Sudjarwo
| Guru Besar Universitas Malahayati


“Ngapo mak ini?” adalah ungkapan sederhana yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Palembang. Kalimat itu biasanya terlontar secara spontan ketika seseorang menyaksikan sesuatu yang terasa janggal, tidak masuk akal, atau jauh dari harapan.

Meskipun hanya terdiri dari tiga kata, maknanya begitu dalam. Ia tidak sekadar bertanya tentang sebab atau alasan, tetapi juga memuat rasa heran, kecewa, sedih, bahkan kegelisahan yang sulit diungkapkan dengan kalimat. Di balik logat khas yang terdengar ringan, tersimpan pesan bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ungkapan tersebut sebenarnya dapat menjadi cermin suasana batin masyarakat dalam memandang kondisi kehidupan saat ini. Setiap orang memiliki harapan akan masa depan yang lebih baik. Harapan itu tumbuh dari keyakinan bahwa setiap usaha akan menghasilkan perubahan yang positif, bahwa kehidupan akan semakin mudah, dan bahwa kesejahteraan akan semakin merata.

Namun, ketika realitas yang dihadapi justru memperlihatkan berbagai persoalan yang berulang, pertanyaan “Ngapo mak ini?” pun menjadi suara yang mewakili banyak kegelisahan.

Kehidupan modern menghadirkan berbagai kemajuan yang patut disyukuri. Teknologi berkembang sangat cepat, akses informasi semakin terbuka, dan berbagai layanan menjadi lebih mudah dijangkau. Akan tetapi, kemajuan tersebut juga membuat masyarakat semakin mudah melihat berbagai ketimpangan yang sebelumnya mungkin tidak terlalu tampak.

Perbedaan kondisi ekonomi, kesenjangan kesempatan, persoalan pelayanan publik, serta berbagai masalah sosial kini tersaji setiap hari melalui layar telepon genggam. Akibatnya, masyarakat semakin kritis dalam menilai keadaan di sekitarnya.

Tidak sedikit orang yang merasa bahwa kerja keras belum tentu berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Ada yang bekerja sepanjang hari tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Ada yang memiliki kemampuan, tetapi kesempatan terasa begitu sempit.

Ada pula yang melihat berbagai fasilitas terus berkembang, namun manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Ketika kenyataan seperti itu berlangsung dalam waktu yang lama, rasa kecewa perlahan berubah menjadi pertanyaan yang terus berulang: “Ngapo mak ini?”

Pertanyaan tersebut bukan berarti masyarakat kehilangan rasa cinta terhadap negerinya. Sebaliknya, pertanyaan itu muncul karena masih adanya kepedulian. Orang yang masih bertanya sesungguhnya masih berharap. Mereka percaya bahwa keadaan dapat diperbaiki, bahwa setiap persoalan memiliki jalan keluar, dan bahwa masa depan tidak harus selalu dibayangi oleh berbagai kesulitan.

Justru ketika pertanyaan itu tidak lagi terdengar, ada kemungkinan harapan mulai memudar. Oleh sebab itu, ungkapan sederhana tersebut seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian yang lahir dari keinginan melihat perubahan yang nyata.

Bahasa daerah memiliki kekuatan yang unik dalam menyampaikan perasaan. Ungkapan “Ngapo mak ini?” tidak terdengar seperti protes yang keras, tetapi mampu menyampaikan rasa kecewa dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.

Kalimat itu mengandung unsur budaya yang mengajarkan bahwa kritik tidak selalu harus disampaikan dengan kemarahan. Kadang-kadang, sebuah pertanyaan yang jujur justru lebih kuat daripada seribu kalimat yang penuh amarah. Karena itulah ungkapan ini tetap hidup dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas masyarakat Palembang.


Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, masyarakat tentu berharap setiap langkah pembangunan benar-benar memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara luas. Kemajuan bukan hanya diukur dari bertambahnya bangunan atau meningkatnya angka-angka statistik, tetapi juga dari rasa aman, kemudahan memperoleh pekerjaan, kualitas pendidikan, layanan kesehatan yang baik, serta kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup dengan layak. Semua itu merupakan ukuran sederhana yang langsung dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Kekecewaan yang muncul di tengah masyarakat hendaknya tidak dipandang sebagai sikap yang selalu negatif. Dalam banyak keadaan, rasa kecewa justru menjadi awal dari evaluasi. Orang yang kecewa biasanya sedang membandingkan antara kenyataan dan harapan.

Selama harapan itu masih ada, masih terbuka peluang untuk melakukan perbaikan. Sebuah masyarakat yang peduli akan terus menyampaikan pendapatnya, mengingatkan ketika ada kekeliruan, dan memberikan dukungan ketika melihat perubahan yang positif. Sikap seperti itulah yang menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan bersama.

Ungkapan “Ngapo mak ini?” maknanya bersifat universal dan dapat dipahami oleh siapa pun yang pernah merasakan kekecewaan karena kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Kalimat tersebut mengajarkan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga wadah untuk menyimpan nilai-nilai kehidupan, emosi, dan cara masyarakat memandang dunia di sekitarnya. Tinggal bagaimana para pemimpin negeri ini peka terhadap apa yang dirasakan oleh masyarakatnya. (*)

Salam Waras




 
Top