Oleh Slamet Samsoerizal | Penulis
ROBERT FROST, penyair terkenal Amerika, memandang tantangan hidup dengan selera humor dan sikap menerima. Kutipan terkenalnya menawarkan sudut pandang unik tentang cara menghadapi kesulitan dan penderitaan. Humor adalah cara jiwa memeluk luka yang tak sanggup dijelaskan oleh akal.
Forgive, O Lord, my little jokes on Thee
and I’ll forgive Thy great big one on me
Karya-karya Frost mengeksplorasi tema-tema universal dan tetap berpengaruh di bidang pendidikan dan sastra. Ia menerima berbagai penghargaan, termasuk empat Penghargaan Pulitzer untuk puisinya.
Di antara ribuan kutipan Robert Frost, mungkin tidak ada yang sependek sekaligus setajam doa satir ini. Dalam dua baris, penyair peraih Pulitzer tersebut menghadirkan percakapan yang nyaris mustahil: manusia berbicara kepada Tuhan bukan dengan ketakutan, melainkan dengan senyum yang getir.
Kalimat itu bukanlah bentuk penghinaan kepada Yang Ilahi, melainkan pengakuan bahwa hidup sering kali terasa seperti ironi terbesar yang pernah dialami manusia. Kutipan tersebut berasal dari puisi Forgive, O Lord dalam kumpulan In the Clearing (1962), karya Frost pada penghujung hidupnya.
Sekilas, doa itu terdengar jenaka. Namun semakin lama direnungkan, semakin tampak bahwa humor menjadi bahasa terakhir seseorang yang telah melewati begitu banyak kehilangan.
Robert Frost mengenal tragedi secara langsung. Ia kehilangan ayah ketika masih kecil. Beberapa anaknya meninggal dunia. Sementara yang lain mengalami gangguan kesehatan jiwa. Istrinya, Elinor, wafat setelah puluhan tahun mendampinginya.
Di balik reputasinya sebagai penyair alam pedesaan New England, Frost adalah seorang manusia yang akrab dengan kesedihan. Oleh karena itu, ketika ia menyebut hidup sebagai lelucon besar, ia tidak sedang bercanda. Ia sedang mengungkapkan bahwa terkadang penderitaan hanya dapat ditanggung apabila manusia masih mampu tersenyum.
Pandangan ini memperoleh dukungan menarik dari kajian psikologi modern. Selama dua dekade terakhir, para peneliti dalam bidang positive psychology menemukan bahwa humor bukan sekadar hiburan, melainkan salah satu bentuk adaptive coping, yaitu kemampuan psikologis untuk menghadapi tekanan secara sehat.
Individu yang mampu melihat sisi lucu dari pengalaman pahit cenderung memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi. Ia lebih cepat pulih dari stres, dan lebih mampu menjaga hubungan sosial dibandingkan mereka yang menekan emosi negatif.
Humor tidak menghapus kenyataan. Humor hanya mengubah jarak antara manusia dan penderitaannya. Ketika seseorang dapat menertawakan kesialannya sendiri, ia tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh kesialan itu.
Temuan dalam ilmu saraf juga memperkuat pandangan tersebut. Aktivitas tertawa melibatkan jaringan otak yang berkaitan dengan emosi positif, kreativitas, dan pengendalian stres. Pelepasan dopamin serta endorfin ketika seseorang mengalami humor dapat membantu mengurangi ketegangan psikologis sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir fleksibel. Dalam situasi krisis, fleksibilitas kognitif sering kali menjadi faktor yang membedakan antara orang yang mampu bangkit dan orang yang terus tenggelam dalam keputusasaan.
Sehubungan dengan ini, Frost mengajukan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar manfaat biologis humor. Ia mengisyaratkan bahwa kehidupan tidak selalu dapat dijelaskan melalui logika sebab-akibat. Ada saat ketika orang baik mengalami penderitaan, sementara ketidakadilan tampak menang. Ada usaha yang gagal tanpa alasan yang jelas. Ada doa yang seolah tidak pernah memperoleh jawaban.
