Oleh Safari Hamzah


PAGI tadi saya sedang rapat dengan rumput liar. Rapatnya sangat serius. Tidak ada meja, kursi, mikrofon, notulen, apalagi konsumsi. Hanya tanah, tanaman buah, tanaman jahe, rumput liar dan saya yang mulai berkeringat. Agendanya satu: menertibkan rumput liar yang mulai berani mendekati tanaman jahe.

Rumput-rumput itu memang sudah kelewatan. Tidak mengenal batas, tidak pernah koordinasi, tumbuh seenaknya dan seolah merasa tanah itu milik sendiri. Satu per satu saya bersihkan. Tanaman buah saya tanam, tanah saya rapikan, kemudian pupuk saya taburkan.

Keringat bercucuran. Adrenalin naik. Baju mulai basah. Kalau dilihat dari jauh mungkin seperti sedang melakukan inspeksi proyek strategis. Padahal cuma mencabut rumput. Matahari pun belum benar-benar terlihat. Asap kiriman karhutla masih menggantung di langit.


Di tengah keseriusan itulah…

Telepon berdering.

Saya biarkan. Berdering lagi. Saya lihat layar. Entah mengapa, tiba-tiba hati mulai tidak tenang. Kalau dari kantor? Kalau dari pimpinan? Kalau ada masalah? Atau…

jangan-jangan dari sebelah?

Saya mendekati telepon perlahan. Rumput diam. Tanaman jahe diam. Seolah seluruh kebun ikut menunggu.

Saya angkat.

“Halo…”

“Yah…”


Saya langsung mengenali suara itu.

Anak saya.

“Ada apa?”

“Yah, sudah lupa?”

Saya mulai berpikir keras.

“Lupa apa?”

Jawabannya membuat seluruh ketegangan pagi itu runtuh seketika.


“Kata Mama, jam sembilan ini ada arisan.”

Masyaallah!

Saya terdiam. Bukan karena ada masalah. Bukan karena ada panggilan dari kantor. Bukan pula karena telepon dari sebelah.

Saya memang lupa.

“Oh iya… iya… siap.”

Telepon ditutup.

Saya menatap tanaman jahe. Lalu tersenyum.

Alhamdulillah. Aman.



Ternyata bukan telepon yang menentukan nasib jabatan. Bukan telepon yang membuat saya harus menjelaskan sesuatu. Bukan telepon yang membuat saya membuka lemari mencari pakaian dinas.

Cuma disposisi dari Mama melalui anak.

Saya kembali ke rumput liar. Tetapi kali ini saya bekerja dengan hati lebih ringan.

Pagi itu saya sadar, di rumah ternyata ada sistem birokrasi yang sangat sederhana dan sangat efektif.

Mama memberi instruksi. Anak menyampaikan. Saya melaksanakan.

Tidak perlu surat. Tidak perlu stempel. Tidak perlu tanda tangan. Dan tidak ada ruang untuk rapat koordinasi.


Kalau Mama sudah bilang jam sembilan ada arisan, maka rapat dengan rumput liar harus segera disesuaikan.

Rumput bisa dicabut nanti. Pupuk bisa ditabur lagi. Tanaman bisa dirawat kemudian. Tetapi arisan?

Itu agenda yang sudah masuk disposisi.

Dan saya bersyukur pagi itu.

Saya kira telepon dari sebelah.

Ternyata…

cuma dari anak, membawa pesan Mama.

Jadi kesimpulannya sederhana:

Alhamdulillah, belum dipecat. (*)




 
Top