Cerpen Fanny J Poyk


NINA mengundangku melalui WhatsApp-nya, dia hendak membuat grup WA para janda. Judul grupnya tetap sama yaitu Grup WhatsApp Para Janda. Ada sepuluh orang anggotanya, menurut Nina aku anggota yang kesepuluh. Katanya, “Sesuai nama grup, semua anggota telah menjadi janda, ada yang janda berusia empat puluh, lima puluh, hingga enam puluh tahun.

Aku sengaja tidak memasukkan janda yang berusia di bawah empat puluh tahun. Selain muda, kisah kehidupan mereka mungkin masih setengah matang, artinya penderitaan mereka belum setara seperti yang dialami para janda di atas usia empat puluh tahun itu. Sedangkan yang berusia tujuh puluh tahun juga tidak kuikutsertakan, apalagi jika mereka sakit-sakitan, nanti jika mereka membaca obrolan kita di WA, penyakit mereka bisa tambah parah lalu pergi dari bumi ini. Itu menyedihkan,” tulisnya ringan tanpa beban dan basa-basi. 

“Lalu, jangan menulis tentang politik atau menyindir kehidupan pejabat atau pengusaha, juga para politikus, mereka punya uang banyak untuk menyewa pengacara, atau nanti intel mereka akan memata-matai kita dan hidup kita semua menjadi tidak merdeka juga tak nyaman lagi, paham kan dear?” tulis Nina lagi.

“Kemudian yang usianya enam puluhan seperti aku, apa kau tahu naluri kedagingan kemanusiaanku sudah mati dan aku telah frigid?” tanyaku.

“Mungkin masih meski tak semenggebu kala usia remaja dan dewasa. Tapi kupantau kau tidak mencari pacar baru sejak suamimu meninggal. Di situ aku yakin kau mampu mematikan keinginanmu untuk pacaran lagi dan kulihat kau bertahan untuk hidup selibat,” balas Nina diselingi tawa lepasnya ketika kami menggunjingkan seseorang, khususnya mereka yang menjadi orang penting di negeri laut kaya tanah subur ini.

Hmmm…aku merasa grup WA bentukan Nina sahabatku sejak SMA ini akan mengarah ke satu titik tertentu yang berkaitan erat dengan kehidupan kami para janda ketika kami menghadapi kesepian yang paling sunyi tatkala para suami telah pergi dari dunia dengan beragam kasus juga penyakit. 

Ada keasyikkan yang terbersit di pikiranku, sebab selama lima tahun setelah suamiku Bram meninggal akibat penyakit jantung, aku menghabiskan waktu yang lumayan panjang bersama tiga cucuku tatkala ibu-ibu dan ayah-ayah mereka pergi bekerja. Diajak masuk ke grup WA para janda, ada tantangan dan gejolak yang membangkitkan naluri pergaulanku yang perlahan-lahan padam. Aku seakan memperoleh semangat hidup kembali.

Nina sang janda yang setahuku telah berganti-ganti pacar, tampaknya akan memberikan nuansa baru dengan euforia yang menggebu di grup WA buatannya. Aku juga berharap kita hanya menulis dan mengobrol ringan tentang kehidupan kita sehari-hari pada jam-jam kami tak sibuk. Aku agak enggan jika pembicaraan menyangkut hubungan atau kedekatan antara pria dan wanita, aku sudah menjadi manusia lanjut usia, rasanya tak pantas jika kami para janda membicarakan tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan, apalagi berkaitan dengan libido yang mengarah ke ranah sensualitas ragawi, aku sudah mematikan rasa tentang itu. Dan kurasa para janda anggota grup WA juga demikian, sebab menurut Nina, rata-rata mereka telah menjadi janda antara lima atau sepuluh tahun. Barangkali cuma Nina saja kurasa yang masih genit.

“Apa tujuannya kau membentuk grup WA ini, Nina?” tanyaku.

