DI PANGGUNG diplomasi global, nama Prof. Dewi Fortuna Anwar, M.A., Ph.D. adalah jaminan mutu kualitas intelektual Indonesia. Perempuan tangguh berdarah Minangkabau yang lahir pada 22 Mei 1958 ini bukan sekadar pengamat politik biasa, melainkan seorang ilmuwan dan pakar hubungan internasional yang gagasan serta pemikirannya diakui di meja runding dunia.

Tumbuh dalam keluarga akademisi—di mana ayahnya adalah sosiolinguis yang mengajar 20 tahun di Universitas London dan adiknya adalah presenter berita terkemuka Desi Anwar—Dewi sukses meniti karier cemerlang yang diakui secara nasional maupun internasional.

Dipercaya Banyak Presiden Indonesia

Kapasitas intelektual Dewi Fortuna yang luar biasa membuatnya dipercaya oleh banyak kepala negara melintasi berbagai era kepemimpinan nasional:

Era Reformasi (B.J. Habibie): Dipercaya menjabat sebagai Asisten Presiden untuk Urusan Politik Internasional sekaligus menjadi Juru Bicara Presiden.

Era SBY hingga Jokowi: Menjabat sebagai Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Pendukung Program Pemerintah dari tahun 2010 hingga 2017.

Di dunia akademis, Profesor Riset dari LIPI (sekarang BRIN) ini juga aktif mengabdi sebagai Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Indonesia (UI) dan pernah menjadi Profesor Tamu di Johns Hopkins University, Washington D.C., Amerika Serikat.


Kiprah Mentereng di Panggung PBB dan Dunia

Karier internasional Dewi Fortuna Anwar benar-benar membuktikan kelasnya yang "bukan kaleng-kaleng." Pengaruhnya menyebar di berbagai lembaga elite dunia:

Penasihat Sekjen PBB: Ia dipercaya menempati posisi bergengsi sebagai anggota Dewan Penasihat Sekretaris Jenderal PBB untuk isu Perlucutan Senjata.

Arsitek Geopolitik ASEAN: Australia Award bahkan mencatat namanya sebagai salah satu tokoh krusial yang membuat ASEAN mampu berkontestasi kuat dan diperhitungkan di kancah internasional.

Riset Perdamaian: Aktif sebagai peneliti di Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Swedia.

Membumikan Isu Global Lewat FPCI

Di dalam negeri, Prof. Dewi bersama Dino Patti Djalal mendirikan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI). Lewat wadah ini, kebijakan luar negeri yang tadinya dianggap rumit berhasil dibawa ke akar rumput hingga menjamur menjadi jaringan organisasi mahasiswa di ratusan kampus se-Indonesia.

Prof. Dewi Fortuna Anwar adalah bukti nyata bahwa dengan kedalaman ilmu dan integritas, ilmuwan perempuan Indonesia mampu berdiri sejajar dengan para pemikir hebat dunia dan ikut menentukan arah kebijakan global.

#wkp/ede




Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top