Oleh:
Ririe Aiko | Penulis dan Konten kreator


Tidak semua lomba berakhir dengan piala. Kadang, sebuah pertandingan justru mengajarkan kita bagaimana rasanya berjuang, berharap, kecewa, lalu berjuang kembali.

BEBERAPA bulan terakhir saya sangat antusias mendampingi lima anak Gen Alpha mengikuti lomba menulis resensi buku tingkat nasional. Yang membuat saya bersemangat sejak awal bukan semata-mata karena lombanya, melainkan melihat mereka mulai menemukan keberanian untuk masuk ke dunia kepenulisan.

Mereka mulai membaca lebih serius, belajar menyampaikan pendapat, menyusun argumen, lalu perlahan percaya bahwa apa yang mereka pikirkan layak dituangkan menjadi tulisan.

Dari lima peserta, tiga di antaranya berhasil masuk finalis.

Saya masih bisa mengingat mata mereka ketika kabar itu datang. Ada kegembiraan yang terpancar begitu jelas.

Tetapi perjuangan menjadi finalis masih belum cukup. Mereka harus kembali berjuang dalam tahap berikutnya, membuat video lomba.

Sebagai seseorang yang juga berprofesi sebagai konten kreator, saya tahu betul bahwa proses membuat video bukanlah hal yang mudah. Ada footage yang harus dipilih secara selektif, naskah yang perlu dipahami dan dihafalkan, hingga proses editing yang tidak sederhana. Semua itu membutuhkan waktu, tenaga, biaya, dan tentu saja kegigihan untuk terus mencoba ketika hasil belum sesuai dengan harapan.

Saya melihat sendiri bagaimana mereka mengerahkan kemampuan yang mereka punya.

Maka saya bisa memahami ketika harapan mereka ikut tumbuh semakin tinggi.

Barangkali memang begitu manusia bekerja. Ketika kita sudah memberikan sesuatu dengan sungguh-sungguh, kita selalu berharap kehidupan membalasnya dengan kesungguhan yang sama.

Sayangnya, hidup tidak selalu seadil itu.

Tidak selalu perjuangan keras berbuah hasil yang kita harapkan. Ada kalanya, setelah berupaya mati-matian, kita justru dipaksa akrab dengan sebuah kegagalan.

Sebagai orang yang lebih dewasa dari mereka, saya sudah cukup akrab dengan kekalahan. Ada banyak hal yang pernah saya perjuangkan, tetapi hasilnya ternyata tidak sesuai harapan. Sampai pada titik tertentu, saya belajar bahwa kecewa tidak selalu bisa dihindari. Yang bisa kita lakukan adalah belajar menghadapinya, agar sebuah kegagalan tidak membuat kita menyerah dan memilih berhenti.

Sampai tibalah hari pengumuman. Saya pun ikut mendampingi mereka. Satu nama disebut. Nama lain menyusul. Sampai akhirnya pengumuman selesai. Tidak ada satupun nama mereka.

Saya melihat wajah-wajah kecil itu berubah. Mereka berusaha tetap biasa saja, tetapi saya tahu ada sesuatu yang sedang mereka tahan. Rasa kecewa yang begitu besar.

Melihat hal itu, saya tidak buru-buru hadir dengan banyak nasihat. Saya memilih untuk mendengarkan. Saya membiarkan mereka berada dalam ruang emosinya masing-masing—merasakan kecewa, marah, dan sedih. Saya memberi mereka ruang untuk mengakui dan memvalidasi apa yang sedang mereka rasakan.

Setelah emosi itu mulai reda, barulah saya mulai bicara pelan-pelan.


Saya mencoba menjelaskan bahwa dalam sebuah lomba, akan selalu ada yang menang dan ada yang belum berhasil menjadi pemenang. Keputusan juri adalah bagian dari proses yang sudah melalui berbagai pertimbangan matang.

Namun, saya juga ingin mereka memahami bahwa kekalahan tidak serta-merta berarti karya yang mereka hasilkan buruk atau lebih rendah dibandingkan karya lainnya. Justru sebaliknya, saya melihat begitu banyak hal baik dari karya-karya mereka. Ada keberanian untuk menuangkan gagasan, ada proses panjang yang mereka lewati, dan ada kesungguhan yang tidak bisa diukur hanya dari sebuah piala.

Saya ingin mereka tahu bahwa tidak menjadi pemenang hari itu bukan berarti perjuangan mereka sia-sia. Masih ada banyak kesempatan di depan. Selama mereka mau terus belajar, berusaha, dan tidak berhenti mencoba.

Kalah dalam satu pertandingan, tidak lantas membuat kita gagal menjadi manusia. Karena kehidupan didepan jauh lebih luas daripada satu kompetisi.

Adik-adik Gen Alpha itu masih terdiam. Kesedihan mereka belum sepenuhnya hilang.

Lalu, tiba-tiba celetukan salah satu adik Gen Alpha mencairkan obrolan kami.

“Kak, terus gimana nasib barang-barang yang sudah aku checkout? Nggak jadi dibeli deh karena nggak menang?”

Aku pun menjawabnya dengan senyum tipis.

“Ya sudah, kita beli es krim bareng saja, yuk.”

Perlahan, kesedihan itu pun mulai mereka kemas bersama tawa.

Sore itu, kami merayakan kekalahan dengan seporsi es krim yang rasanya begitu manis dan dingin. Perlahan suap demi suap es krim itu memadamkan rasa kecewa atas sebuah kemenangan yang tertunda.

Di antara senja yang mulai beranjak dan perasaan yang masih campur aduk, saya menyematkan doa agar suatu hari nanti keberuntungan senantiasa menyertai langkah-langkah mereka di masa depan.

Dan semoga potret es krim serta gelak tawa di tengah kekalahan hari itu menjadi moment berharga yang kelak mereka ingat sebagai bagian dari perjalanan mereka. (*)




 
Top