Melalui Handphone, kudengar Nina tertawa sekejap. “Begini Ariana, kita menjadi janda sudah cukup lama. Jika kita memperoleh warisan dan hidup berkecukupan dari mantan suami, banyak jebakan di sekeliling kita. Apalagi pengaruh media sosial, ada peluang kita masuk perangkap singa di sana. Jika para janda teman-teman kita bodoh dan lugu, tampilan para lelaki muda maupun tua yang mengirim sinyal cinta kepada kita, biasanya penuh dengan skenario. Mereka ada yang cuma modal mokondo saja, kau tahu apa kepanjangan dari mokondo?” Nina terkikik geli.

“Jangan sebutkan kepanjangannya, aku paham yang kau maksud. Tapi aku sudah bahagia dengan kehidupanku, merawat cucu dan menyanyi karaoke.” Jawabku.

“Aaah, kau masih terlalu lugu Ariana. Jebakan betmen itu lihai dalam mencari peluang. Meski kau janda dan sudah berjalan enam puluh tahun lebih, kau masih cantik dan bodymu tidak gendut, masih seperti anak gadis, langsing. Aku sengaja memasukkan kau di grup biar kau semakin waspada setelah membaca cerita teman-teman di sana. Kujamin kau akan senang berada di grup bentukanku.” Nina mengakhiri percakapan dan tak lama salam perkenalan terpampang di grup WhatsApp Para Janda itu.

Satu persatu para anggota grup mulai berkisah tentang kehidupan mereka. Ada kisah perjalanan kehidupan pernikahan sebelum sang suami menghembuskan nafas, ada pula kisah tentang perjuangan saat merawat suami yang sakit-sakitan sampai mereka wafat. Rekaman kisah yang tertulis, terbaca masih lumrah, seperti cerita kehidupan berumahtangga pada umumnya.

Namun setelah masuk ke dalam grup selama sebulan, aku menemukan beragam catatan yang terkadang membuat bulu romaku berdiri. Aku perempuan dengan kehidupan datar-datar saja bersama almarhum suami yang tidak meledak-ledak dan jauh dari perilaku kekerasan di dalam rumahtangga, berdebar tatkala membaca ragam tulisan tentang perilaku kemanusiaan tentang suami-suami mereka.

“Aku pernah dijual suamiku kepada seorang taipan China kaya raya, hasil penjualan tubuhku untuk membayar hutang-hutangnya di bank,” tulis seorang anggota grup WA. “Untung aku tidak terkena penyakit HIV atau raja singa alias sipilis, karena bukan pada satu lelaki kaya saja aku dijualnya, namun hampir lebih dari sepuluh lelaki, karena suamiku yang penjudi itu selalu punya banyak hutang.” Lanjutnya.

“Mengapa kau tidak melawan?” tanya seorang anggota grup.

“Melawan? Bisa-bisa aku dibuatnya mati dengan minum racun. Suamiku itu posisinya sekelas dengan bosnya mafia, dia sadis dan tak memiliki belas kasihan, dia bisa menyiksa orang tanpa terdeteksi, untung dia meninggal akibat overdosis karena narkoba yang sering digunakannya, aku terbebas dari siksaan.” tulisnya.

“Dan aku membiarkan suamiku makan makanan yang banyak mengandung gula hingga dia terkena stroke, dia menderita penyakit diabetes. Suamiku gemar berselingkuh. Akhirnya dia lumpuh akibat penyakitnya itu. Hingga meninggal, dia duduk di kursi roda. Di sana pembalasan akibat perbuatannya telah terbalaskan. Di dalam ketidakberdayaannya, ada penyesalan yang tersirat dari sorot matanya, kemudian dia terkena penyakit ginjal lalu cuci darah dan meninggal di kursi roda tanpa ada yang tahu, tubuhnya terbalut tinja dan urinenya sendiri. Aku membersihkan seluruh tubuhnya. Semua harta warisan termasuk asuransi jiwanya jatuh ke tanganku. Kurasa aku tak bersalah, sebab sejak awal pernikahan, dia sudah gemar bermain dengan beragam perempuan. Aku jijik untuk mendekatinya, menurutku selain penyakit ginjal dia meninggal akibat penyakit kotor yang bersarang di tubuhnya.” Demikian tulis seorang ibu anggota grup WA yang telah berusia lima puluh lima tahun, dia masih cantik dan terlihat muda.

