PALEMBANG -- Di balik peristiwa berdarah istri menusuk suami hingga tewas di OKI, terdapat dugaan tekanan mental yang intens.

Menurut penilaian psikolog Syarkoni, M.Psi., tindak kekerasan ekstrem tersebut bisa menjadi puncak dari tumpukan persoalan psikologis yang tak lagi tertampung.

Syarkoni menyenbut  sejumlah persoalan yang bisa menjadi beban pikiran tersebut antara lain masalah perceraian, kondisi perekonomian, hingga kondisi anak yang sedang sakit.

Ia mengatakan, tekanan yang terus menumpuk dapat membuat seseorang mengalami stres dan kesulitan mengendalikan emosi serta pikirannya.

Namun, ia menegaskan bahwa penyebab pasti tindakan tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan fakta dan hasil pemeriksaan yang dilakukan pihak berwenang.

Selain tekanan psikologis, Syarkoni juga menyebut kemungkinan tindakan penusukan tersebut terjadi dalam konteks upaya membela diri.

Sebab, ada kemungkinan saat menemui suaminya untuk mencari solusi biaya berobat anak yang sakit, ia justru bukan mendapat solusi, melainkan diancam atau hal lainnya di luar yang diharapkan.

Menurutnya, kemungkinan tersebut perlu didalami, terutama apabila sebelumnya terjadi pertikaian atau kekerasan dalam rumah tangga.

“Bisa jadi juga kemungkinan disebabkan oleh aksi membela diri yang dilakukan. Diduga untuk membela diri dan sebenarnya bukan untuk menusuk, namun berakhir dengan meninggalnya korban,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Syarkoni menjelaskan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak hanya dapat berbentuk kekerasan fisik. Kekerasan juga dapat berupa verbal maupun psikis, termasuk ucapan.

Selama ini, KDRT kerap diartikan sebagai kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri karena adanya perbedaan kondisi fisik, di mana suami lebih kuat secara fisik dibandingkan perempuan.


Namun, menurut Syarkoni, kekerasan dalam rumah tangga juga dapat dialami laki-laki atau dilakukan oleh istri terhadap suami.

Ia menilai tekanan akibat persoalan rumah tangga yang tidak terselesaikan dapat menumpuk dan pada kondisi tertentu memicu ledakan emosi.

Dalam kasus tersebut, menurut Syarkoni, persoalan perceraian, kondisi anak yang sakit, serta kemungkinan adanya konflik komunikasi antara suami dan istri dapat menjadi bagian dari situasi yang perlu ditelusuri.

Terlebih apabila salah satu pihak merasa tidak mendapatkan pemahaman atau dukungan dalam menghadapi persoalan keluarga.

Syarkoni menekankan bahwa konflik dalam kehidupan rumah tangga pada dasarnya dapat terjadi. Namun, setiap persoalan seharusnya dihadapi dengan kepala dingin dan mengutamakan penyelesaian masalah.

Jika perceraian menjadi jalan terakhir, ia menyarankan agar kedua pihak menyelesaikannya secara damai dan menerima keputusan tersebut dengan lapang dada.

"Jika komunikasi buntu dan bercerai menjadi solusi terakhir, maka kondisi anak harus tetap jadi perhatian penting kedua orang tua meski sudah cerai. Jangan sampai anak kehilangan kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan karena tetap menjadi tanggung jawab kedua orang tua," katanya.

Syarkoni juga menekankan pentingnya komunikasi dalam keluarga untuk mencegah konflik berkembang menjadi tindakan yang tidak diinginkan.

Persoalan ekonomi, menurutnya, juga dapat menjadi salah satu faktor yang memicu pertikaian apabila tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, setiap persoalan rumah tangga sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi, dengan tetap mengedepankan ketenangan dan mencari solusi yang dapat diterima kedua belah pihak.

#abd/nov





 
Top