Oleh: Alhasymy
Ketika Satu yang Belum Dimiliki, Membuat Kita Lupa pada 99 yang Sudah Ada
DI SEBUAH kerajaan, hiduplah seorang raja yang memiliki hampir segalanya: istana megah, kekayaan, kekuasaan, pengawal, dan para pelayan yang siap memenuhi kebutuhannya.
Namun, di tengah segala kemewahan itu, sang raja justru menjalani hari-harinya dengan hati yang gelisah. Wajahnya jarang benar-benar memancarkan kebahagiaan.
Suatu hari, perhatian sang raja tertuju kepada salah seorang pelayannya.
Pelayan itu hidup sangat sederhana. Tidak memiliki istana, tidak bergelimang harta, bahkan setiap hari harus bekerja melayani sang raja. Anehnya, ia selalu terlihat bahagia. Wajahnya cerah, langkahnya ringan, dan senyumnya begitu mudah hadir.
Sang raja masih belum memahami.
Bagaimana mungkin dirinya yang memiliki hampir segalanya justru sulit bahagia, sementara pelayannya yang memiliki jauh lebih sedikit dapat menjalani hidup dengan begitu?
Akhirnya, ia memanggil menterinya yang terkenal bijaksana.
“Aku seorang raja. Hampir semua yang kuinginkan bisa kudapatkan. Tetapi mengapa aku tidak bahagia? Sedangkan pelayanku hidup jauh lebih sederhana, tetapi setiap hari ia terlihat begitu bahagia?”
Menteri itu tersenyum.
“Paduka, mungkin karena dia menikmati apa yang sudah dimilikinya. Sedangkan Paduka terlalu sering memikirkan apa yang belum Paduka miliki.”
Raja masih belum memahami.
Menteri kemudian mengusulkan sebuah cara sederhana untuk membuktikannya.
“Jika Yang Mulia ingin mengetahui jawabannya, malam ini siapkan sebuah kantong berisi tepat 99 dinar. Letakkan di depan rumah pelayan itu. Tetapi tuliskan pada kantong tersebut: ‘100 dinar untukmu.’”
Raja semakin penasaran, tetapi mengikuti saran sang menteri.
Malam itu, sebuah kantong berisi 99 dinar diletakkan di depan rumah sang pelayan dengan sebuah pesan: “100 dinar untukmu.”
Ketika menemukannya, pelayan itu hampir tidak percaya.
Seratus dinar!
Dengan wajah berbinar, ia membawa kantong itu masuk dan memanggil keluarganya.
Mereka menghitung uang tersebut bersama-sama.
Satu demi satu.
Hingga hitungan terakhir.
Sembilan puluh sembilan.
Pelayan itu terdiam.
Ia menghitung kembali.
Tetap 99.
Sekali lagi.
Masih 99.
Senyum yang beberapa saat sebelumnya memenuhi wajahnya, perlahan menghilang.
“Kurang satu!”
Ia membongkar kantong itu lagi. Mencari di bawah meja, di halaman, bahkan menyusuri jalan di depan rumahnya.
Tidak ada.
Satu dinar itu tidak pernah ditemukan; karena memang sejak awal tidak pernah ada.
Padahal beberapa saat sebelumnya, ia bahkan tidak memiliki satu pun dari 99 dinar tersebut.
Kini 99 dinar telah berada di tangannya.
Namun ia tidak lagi melihat 99 yang telah diterimanya. Seluruh pikirannya justru dikuasai oleh satu yang ia rasa hilang.
Sejak malam itu, hidupnya perlahan berubah.
Ia bekerja semakin keras untuk mendapatkan dinar ke-100. Ia mulai menghitung setiap pengeluaran, mudah marah kepada keluarganya, pulang semakin larut, dan kehilangan ketenangan yang dahulu membuatnya begitu bahagia.
Pelayan yang dahulu tidak memiliki 99 dinar tetapi merasa cukup, kini memiliki 99 dinar; namun merasa kekurangan.
Sang raja memperhatikan perubahan itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?”
Menteri menjawab,
“Dia telah masuk ke dalam Metode 99, Yang Mulia.”
“Apa itu?”
Menteri menatap sang raja, lalu menjawab perlahan,
“Keadaan ketika manusia telah memiliki begitu banyak, tetapi tidak lagi mampu menikmatinya karena seluruh perhatian dan kebahagiaannya tersandera oleh satu yang belum dimiliki.”
Raja terdiam.
Lalu sang menteri berkata hati-hati,
“Bukankah selama ini Tuanku Yang Mulia juga hidup seperti itu?”
Kalimat itu menghantam hati sang raja.
Ia mempunyai istana, tetapi memikirkan kerajaan yang lebih luas.
Ia mempunyai kekayaan, tetapi terus menginginkan lebih banyak.
Ia dikelilingi begitu banyak nikmat, tetapi matanya selalu tertuju pada apa yang belum dimilikinya.
Ternyata yang membuatnya tidak bahagia bukan karena hidup memberinya terlalu sedikit. Ia hanya terlalu sibuk menghitung yang kurang hingga lupa menikmati yang sudah ada.
Barangkali, tanpa sadar, kita pun pernah terjebak dalam Metode 99.
Kita mempunyai rumah, tetapi sibuk melihat rumah orang lain.
Mempunyai pekerjaan, tetapi terus membandingkan penghasilan.
Mempunyai keluarga, tetapi lebih mudah menghitung kekurangan mereka daripada mensyukuri kehadirannya.
Kita masih dapat berjalan, bernapas, makan, bekerja, pulang ke rumah, dan memeluk orang-orang yang kita cintai.
Semuanya terasa biasa: sampai suatu hari salah satunya tidak lagi ada.
Barulah kita mengerti bahwa hal-hal yang dahulu terasa biasa ternyata adalah nikmat luar biasa yang terlalu lama luput kita syukuri.
Bukan berarti kita tidak boleh mempunyai mimpi. Bukan pula berarti kita harus berhenti mengejar kehidupan yang lebih baik.
Kejarlah dinar ke-100. Bermimpilah lebih tinggi. Berusahalah lebih keras. Tetapi jangan jadikan satu yang belum kita miliki sebagai alasan untuk kehilangan kebahagiaan atas 99 yang telah Allah SWT titipkan.
Sebab sering kali, bukan nikmat Allah yang terlalu sedikit. Kitalah yang terlalu lama menatap yang belum diberikan hingga lupa menghitung betapa banyak yang sudah berada dalam genggaman.
Dan, itulah jebakan Metode 99 yang paling menyedihkan?
Memiliki banyak, tetapi merasa tidak mempunyai apa-apa.
Dikelilingi nikmat, tetapi menjalani hidup seolah selalu kekurangan.
Maka sebelum kembali menghitung apa yang belum kita miliki, berhentilah sejenak.
Lihatlah hidup kita sekali lagi.
Lalu tanyakan kepada hati sendiri.
Jangan-jangan selama ini aku terlalu sibuk mencari satu yang belum ada, hingga lupa bersyukur atas 99 yang sudah Allah SWT berikan?” (*)
Jakarta, 17 September 2026 (NJH)


