NAZIF BASIR merupakan seniman legendaris, jurnalis, sekaligus penulis terkemuka yang lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 5 Juni 1934.

Tokoh berdarah Minangkabau ini mengawali langkah awal kehidupannya dengan merantau ke Yogyakarta demi menempuh jalur pendidikan formal di dunia seni, hingga berhasil tercatat sebagai alumnus angkatan pertama dari Akademi Seni Drama & Film (ASDEFI) Yogyakarta pada tahun 1957.

Sineas dan penulis muda yang kreatif ini merintis jalan kariernya dari bawah sejak masa sekolah pada tahun 1953 dengan menulis berbagai cerita pendek yang menghiasi halaman berbagai majalah nasional, sebelum akhirnya melebarkan sayap ke dunia jurnalistik profesional sebagai redaktur hingga pemimpin redaksi di berbagai media massa.

Titik balik besar dalam garis sejarah hidupnya terjadi ketika ia memadukan visi artistiknya dengan sang istri, diva legendaris Elly Kasim, untuk mendirikan Sanggar Tari Nasional Bunda—yang lebih populer dengan nama Sangrina Bunda—di Jakarta Timur pada tahun 1978.

Keandalan imajinasi budaya dan ketepatan koreografinya membuat sanggar ini berkembang menjadi pusat pendidikan dan latihan tari tradisional lintas generasi yang sangat disegani di ibu kota.

Di luar urusan penataan tari, ia memainkan peran diplomatik yang sangat krusial melalui diplomasi kultural; bersama sang istri, ia memimpin misi kesenian Indonesia menjelajahi dunia, membawa kekayaan tradisi Nusantara ke 118 kota besar yang tersebar di 35 negara, mulai dari Bangkok, London, Paris, New York, hingga Kairo.


Di tengah padatnya jadwal tur mancanegara, ia tetap menunjukkan sisi humanis dan tanggung jawab sosialnya terhadap pelestarian akar budaya leluhur dengan ikut memimpin Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (LKAM) Jakarta bersama penyair Taufiq Ismail pada periode 1984–1987.

Ketegasannya dalam mengorganisasi pergerakan budaya daerah kian mengakar kuat ketika ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Bidang Kebudayaan Badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau (BK3AM) Jakarta selama dua periode berturut-turut dari tahun 1988 hingga 1998.

Kapasitasnya sebagai seniman paripurna juga dibuktikannya melalui kepiawaian menciptakan berbagai lagu pop Minang bernuansa mendalam yang menjadi pelengkap sempurna bagi perjalanan emas karier musik sang istri di panggung nasional.

Setelah mendedikasikan seluruh sisa umurnya sebagai penjaga gawang kebudayaan dan duta seni Indonesia yang tangguh di mata dunia internasional, sosok maestro pelopor pengenalan tari tradisional ini wafat di Rumah Sakit Pertamina Jakarta pada 1 Mei 2020 dalam usia 85 tahun.

#wkp/ede





 
Top