OKI, SUMSEL -- Peristiwa tragis yang merenggut nyawa Anton (32), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Inspektorat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga. 

Anton tewas di tangan istrinya sendiri, Deka Ayu (30), pada Senin (21/9/2026). 

Di balik insiden berdarah tersebut, terungkap sebuah percakapan emosional yang seolah menjadi firasat serta isyarat kuat kepulangan almarhum untuk selama-lamanya.

Kakak kandung korban, Andre Putra (38), membeberkan bahwa ibunda mereka sebenarnya sudah merasakan firasat buruk sejak awal Agustus. 

Mengingat hubungan pasangan suami istri tersebut yang kerap diwarnai konflik, sang ibu sempat mewanti-wanti Anton agar selalu berhati-hati dan tidak menemui istrinya seorang diri. Diketahui, Deka Ayu istri Anton dikenal sebagai sosok yang temperamental dan tidak segan-segan meluapkan emosi dengan memukuli sang suami secara membabi buta.

"Ibu saya bilang 'Anton, hati-hati kalau ketemu sama Deka. Jangan sendirian, bila perlu ajak kawan untuk jadi saksi'," ungkap Andre menirukan pesan peringatan ibunya.

Namun, respons yang keluar dari mulut Anton saat itu justru menunjukkan kepasrahan yang luar biasa atas takdir dan jalan hidup yang akan dihadapinya.

"Mak, kalau memang mati di tangan Deka, nak diapoke (mau diapakan) lagi, sudah ajal," ujar Anton kepada sang ibu.

Kalimat pasrah itulah yang membuat sang ibu menangis histeris ketika mendapati kabar penikaman pada malam kejadian. 

Andre menceritakan bahwa sesaat setelah ia pulang menjemput anak-anak Anton di SP Padang, ia melihat ibundanya tak kuasa menahan tangis karena teringat pesan terakhir Anton yang menjadi kenyataan.


Beban Utang Bank dan Perlakuan Istri

Tak hanya meninggalkan ucapan yang menyayat hati, beban hidup berat yang dipikul Anton semasa hidupnya juga mulai terkuak pasca kematian korban. 

Pada Sabtu, 19 September, beberapa hari sebelum tragedi terjadi, Andre dan Anton sempat bepergian bersama menuju rumah pengacara pendamping mereka.

Di tengah perjalanan tersebut, Anton sempat merintih dan meminta bantuan finansial kepada sang kakak terkait kewajiban cicilan pinjaman.

"Adik saya ngomong 'Kak, untuk bayaran utang bank, biarlah aku minta tolong kakak yang bayar dulu, duit aku sudah menipis'," ujar Andre menahan sedih.

Terungkap bahwa Anton terpaksa mengajukan pinjaman bank menggunakan nama kakaknya demi memenuhi berbagai kebutuhan serta permintaan sang istri. 

Di mata keluarga besar, Anton dikenal sebagai sosok pria yang baik, bertanggung jawab, serta tidak pernah melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.

Dua Balita Diasuh Keluarga Anton dan Ketiadaan Empati Pelaku

Kepergian Anton meninggalkan luka memilukan, terutama bagi dua anak laki-lakinya yang masih sangat belia dan kini terpaksa kehilangan figur kedua orang tua mereka secara mendadak.

"Anak sulung korban baru berusia 4 tahun lebih dan anak bungsu baru berusia 7 bulan. Keduanya kini akan diasuh sepenuhnya oleh keluarga besar kami," ungkap Andre.

Kondisi kedua anak balita tersebut sangat memprihatinkan.

Ayah mereka telah berpulang, sementara sang ibu kini harus berhadapan dengan proses hukum di kepolisian atas tindakan penikaman yang dilakukannya.

Di sisi lain, hingga tiga hari pasca-kejadian berdarah tersebut, pihak keluarga korban mengaku belum menerima komunikasi maupun itikad baik dari keluarga pelaku.

"Tidak ada sama sekali komunikasi, konfirmasi dan itikad baik dari pihak keluarga pelaku (Deka Ayu) kepada kami," kata Andre saat ditemui di kediamannya, Rabu (23/9/2026) siang.

Saat ini, keluarga besar korban tengah menyelenggarakan tahlilan untuk mendoakan almarhum Anton, yang rencananya akan dilaksanakan hingga hari ketujuh sesuai dengan kemampuan keluarga.

#trb/bin




 
Top