“Apakah ada keinginanmu untuk menikah lagi?” tanya seorang anggota grup.

“Tidak. Untuk apa aku menikah lagi, tokh harta peninggalan suamiku banyak, dua anakku sudah mandiri. Jika aku punya suami baru, nanti aku harus mengurus makanannya, pakaiannya, mengurutnya jika dia sakit dan pegal-pegal. Huh, cari penyakit namanya.” Jawabnya.

“Dan kau, adakah keinginanmu untuk menikah lagi, Ariana?” tanya Nina padaku.

“Haha, tidak. Beberapa waktu lalu di sebuah media sosial, ada seorang lelaki bule memintaku menjadi istrinya. Dia tampan, mirip seorang bintang film asal Amerika yang terkenal itu. Aku menolaknya. Ketika kutelusuri rekam jejak kehidupannya, dia pernah dipenjara puluhan tahun karena menyiksa istrinya hingga tewas. Hiiii…aku ngeri, aku takut nanti bisa-bisa aku dilenyapkan olehnya. Menyeramkan. Sejak itu, imajinasiku tentang lelaki yang menyukaiku selalu jauh dari pemikiran positif,” sahutku.

“Dan aku memiliki pengalaman seperti di film-film cerita kriminal sebelum suamiku meninggal dunia karena dibully secara psikologis oleh adiknya sendiri akibat perebutan harta warisan. Suamiku yang pencemburu itu, menyiksaku gara-gara aku baik dan sering memberikan makanan pada tukang kebun di rumah kami. Dia tiba-tiba datang membawa senjata tajam hendak menghabisi kami berdua. Wah, aku menjerit sekuat-kuatnya, berteriak minta tolong. Para tetangga datang membantu, dan suamiku tak menyangka aku memanggil polisi lalu mengadukan perilakunya, beruntung ada yang merekam kejadian itu. Suamiku lalu dihukum penjara selama lima tahun. Sebelum masa hukumannya berakhir, dia meninggal di tahanan akibat penyakit TBC. Sejak itu aku terbebas dari perilaku biadad lelaki yang menjadi ayah empat anakku itu,” tutur seorang janda yang telah berusia enam puluh lima tahun.

Aku menatap WA yang tertulis di Handphoneku bersama pikiran yang mereabah ke segala arah. Seenarnya aku ingin membaca tulisan yang menenangkan jiwa, seperti kehidupan bersama suamiku yang baik hati, sabar dan pengasih. Aku menunggu WA yang tidak membuat darah tinggi di kepalaku naik.

“Suamiku meninggal karena sakit hati ketika dia tahu anak ketigaku bukan hasil hubunganku dengannya, tetapi dengan adiknya. Ya, dulu sebelum menikah dengan suamiku, aku pernah berpacaran dengan adiknya, dia cinta pertamaku. Setelah menikah dengan abangnya, kami diam-diam masih menjalin hubungan. Suatu hari ketika suamiku pergi bekerja, aku dan adiknya melakukan hubungan terlarang yang kupikir dia tidak akan tahu. Tapi ternyata, suamiku memasang kamera pengawas di kamar kami. Setiap aku berdekatan dengan adiknya, peristiwa itu terekam dengan baik. Suamiku memilih diam, dia tidak mau memperbesar masalah meski dia tahu kejadian itu. Hingga aku hamil dan melahirkan anak yang ketiga, dia tahu semuanya. Dia sakit hati, tapi dia tidak mau membongkar semua peristiwa yang telah dia pantau tersebut. Hingga akhirnya, dia meninggalkan dunia ini dalam tidurnya, mungkin rasa sakit hatinya itu dipendamnya sudah lama. Aku merasa bersalah karenanya. Hingga sekarang aku tidak mau menikah lagi, termasuk dengan adik suamiku yang pernah menjadi pacarku.” Tulis seorang janda berwajah cantik berusia lima puluh dua tahun. Hmm…kisahnya seperti di film-film China atau Korea yang kerap kutonton melalui layar Hp-ku, pikirku.

