Dari Semarang Menjemput Masyarakat Qur’ani
Oleh Drs. Makmur, M.Ag | Pendamping Kafilah MTQ Prov. Lampung
PAGI ini saya duduk di Bandara Ahmad Yani, Semarang.
Bersama para anggota kafilah MTQ Provinsi Lampung, kami menunggu pesawat Garuda yang akan membawa kami kembali ke Lampung. Beberapa hari yang lalu kami datang ke Semarang dengan membawa harapan, semangat, dan tentu saja keinginan untuk memberikan yang terbaik. Kini kami bersiap pulang.
MTQ Nasional ke-31 telah selesai.
Tadi malam, perhelatan besar itu secara resmi ditutup oleh Menteri Agama. Panggung yang selama beberapa hari menjadi tempat berkumandangnya ayat-ayat suci Al-Qur’an perlahan akan kembali seperti biasa. Para kafilah dari berbagai provinsi mulai meninggalkan Semarang. Piala dan penghargaan dibawa oleh mereka yang meraihnya.
Kami pulang dengan bahagia. Bukan karena membawa juara, tetapi karena telah mengikuti sebuah perjalanan yang penuh makna.
Ada kebanggaan karena anak-anak kami telah berjuang. Ada rasa syukur karena seluruh rangkaian berjalan dengan baik. Ada kenangan tentang pelayanan panitia yang sangat memuaskan. Dan ada kesan yang sulit dilupakan tentang masyarakat Semarang yang ramah, sopan, terbuka, dan begitu membantu para tamu yang datang dari berbagai daerah.
Semarang telah memberikan banyak hal kepada kami.
Tetapi pagi ini, sambil menunggu pesawat, saya justru bertanya kepada diri sendiri:
Setelah MTQ usai, ke mana Al-Qur’an kita bawa?
Pertanyaan ini tiba-tiba terasa lebih penting daripada siapa yang menjadi juara.
Sebab selama berada di Semarang, kita telah menyaksikan Al-Qur’an begitu dekat dengan kehidupan.
Kita mendengarnya dilantunkan dengan suara yang indah.
Kita melihat anak-anak muda menghafalnya. Kita menyaksikan para pembina mendampingi dengan kesungguhan. Kita melihat para hakim menjalankan amanahnya, para official bekerja, panitia melayani, dan masyarakat memberikan dukungan.
Tetapi semua itu kini akan menjadi kenangan jika Al-Qur’an hanya tinggal di Semarang.
Padahal Al-Qur’an tidak boleh ditinggalkan di panggung MTQ.
Ia harus ikut pulang. Pulang bersama qari dan qariah. Pulang bersama hafiz dan hafizah. Pulang bersama para pembina dan official. Pulang bersama seluruh kafilah.
Dan lebih jauh lagi, pulang bersama kita semua untuk kemudian hadir di tengah masyarakat.
Karena tujuan akhir MTQ bukanlah panggung.
Panggung hanyalah tempat memperkenalkan keindahan interaksi manusia dengan Al-Qur’an. Tujuan akhirnya adalah kehidupan yang semakin dekat dengan petunjuk Allah.
Maka setelah Semarang, tugas kita belum selesai. Justru mungkin baru dimulai.
Kita pulang untuk menjemput masyarakat Qur’ani. Masyarakat yang Al-Qur’annya tidak hanya tersimpan di dalam mushaf, tetapi hidup dalam perilaku.
Masyarakat yang membaca Al-Qur’an dan belajar berlaku jujur.
Masyarakat yang menghafal ayat-ayat Allah dan belajar menjaga amanah.
Masyarakat yang memahami ayat tentang persaudaraan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan.
Masyarakat yang membaca ayat tentang keadilan lalu berusaha berlaku adil.
Masyarakat yang membaca ayat tentang kasih sayang lalu menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan.
Dan masyarakat yang memahami bahwa menjaga bumi, menjaga lingkungan, menjaga lisan, menjaga keluarga, menjaga persaudaraan, bahkan menjaga ruang digital dari fitnah dan kebencian, juga merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai manusia yang hidup bersama petunjuk Al-Qur’an.
Bukankah inilah makna membumikan Al-Qur’an?
Bukan sekadar membuat Al-Qur’an semakin sering terdengar, tetapi membuat nilai-nilainya semakin terlihat.
Semarang telah mempertemukan kita dengan banyak wajah Al-Qur’an.
Kini Lampung menunggu kita dengan wajah kehidupan yang sesungguhnya.
Di sanalah kita akan diuji. Bukan lagi di hadapan dewan hakim, tetapi di hadapan kehidupan.
Bukan lagi dengan mikrofon dan panggung, tetapi dengan pekerjaan dan tanggung jawab.
Bukan lagi dengan nilai angka, tetapi dengan kejujuran dan amanah. Bukan lagi dengan tepuk tangan penonton, tetapi dengan kesanggupan kita melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang melihat.
Di bandara ini saya kembali teringat perjalanan lima tulisan kita selama MTQ Nasional ke-31.
Kita memulai dari panggung MTQ. Kemudian kita melihat cahaya Al-Qur’an. Kita menatap wajah umat dan bertanya sejauh mana Al-Qur’an telah membumi. Kita merenungkan bagaimana ayat-ayat Tuhan menyapa bumi.
Dan kini, ketika seluruh kafilah bersiap pulang, pertanyaan terakhir itu datang:
Setelah MTQ usai, ke mana Al-Qur’an dibawa? Jawabannya ada pada kita.
Kalau Al-Qur’an kita bawa pulang ke rumah, rumah akan menjadi lebih teduh.
Kalau kita bawa ke sekolah dan pesantren, pendidikan akan menemukan arah.
Kalau kita bawa ke tempat kerja, amanah akan menemukan penjaganya.
Kalau kita bawa ke tengah masyarakat, persaudaraan akan menemukan kekuatannya.
Dan kalau nilai-nilainya kita bawa ke ruang kehidupan berbangsa, kejujuran, keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab akan memiliki tempat yang lebih kuat.
Maka kami meninggalkan Semarang bukan dengan tangan kosong.
Mungkin kami tidak membawa piala.
Tetapi kami membawa pengalaman. Membawa persaudaraan. Membawa kenangan tentang keramahan masyarakat Semarang. Membawa rasa syukur.
Dan yang paling penting, membawa pesan Al-Qur’an untuk kami lanjutkan di tempat kami masing-masing.
Pesawat sebentar lagi akan membawa kami meninggalkan Semarang.
Tetapi semoga cahaya Al-Qur’an tidak ikut meninggalkan kita.
Biarlah Semarang menjadi tempat kita belajar.
Lampung menjadi tempat kita mengamalkan.
Dan seluruh negeri menjadi tempat kita bersama-sama membangun masyarakat yang semakin dekat dengan Al-Qur’an.
Karena pada akhirnya, MTQ boleh selesai, tetapi tugas membumikan Al-Qur’an tidak pernah selesai.
Panggung boleh ditutup. Lampu boleh dipadamkan. Kafilah boleh pulang.
Tetapi Al-Qur’an harus terus berjalan bersama kita.
Dari Semarang menuju Lampung. Dari panggung menuju rumah. Dari lantunan menuju pengamalan. Dari musabaqah menuju kehidupan.
Setelah MTQ usai, ke mana Al-Qur’an dibawa?
Mari kita bawa pulang.
Mari kita hidupkan.
Mari kita jadikan ia cahaya dalam kehidupan.
Dan dari Semarang, kita pulang bukan hanya untuk membawa kenangan tentang MTQ.
Kita pulang untuk menjemput masyarakat Qur’ani. (*)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semarang, 20 Sept 26


