Indra J Piliang


TIGA kata dalam namamu.

Namun mengandung banyak makna.

Dalam kata Purbaya saja, ada dua makna.

Tiga kata yang datang dari masa lalu.

Epos, mitos, tempat nenek moyang manusia menyimpan algoritma ilmu dan pengetahuan.


Tiga nama yang menyatu dalam namamu.

Bukan nama pertapa, tapi ksatria dalam perang para dewa.


Tak perlu kuurai kata demi kata, huruf demi huruf.

Sebab berhulu dari bahasa Sanskerta.

Di negeri ini kau pakai namamu sebagai sumpah,

Yudhi di meja ekonometri, Sadewa di tengah desing bicara politisi.


“Pejuang bijak bestari pembawa kibaran awal kemenangan dalam medan laga ekonomi bumi bagi legiun nusantara.”


Arti yang kutanya pada Meta, lalu kusambung jadi kalimat tanpa perlu tanda koma. Makna dalam satu tarikan nafas.


Nubuat yang bukan hanya kau pikul di pundak logika, tapi juga di punggung angka.

Di sela belitan ular naga pada leher bangsa, grafik turun naik defisit, utang dan harapan sejahtera para perut kaum jelata.


Dan tatapan mata rakyat yang tak pernah hampa.


Purbaya,

Kau tak datang membawa mantra dari Kayangan.


Kau hadir dengan tangan bertinta, tata kalimat telanjang apa adanya.

Kau bekerja dalam diam hingga hening malam, ketika orang-orang berteriak jungkir balik diamuk mabuk Dunia Fantasi.


Aku lihat kau, aku catat kau, di tengah puting beliung ini.


Sebagai nahkoda, kau tentukan besar-kecil anggaran untuk kapal, biduk, perahu, hingga sampan armada negeri ini.



Namun, tetap saja pejabat-pejabat rakus meminta lebih lagi bagi citra pribadi.

Dan kau bicara terang, dan terus terang, seterang bintang di malam tanpa bulan.

Kau tahu, tak satu pun bendahara negara yang punya anggaran tak terbatas,

Pajak buat jelata, utang kepada orang atau Persekutuan orang yang lebih kaya, berarti cekikan bagi masa depan.


Kerja belum selesai, belum apa-apa, begitu syair Chairil Anwar, ponakan Sutan Syahrir.


Tak perlu bunyikan aksara itu, Purbaya!


Dengan menyetir sendiri mobilmu, kembali dari Senayan ke Lapangan Banteng , sudah tunjukkan kelasmu yang tentu bukan kelasi.

Setir mobil itu, sudah tentu kemudi nahkoda armada keuangan negeri.

Perang sudah menanti, tentu, di ufuk sana.


Cukup, Purbaya.


Ini bukan lagi perangmu. Walau, aku tahu, tanpa jabatan, tak perlu kelihatan, kau masih berperan di kejauhan…


Jakarta, 15 September 2026




 
Top