Kemudian malam itu, aku tidak mau melanjutkan membaca kisah yang tertulis di grup WA besutan temanku Nina. Ketika aku hendak menghentikan chattingan yang sudah selesai kubaca, tiba-tiba chat terakhir muncul lagi, kali ini kisahnya agak umum namun cukup luar biasa.


Tulisannya demikian, “Para sahabat WA, aku memergoki suamiku yang terlibat korupsi sepuluh trilyun dan menyembunyikan 100 batangan emas, di rumah wanita simpanannya yang ke sepuluh. Aku geram, aku membawa pistol kaliber empat lima dengan peluru berukuran 5,56 milimeter atau 5.56 mm milik suamiku. Suamiku pejabat penting negara jadi dia berhak memiliki senjata untuk keselamatan dirinya. Aku mengancamnya dengan senjata itu, suamiku shock dan tidak percaya akan apa yang telah kulakukan, dia stress dan jiwanya terganggu, akhirnya aku membawanya ke rumah sakit jiwa, di sana dia berteriak-teriak ketakutan hingga akhirnya meninggal dalam keadaan koma. Mungkin dia setres karena jika dia sadar dia akan masuk penjara dengan tuduhan koruptor kelas kakap. Kala itu aku ceritakan semuanya pada hakim yang mengadiliku, aku dituduh menikmati hasil korupsi suamiku. Semua hasil korupsi itu kuberi tahu pada penyidik, juga di mana saja benda-benda itu disembunyikanny. Itu mungkin yang membuatnya koma. Sekarang aku sudah bebas dari segala tuduhan dan tekanan keserakahan, perselingkuhan serta jahatnya sifat manusia yang ada di diri suamiku. Aku menjadi manusia merdeka, hidup tanpa beban bersama anak-anak dan cucu-cucuku.”

Kubaca tulisan itu. Aku kemudian mengurungkan menulis ‘clear chat’ sebab, aku masih menunggu WA apa lagi yang akan ditulis di grup WhatsApp Para Janda ini. Aku menunggu ada chattingan yang manis dan berakhir bahagia tidak seseram seperti tulisan teman-teman baru para janda itu.

Hidup memang tidak selalu sesempurna yang kita angankan. Absurditas kehidupan terjadi di beragam polarisasi dari beragam kisah tentang keberadaan manusia di muka bumi ini. Aku sadar bahwa rasa bahagia itu relatif, tinggal kita saja yang mampu memaknai ke mana arah kehidupan itu akan mencapai sebuah akhir dengan tanya yang selalu ada di benak, apakah kita akan berada di posisi yang aman dan nyaman, atau malah sebaliknya.

Nampaknya hukum tabur tuai serta karma yang akan diperoleh itu berpengaruh kuat pada perilaku serta jalan hidup yang dipilih. Dan pilihan untuk menjadi baik, jahat atau berada di antara keduanya, semua ada di diri kita sendiri. Grup WhatsApp Para Janda telah bercerita tentang ragam dari kompilasi kehidupan itu. (Tamat)


Biodata Fanny J Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathans Poyk, nama pena Fanny J.Poyk, Menulis berbagai cerpen, puisi dan novelette di berbagai koran dan majalah di Ibu Kota, daerah dan luar negeri. Menulis puluhan novel dan beberapa buku motivasi yang sudah diterbitkan. Menulis puisi yang sudah diterbitkan berjudul Gemuruh Rasa. 

Puisi Fanny pernah dimuat di harian Sinar Harapan dan cerpen-cerpen serta novelettenya pernah dimuat di Majalah Sarinah, Famili, Kartini, Puteri Indonesia, suratkabar Jurnal nasional, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Suara Karya, Bali Post, Timor Expres, Kompas, Kompas.id, Jawa Pos, Dalang Publishing (Amerika), Daily Ekspres (Malaysia), satu cerpennya pernah terplih sebagai 20 cerpen terbaik versi koran Kompas.




Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top