Dalam keadaan demikian, manusia mempunyai beberapa pilihan. Sebagian memilih marah. Sebagian memilih menyerah. Sebagian lagi memilih mempertanyakan seluruh makna hidup. Frost menawarkan jalan yang berbeda.
Ia memilih berdialog dengan Tuhan menggunakan senyuman. Senyum di sini bukan tanda bahwa hidup mudah, melainkan pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan untuk memahami seluruh rancangan kehidupan.
Dalam tradisi filsafat eksistensial, sikap semacam ini dapat dipandang sebagai bentuk penerimaan terhadap absurditas. Dunia memang tidak selalu memberikan jawaban yang memuaskan, tetapi manusia tetap memiliki kebebasan untuk menentukan sikap terhadap pengalaman tersebut.
Menariknya, gagasan itu kini kembali memperoleh perhatian di tengah meningkatnya krisis kesehatan mental global. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menerima ketidakpastian (uncertainty tolerance) menjadi salah satu keterampilan psikologis yang paling penting pada abad ke-21. Dunia yang berubah cepat, kecerdasan buatan yang menggeser banyak pekerjaan, konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga tekanan media sosial membuat manusia semakin sulit memperoleh rasa aman yang stabil.
Dalam kondisi seperti itu, banyak ahli menyarankan agar individu mengembangkan tiga kemampuan utama: menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, menemukan makna di balik pengalaman pahit, dan mempertahankan rasa humor sebagai penyeimbang kehidupan. Ketiga kemampuan tersebut justru telah dirangkum Frost dalam dua baris puisi.
Humor juga memiliki dimensi spiritual yang sering terlupakan. Banyak tradisi keagamaan mengajarkan kerendahan hati sebagai inti kebijaksanaan. Orang yang terlalu yakin dirinya memahami seluruh rahasia kehidupan cenderung mudah kecewa ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Sebaliknya, orang yang mampu mengakui keterbatasannya biasanya lebih siap menerima perubahan.
Doa Frost bukanlah bentuk kesombongan kepada Tuhan. Justru sebaliknya. Ia mengandung pengakuan bahwa manusia hanyalah makhluk yang berusaha memahami kehidupan dengan segala keterbatasannya. Kalimat “Forgive, O Lord, my little jokes on Thee” merupakan metafora puitis tentang penerimaan terhadap takdir yang sering kali tampak ironis.
Di era media sosial, humor sering berubah menjadi sarkasme yang melukai orang lain. Frost memperlihatkan bentuk humor yang berbeda. Ia tidak menertawakan kelemahan sesama manusia. Ia justru menertawakan dirinya sendiri, bahkan keberadaannya di tengah misteri kehidupan. Humor seperti inilah yang membebaskan, karena lahir dari kerendahan hati, bukan dari kesombongan.
Setiap generasi menghadapi lelucon besar versinya sendiri: kegagalan, kehilangan pekerjaan, penyakit, hubungan yang kandas, atau impian yang tidak pernah terwujud. Semua itu membuat manusia bertanya mengapa hidup terasa begitu tidak adil.
Frost tidak memberikan jawaban filosofis yang rumit. Ia hanya mengajak kita tersenyum. Bukan senyum yang menolak kenyataan, melainkan senyum yang lahir setelah seseorang menerima bahwa hidup memang tidak selalu dapat dipahami. Kadang-kadang, keberanian terbesar bukanlah mengalahkan penderitaan, melainkan tetap mampu tertawa di hadapannya.
Di situlah humor berubah menjadi kebijaksanaan. Bisa jadi, alih-alih yang diyakini Robert Frost, ketika manusia masih mampu tersenyum di tengah ironi kehidupan, sesungguhnya ia belum pernah benar-benar kalah. (*)

