Elfindri, FEB Unand
APA keluhan terbesar yang kita rasakan hingga kini, kenapa banyak diantara mereka yang terdidik memiliki Adab seperti sekarang?
Korupsi ya,
Kekerasan ya,
Bulying ya,
Narkoba ya,
Berpurak suci, padahal sangat kotor ya,
Dan banyak lagi.
Muaranya ada pada temuan harian anak bangsa. Mereka yang terdidik sekalipun memiliki Adab yang tidak sesuai dengan tuntutan agama (Islam).
Jika adab merupakan perilaku individu dalam kehidupan pribadi, sosial, dan agama tidak sesuai dengan yang dituntun dalam agama. Maka proses pembentukannya memerlukan perbaikan dan inovasi di sana sini.
Adab Islami berbeda dengan norma. Bilamana norma, merupakan standar perilaku yang berlaku di suatu komunitas dan menjadi rujukan, sementara Adab Islami tentu perilaku rujukan yang bersumber dari Alquran dan Hadis.
What do and what do not? Tidak sekedar yang dibolehkan atau tidak saja, namun ketika pelanggaran akan etika Islami, maka akan ada pertanggungjawaban di kemudian hari. Tak sekecilpun kesalahan yang tidak dipertanggungjawabkan.
Dalam perjalannnya, tentu yang perlu kita pahami adalah bagaimana metode penanaman nilai Adab, agar dia menjadi karakter yang permanen terpelihara, konsisten menjadi perilaku yang baik.
Pembelajaran Islami dan Barat
Kita perlu belajar banyak hal dari mereka yang memberikan proses pembelajaran, yang hasilkan kejujuran, etika, dan kehidupan keseharian secara sosial. Semuanya mesti dapat dijadikan modal penting bagi individual.
Di negara negara Arab Maghribi/Maroko misalnya, mereka mengajarkan Alquran lebih awal, dan menunda memberikan ilmu. Jadi prinsipnya adab lebih dahulu ditanamkan normanya ke peserta didik.
Ini hampir berlaku meluas di sistem pendidikan berasrama, di pesantren-pesantren, dan sekolah agama. Walau sering pembelajaran agama, lebih kepada membangun hafalan, dan sering tidak terbiasa anak-anak dalam berargumentasi. Sehingga daya nalarnya kurang terbangun. Adabnya terbangun, namun banyak yang berperilaku pasif dan tidak banyak berkembang.
Sebaliknya di negara maju, meluas metode kebebasan berfikir yang ditanamkan pada pendidikan awal, misalnya model
Montessory. Cara-cara demikian juga dilakukan dalam pedagogi di sekolah TK dan SD di negara mereka. Kelebihan dari ini terbangunnya motorik, dan argumentasi. Sayang metodenya tidak diiringi dengan pembentukan perilaku pada berbagai bentuk pelarangan secara Islami.
Adabpun terpilah-pilah kuat di sistem pendidikan barat, mereka tentu kering dalam berkehidupan sosial dan menjauhi Agama.
Zaman Berubah
Ketika zaman berubah, maka nilai-nilai Adab yang ditanamkan bisa juga tergerus, adanya mobilitas sifat baik menjadi buruk, sebuah fenomena yang mesti kita atasi secara serius.
Kenapa dulu dia diajarkan jujur, kemudian berubah menjadi tidak jujur?
Kenapa dulu dia disiplin, kemudian berubah menjadi tidak disiplin?
Kenapa dulu dia rajin sholat, kemudian berubah malas sholatnya?
Dalam proses perubahan ke arah yang tidak baik, berarti ada faktor pemicunya yang perlu diperhatikan. Bisa jadi penanaman nilai tidak sampai "menghujam" dadanya manusia, seperti mereka jujur untuk apa? berperilaku baik untuk apa? disiplin untuk apa? tidaklah ditanamkan bahwa sifat Allah itu sedikit saja yang dititipkan pada manusia.
Dalam perjalanan waktu, tekanan lingkungan, kesempatan dan kekuasaan, membuat prinsip prinsip baik yang tertanam selama ini sering goyah seketika.
Hanya mereka yang imannya tidak kokoh kemudian akan tergoda, berubah ke arah tidak baik. Jadi pembelajaran Adab, mesti mengarah pada pemantapan Iman, bahasa yang lebih dimengerti, bahwa keyakinan akan 6 rukun Iman, dan 5 rukun Islam merupakan given perlu ditanamkan sejak dini.
Setelah ditanamkan, kemudian diperbaharui secara terus menerus dan berulang ulang. Akhirnya manusia akan tertempa, adab yang membuat mereka konsisten berjalan digaris yang baik.
Re-skilling Pedagogi Guru/Mentor
Kenapa Re-Skilling dan Up-skilling pedagogi yang diperlukan? Karena yang kita perlu sasar adalah generasi yang hidup sekarang dan juga mereka yang sedang lagi di pemerintahan, legislatif dan yudikatif.
Kita tidak saja menerapkan cara pembelajaran yang diajarkan dalam literatur lama saja, namun diperlukan penyesuaian dan inovasi sesuai dengan perubahan zaman.
Anak Gen Z tidak bisa disamakan metodenya pembelajaran akhlak dengan mereka yang berusia jauh lebih tua. Pada generasi yang lahir serba instan, akhlak diperkenalkan berulang-ulang, yang memudahkan mereka mengetahui, paham, dan melaksanakan. Guru menghadapinya disesuaikan dengan suasana kehidupan yang berubah.
Guru mengajipun menanamkan akhlak di masjid masjid, mulai dari yang kecil kecil. Adab duduk dalam masjid, adab salat, misalnya.
Pada usia yang lebih dewasapun, akhlak perlu disampaikan secara terus menerus. Kontrak kerja yang berisikan penerapan akhlak mulia menjadi terbiasa di kantor-kantor, kampanye ini mesti intensif dilakukan mulai dari kepala sampai bawahan.
###

