EPYARDI Asda lahir dengan nama Efiyardi di Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada tanggal 11 Maret 1962. Ia dibesarkan di tepi danau yang indah oleh pasangan Asfar Panduko Sutan dan Rosida, menuntaskan seluruh jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas di Solok hingga lulus dari SMA Negeri Solok pada tahun 1982.
Hasratnya untuk menaklukkan dunia membawanya merantau ke Jawa untuk menempuh pendidikan kepelautan. Titik awal perjuangannya dimulai saat ia menempuh masa-masa berat di Pendidikan Perwira Pelayaran Besar (P3B) Semarang.
Di tengah keterbatasan waktu dan kerasnya disiplin semi-militer, ia menempa mental kepemimpinannya dengan aktif mengurus organisasi Islam kampus hingga berhasil lulus meraih sertifikasi Ahli Nautika Tingkat (ANT) 3 pada tahun 1985.
Ketangguhannya di laut lepas langsung teruji saat ia dipercaya bekerja sebagai kapten kapal di Singapore Shipping Company selama lebih dari satu dekade hingga tahun 1996. Setelah memutuskan berhenti mengarungi samudra internasional, ia banting setir ke dunia usaha dengan mendirikan beberapa perusahaan maritim, termasuk menjadi Komisaris Utama PT Kaluku Maritima Utama dari tahun 1997 hingga 2004.
Sembari mengendalikan bisnisnya, Epyardi terus berburu ilmu dengan menuntaskan jenjang ANT 1 di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta hingga puncaknya sukses meraih gelar S2 Master Mariner (M.Mar) pada tahun 2005.
Titik balik dalam jalan hidupnya terjadi pasca-reformasi ketika ia memutuskan terjun ke dunia politik praktis melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kemampuan manajerial dan modal sosial yang kuat sebagai pengusaha sukses membawanya melenggang mulus ke Senayan sebagai Anggota DPR-RI dari daerah pemilihan Sumatera Barat I selama tiga periode berturut-turut sejak tahun 2004 hingga 2018.
Di panggung politik nasional, ia dikenal sebagai figur petarung yang vokal dan berkarakter tegas. Ia pernah dipercaya menduduki posisi strategis di Komisi V dan Komisi II DPR-RI, serta sempat terlibat dalam dinamika internal yang sengit sebagai Ketua Fraksi PPP yang sah berdasarkan SK kepengurusan partai. Pengalaman matang di tingkat pusat sempat membawanya berpindah haluan ke Partai Amanat Nasional (PAN) pada tahun 2018 demi melanjutkan visi politiknya yang dinamis.
Setelah belasan tahun berkiprah di ibu kota, panggilan untuk membangun tanah kelahiran akhirnya membulatkan tekadnya untuk pulang kampung. Berpasangan dengan Jon Firman Pandu, ia memenangkan kontestasi politik lokal dan resmi dilantik menjadi Bupati Solok ke-17 pada tanggal 26 April 2021.
Selama memimpin Kabupaten Solok hingga awal tahun 2025, pemilik gelar adat Datuak Sutan Majo Lelo ini dikenal sebagai kepala daerah yang eksentrik, berani dan selalu menerapkan disiplin tinggi.
Di luar kesibukannya menggerakkan roda pemerintahan bersama istrinya, Emiko, dan keenam anak mereka, karakter kepemimpinannya yang lugas kerap menarik perhatian publik luas di media sosial, menegaskan posisinya sebagai salah satu tokoh Minang yang berkarakter kuat dalam menjaga marwah dan memajukan perekonomian daerah.
#wkp/ede


