DALAM sejarah perkembangan industri media cetak dan emansipasi perempuan di Indonesia, nama Pia Alisjahbana berdiri tegak sebagai salah satu arsitek utamanya. Lahir pada 26 Juli 1933 dengan nama asli Suftalasifah (Supia Latifah Alisjahbana), putri dari pasangan Prof. Ir. R. Soerdjomihardjo dan Hisnat Djajadiningrat ini sukses memadukan dunia kewartawanan, akademisi, fashion, hingga musik klasik ke dalam rekam jejak hidup yang luar biasa.
Ia adalah representasi nyata dari perempuan visioner yang mampu menembus batas zaman dan menginspirasi berbagai generasi di tanah air.
Fondasi Kuat di Dunia Media: Sang Biduan di Balik Femina Group
Kontribusi paling monumental dari Pia Alisjahbana adalah keberhasilannya meletakkan batu pertama bagi industri media perempuan modern di Indonesia. Bersama Mirta Kartohadiprodjo dan Widarti Gunawan, Pia menginisiasi lahirnya Majalah Femina pada tahun 1972—sebuah majalah yang mengusung jurnalisme aktual dan inspiratif bagi perempuan modern Indonesia. Setahun kemudian, pada 1973, ia kembali melahirkan Majalah GADIS yang sukses menjadi kiblat tren remaja tanah air pada masanya.
Bersama sang suami, Sofyan Alisjahbana (putra dari sastrawan legendaris Sutan Takdir Alisjahbana), serta Mirta Alisjahbana, imperium bisnis media ini menggurita di bawah payung Femina Group. Atas dedikasi dan kontribusi emasnya di panggung media cetak nasional, Pia dianugerahi penghargaan Lifetime Achievement dari Ernst & Young pada tahun 2009.
Dedikasi di Dunia Akademik dan Penggerak Beasiswa Internasional
Jejak langkah Pia di dunia pendidikan tidak kalah mentereng. Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi di jurusan Kesusasteraan Inggris Modern di Universitas Cornell, Amerika Serikat pada tahun 1963, ia mendedikasikan ilmunya di almamater kebanggaan tanah air, Universitas Indonesia (UI).
Di UI, Pia memegang posisi strategis sebagai:
- Lektor Kepala Fakultas Sastra UI
- Koordinator Pasca Sarjana Kajian Wilayah Amerika dan Fakultas Sastra UI
Visi pendidikannya melintasi batas negara. Pia menjadi salah satu pendorong utama lahirnya American Indonesia Exchange Foundation (AMINEF), lembaga bergengsi yang membuka pintu gerbang bagi ribuan mahasiswa Indonesia untuk meraih beasiswa dan menempuh studi di Amerika Serikat. Jauh sebelum itu, jiwa kepemimpinannya sudah terasah sejak muda ketika ia bersama 22 mahasiswa lainnya mendirikan Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA) pada 25 April 1955.
Dari Panggung Mode hingga Simfoni Musik Klasik
Pia Alisjahbana adalah sosok dengan ketertarikan seni yang sangat luas. Di dunia mode, ia aktif mendukung pelestarian kekayaan budaya Indonesia melalui Yayasan Pusaka Indonesia serta menjadi figur penting di balik berbagai ajang fashion bergengsi. Pengaruhnya begitu kuat hingga desainer papan atas Didi Budiarjo mendedikasikan koleksi rancangannya di Jakarta Fashion Week (JFW) 2017 sebagai penghormatan atas sosok Pia.
Sementara di dunia musik klasik, kolaborasinya bersama pianis dan komponis kelas dunia Ananda Sukarlan melahirkan Kompetisi Piano "Cipta Award" pada tahun 2000. Kompetisi ini bertransformasi menjadi Ananda Sukarlan Award pada 2008, dan sejak 2021 cakupannya kian meluas hingga menyentuh seluruh instrumen musik serta vokal klasik (Tembang Puitik).
Pengakuan Dunia dan Memoar Menembus Zaman
Ketangguhan dan dedikasi Pia tidak hanya diakui di dalam negeri. Pemerintah Prancis menganugerahi penghargaan tertinggi the Chevalier dans l'Ordre de la Légion d'Honneur kepada Pia karena dinilai menjadi sosok yang paling menginspirasi perempuan Indonesia. Penghargaan ini mencetak sejarah tersendiri, karena Pia adalah orang Indonesia pertama yang menerimanya pada tahun 2015.
Melalui buku memoarnya yang berjudul Menembus Zaman, Pia Alisjahbana menumpahkan seluruh refleksi perjalanan hidupnya yang kaya. Menjadi saksi sejarah dari masa kemerdekaan, gejolak reformasi, hingga era modern, ia membuktikan bahwa dedikasi tulus pada literasi, pendidikan, dan kebudayaan adalah warisan yang tidak akan pernah luntur oleh waktu.
#wkp/ede

