Oleh Sintia Wafia Ulya | Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung
KAPAN terakhir kali kamu belajar tanpa sekali pun melirik handphone? Kalau susah jawab, kamu nggak sendirian. Ponsel kini jadi “teman setia” yang justru sering bikin fokus buyar sebelum materi sempat masuk kepala.
Kenapa notifikasi sekecil apa pun bisa mengganggu? Otak kita punya kapasitas perhatian yang terbatas. Begitu ada notifikasi entah getar, bunyi, atau layar yang menyala otak otomatis menoleh ke sana walau cuma sepersekian detik. Bahkan kalau notifikasinya nggak dibuka sama sekali, gangguan itu tetap kerasa, karena sebagian dari kita pasti penasaran seperti siapa yang chat, ada info penting nggak, dan semacamnya. Rasa penasaran kecil inilah yang bikin konsentrasi belajar jadi gampang buyar, meski cuma sesaat.
Handphone yang cuma “nongkrong” di meja aja sudah cukup mengganggu. Ini yang paling menarik untuk direnungkan terkadang HP nggak perlu berbunyi atau bergetar buat mengganggu konsentrasi. Cukup dengan keberadaannya di meja, dalam jangkauan mata, otak kita udah terbebani nih secara nggak sadar. Sebagian dari kita mungkin diam-diam menahan diri supaya nggak ngecek HP itu, dan proses menahan diri ini sendiri menyita energi dan perhatian yang harusnya bisa dipakai buat fokus belajar. Jadi kalau kamu sering ngerasa udah niat belajar tapi tetap susah konsen padahal HP nggak dipegang-pegang, bisa jadi ini sebabnya.
Dampaknya nyata ke nilai dan prestasi. Penggunaan smartphone berlebihan untuk hal non-akademik berkaitan dengan turunnya nilai, dan kombinasi media sosial dengan kebiasaan menunda tugas semakin menurunkan performa belajar. Semakin sering siswa terganggu notifikasi, semakin sulit mereka fokus dan semakin turun capaian akademik serta motivasi belajarnya.
Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Riset di SDNU Metro, Lampung di riset ini menemukan hubungan negatif dan signifikan antara penggunaan gadget dan konsentrasi belajar siswa kelas IV Nah makin sering pakai gadget, makin turun konsentrasinya. Studi di SD Muhammadiyah 1 Parepare mengonfirmasi hal yang sama tentang penggunaan gadget yang digunakan berlebihan meningkatkan distraksi dan menurunkan fokus siswa selama proses pembelajaran.
Bukan berarti gadget harus dimusuhi. Studi di Parepare tadi juga mencatat bahwa gadget yang dipakai secara terarah dan edukatif, apalagi dengan pendampingan orang tua, justru bisa mendukung belajar. Masalahnya bukan pada gadgetnya, tapi bagaimana siswa belajar mengatur diri di tengah godaan notifikasi yang terus-menerus datang.
Ini bukan sekadar soal disiplin pribadi. Kita terlalu sering menyalahkan siswa yang nggak bisa fokus tanpa melihat bahwa lingkungan belajarnya sendiri memang dirancang untuk mengalihkan perhatian. Menyuruh siswa fokus sambil HP menyala di sebelah tangan itu seperti menyuruh orang diet di depan meja prasmanan.
Solusi yang lebih realistis untuk saat ini jauhkan HP secara fisik saat belajar (bukan sekadar mode senyap), buat jadwal bebas gadget yang konsisten, dan latih kebiasaan mengatur diri sejak dini lewat kebiasaan yang dibangun bersama, baik di rumah maupun di sekolah.
Kesimpulanya, masalah ini bukan Cuma soal HP yang berisik, tapi soal bagaimana kita melatih fokus. Kita harus sadar bahwa aplikasi di gadget memang di desain buat bikin kita tidak fokus, jadi kunci utamanya ada pada komitmen kita sendiri untuk membatasi penggunaanya saat belajar. (*)


