Rosadi Jamani
KITA lanjutkan cerita goblok. Prabowo membantah, ucapan goblok itu sudah dipelintir. Oke. Kemudian, kisah lain soal sidak ombudsman. Videonya viral memperlihatkan kamar lapas mewah. Lalu, semua dibantah, itu kamar pegawai. Begitu dikunjungi menteri, semua kosong. Kali ini rakyat, termasuk ente wak, dipaksa percaya dua kejadian itu. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Saat HUT PAN, Presiden Prabowo Subianto dengan tenang mengucapkan kalimat kemudian menjadi viral. “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok.” Kalimat itu dilontarkan 18 September 2026 di hadapan kader yang bersorak, seolah-olah kepakaran adalah penyakit menular harus dihindari.
Kemudian, pada Kamis, 24 September 2026, Prabowo bertemu 22 pakar di Istana untuk membahas kebakaran hutan. Sang Presiden tiba-tiba mengubah nada. “Saya paling hormat sama pakar,” sambil menambahkan, ucapannya kerap “dipelintir” oleh pihak-pihak suka memutar-balikkan makna. Saking hormatnya, beliau mengaku selalu mencari pakar sejak zaman menjadi perwira.
Rakyat diminta percaya bahwa “goblok” itu sebenarnya bentuk kasih sayang intelektual. Klarifikasi datang setelah badai kritik adalah bukti ketulusan, bukan sekadar manajemen krisis. Oke, apakah kalian percaya?
Sementara di tempat lain, Ombudsman Republik Indonesia pada 23 September 2026 merekam dengan kamera jelas dan vulgar bagaimana di dalam Lapas Kelas IIA Cibinong berdiri deretan bangunan mirip villa dan cluster. Di dalamnya ada sofa empuk, AC, televisi 50 inci, kulkas dua pintu berisi minuman beralkohol, dapur lengkap, gym. Bahkan, ada proyek simulator golf yang sedang dibangun. Ada juga dua mobil mewah terparkir santai. Beberapa warga binaan sempat terlihat, salah satunya mengaku “bayar” untuk menempati.
Video itu beredar, bukti visual sulit dibantah. Namun pihak lapas segera membantah. Itu hanya rumah dinas pegawai dan sarana asimilasi yang sah, lengkap dengan SK resmi. Dua hari kemudian, 25 September, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto datang bersama Bappisus. Ajaibnya, beberapa rumah sebelumnya penuh perabot mewah kini terlihat kosong, AC dicopot dengan alasan “rusak”, dan suasana seolah-olah tidak pernah ada kemewahan.
Menko Yusril Ihza Mahendra pun turut bersuara, meminta semua pihak terbuka. “Jangan ada dusta di antara kita, tapi jangan pula ada fitnah.” Beliau mempersilakan media datang mengecek, sekaligus mengingatkan Ombudsman agar siap memberi klarifikasi jika ternyata salah persepsi.
Di sinilah keajaiban terbesar terjadi. Rakyat diminta percaya, video Ombudsman yang begitu detail hanyalah “salah persepsi”. Perabot mewah bisa menguap dalam semalam seperti sulap. Kata “goblok” bisa berubah menjadi “hormat” tanpa ada perlu meminta maaf. Segala penolakan akses serta penghalangan petugas hanyalah kesalahpahaman administratif biasa.
Saking canggihnya sistem, bukti visual dianggap kurang kuat dibanding pernyataan resmi. Klarifikasi yang datang setelah fakta terbongkar dianggap lebih sakral dari rekaman itu sendiri. Seolah-olah ada tangan tak terlihat mengatur agar setiap skandal selalu berakhir dengan versi resmi harus diterima. Sementara pertanyaan menggelitik hanya boleh beredar di pojok-pojok media sosial sebelum dilupakan.
Kali ini rakyat benar-benar dipaksa untuk percaya. Percaya, pemimpin yang memanggil pakar “goblok” sebenarnya sangat menghormati mereka. Percaya, kamar mewah dengan minuman keras di dalam lapas hanyalah rumah dinas kebetulan kosong saat pejabat datang. Percaya, investigasi akan berjalan adil meski pola “video dulu, kosong belakangan” sudah menjadi tradisi. Percaya, “jangan ada dusta” dan “jangan ada fitnah” adalah dua sisi yang sama-sama melindungi kebenaran, bukan melindungi kekuasaan.
Jika masih ada meragukan, tentu saja mereka terlalu pintar hingga menjadi goblok sendiri. Karena di negeri ini, bukti boleh ada, video boleh viral, tapi versi resmi tetap harus menang. Rakyat, seperti ente yang lagi seruput kopi, seperti biasa, hanya perlu mengangguk.
“Saya percaya, Bang. Dari pada benjol.” Ups (*)
#camanewak

