kursus lanjutan di bidang taktik infanteri dan ketahanan nasional.
Titik balik terbesar dalam pengabdian militernya terwujud secara gemilang ketika ia berhasil meraih pangkat jenderal bintang satu dan dipercaya memegang jabatan sebagai Staf Ahli Panglima TNI.
Atas jasa dan kesetiaannya yang luar biasa kepada negara, ia dianugerahi berbagai penghargaan bergengsi termasuk Bintang Kartika Eka Pakci Nararya dan Bintang Yudha Dharma Nararya.
Setelah memasuki masa purnatugas dari dinas kemiliteran, ia memilih untuk mencurahkan energi dan pemikirannya dalam memperkuat jaringan ekonomi serta kebudayaan masyarakat Sumatra Barat.
Kepemimpinannya yang mengayomi membawa dirinya didaulat untuk mengemban amanah besar sebagai Ketua Umum Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang atau Gebu Minang untuk periode tahun 2001 hingga 2004.
Sebagai alumni organisasi pergerakan, ia juga dipercaya untuk memimpin Pengurus Pusat Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia demi membina mental generasi muda nasional.
Kepeduliannya yang mendalam terhadap tanah kelahiran dibuktikan dengan peran aktifnya dalam menggiatkan kembali roda pendidikan di Pondok Pesantren Darul Funun El-Abbasiyah.
Meskipun kondisi kesehatan yang menurun mengharuskan dirinya kembali ke Jakarta untuk menjalani perawatan medis, warisan pemikiran dan kontribusinya bagi dunia pendidikan Islam di daerah tetap tertanam kuat.
Tokoh pejuang yang berdedikasi tinggi ini akhirnya mengembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Subroto Jakarta pada 12 Juni 2019 dan dimakamkan dengan penghormatan di TPU Tanah Kusir.
Kisah perjalanan hidup putra Lima Puluh Kota dari seorang perwira ahli data hingga menjadi jenderal penggerak ekonomi dan pesantren ini membuktikan bahwa pengabdian tulus akan selalu meninggalkan warisan kebaikan yang abadi bagi masyarakat.
#wkp/bin

