Satrio Arismunandar | Dewan Pakar SCSC (South China Sea Council)


Vincent Bevins. The Jakarta Method: Washington’s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World. New York: Public Affairs, 2021.


// The Jakarta Method adalah karya sejarah politik oleh jurnalis Amerika Vincent Bevins yang mengurai kisah gelap keterlibatan Amerika Serikat dalam kampanye anti-komunis global sejak Perang Dunia II hingga era pascakolonial.

Judul buku ini merujuk pada pembantaian massal di Indonesia pada 1965–66, ketika militer Indonesia, dengan dukungan dan pembinaan dari badan intelijen AS, membantai hingga sekitar satu juta orang yang dituduh komunis atau bersimpati kepada kiri politik. Peristiwa ini menghancurkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan membuka jalan bagi rezim otoriter Soeharto.

Tragedi tersebut kemudian menjadi model yang diikuti di banyak tempat lain di dunia—di antaranya Brasil, Chile, Guatemala, dan sejumlah negara lain di Asia dan Amerika Latin—untuk mematikan gerakan kiri dan reformis atas nama perang melawan komunisme.

Bevins menunjukkan bahwa kekerasan politik ini bukan sekadar efek samping Perang Dingin, tetapi bagian terintegrasi dari strategi geopolitik AS: menghapus oposisi kiri, dukungan terhadap pemerintahan pro-Amerika, dan membentuk sistem global yang mengutamakan kepentingan kapitalisme neoliberal.

Ia menyusun buku ini berdasarkan dokumen yang baru dinyatakan publik, wawancara saksi mata, dan arsip yang tersebar di berbagai negara, sehingga memetakan sebuah pola kekerasan yang terhubung secara internasional dan berdampak jangka panjang pada banyak masyarakat.

Operasi Intelijen

Bevins mengajak pembaca memandang Perang Dingin bukan hanya sebagai duel ideologi antara AS dan Uni Soviet, tetapi juga sebagai perang pengaruh yang dilakukan melalui agen lokal, komplotan militer, dan kekerasan struktural.

Ia menyoroti bahwa kekuasaan negara besar sering menggunakan narasi anti-komunis sebagai justifikasi untuk melakukan penghilangan paksa, pembantaian, dan pemberangusan demokrasi lokal—bukan hanya melalui perang langsung, tetapi melalui dukungan kepada rezim otoriter, pelatihan militer, dan operasi intelijen yang tidak transparan.

Buku ini juga menyingkap bagaimana model kekerasan yang lahir di Indonesia pada pertengahan 1960-an (“Jakarta Method”) menginspirasi atau setidaknya menjadi rujukan bagi kekerasan politik yang dipraktikkan di berbagai negara lain—termasuk di beberapa negara Amerika Latin melalui operasi semacam Operation Condor.

Di tempat lain, praktek ini menandai bagaimana oposisi politik di banyak negara Dunia Ketiga pada periode tersebut bukan hanya direm melalui tekanan diplomatik atau ekonomi, tetapi melalui taktik represif yang brutal.

Pola Intervensi AS di Era Kontemporer

Meskipun The Jakarta Method membahas peristiwa yang dominan berada dalam kerangka Perang Dingin, narasi dasar yang diangkat Bevins memiliki relevansi kuat terhadap pola intervensi Amerika Serikat di dunia kontemporer, termasuk di negara-negara seperti Venezuela, Iran, Irak, dan Afghanistan.

Kasus Venezuela

Intervensi politik dan ekonomi AS di Venezuela sering dikritik sebagai upaya untuk melemahkan pengaruh pemerintah kiri yang berkuasa.

Sementara buku Bevins tidak membahas Venezuela secara langsung dalam konteks Perang Dingin, logikanya mirip: dominasi ideologis dan ekonomi besar dunia sering menciptakan tekanan struktural terhadap pemerintahan yang dianggap menentang kepentingan AS.

Pola ini bukan berupa pembantaian massal, tetapi bisa mencakup sanksi ekonomi berat, blokade finansial, dan dukungan terhadap oposisi yang terkadang memicu konflik dalam negeri — sebuah versi soft intervention yang menekan struktur pemerintahan dan ekonomi lokal demi mematahkan pengaruh lawan politik.

Kasus Iran

Iran adalah contoh lain di mana dominasi geostrategis AS terlihat melalui perang ekonomi, sanksi, dan intervensi politik selama puluhan tahun setelah revolusi Islam 1979, yang menjatuhan rezim pro-AS pimpinan Shah Reza Pahlavi.

Ketegangan berkelanjutan antara Washington dan Teheran memicu konflik berkepanjangan, termasuk upaya untuk melemahkan pemerintahan melalui blokade ekonomi, operasi intelijen, dan dukungan terhadap kelompok oposisi di luar negeri.

Meskipun tidak selalu berbentuk pembantaian massal seperti Indonesia 1965, pola pendekatan menggunakan tekanan untuk melemahkan oposisi politik atau ekonomi yang dianggap anti-AS tetap menunjukkan kesinambungan logika intervensi yang dibahas Bevins.

Kasus Irak

Kasus Irak juga relevan: invasi AS pada 2003, dan dukungan terhadap rezim tertentu selama dan setelahnya menunjukkan bahwa intervensi militer besar skala penuh serta pembentukan pemerintahan yang pro-Amerika sering kali berakibat pada kekerasan struktural, fragmentasi politik, dan rekayasa ulang sistem sosial — meskipun bukan dalam bentuk pembantaian ideologis seperti dalam Jakarta Method.

Namun penggunaan kekuatan besar untuk menghapus rezim pimpinan Saddam Hussein yang dianggap berbahaya bagi dominasi Amerika jelas mencerminkan pola penghilangan struktural oposisi politik dan ekonomi.

Kasus Afghanistan

Di Afghanistan, intervensi AS pasca-11 September 2001 memperpanjang dominasi militer kedalam dekade berikutnya dan menyumbang pada kekacauan internal yang berkepanjangan.

Di sini, lagi-lagi, intervensi AS tidak hanya di medan perang, tetapi juga melalui dukungan terhadap kelompok tertentu, pembentukan rezim baru, dan tekanan institusional yang akhirnya berkontribusi pada disintegrasi sosial.

Ini menunjukkan bahwa, terlepas dari konteks ideologis tertentu (anti-komunisme pada masa Perang Dingin vs anti-terorisme pasca-2001), intervensi AS sering menggunakan instrumen kekuasaan yang agresif dan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Pola Intervensi dan Struktur Kekuasaan

Apa yang Bevins tunjukkan adalah bahwa pola intervensi AS memiliki “logika struktural” yang berulang: penggunaan kekuatan politik-ekonomi, dukungan terhadap aktor lokal atau rezim pro-Washington, operasi intelijen covert atau overt, peminggiran, pelemahan, bahkan penghilangan lawan politik.

Dalam buku ini, pola itu diekspresikan dalam bentuk paling brutal yang diakui sejarah—pembantaian massal di Indonesia dan negara lain semasa Perang Dingin.

Namun, pola dasar mendominasi sistem politik negara lain demi membentuk tatanan dunia yang menguntungkan kepentingan negara kuat tampak berulang dalam banyak kebijakan luar negeri AS hingga hari ini.

Dengan demikian, The Jakarta Method bukan hanya kisah masa lalu, tetapi kunci untuk memahami bagaimana intervensi besar kekuatan global membentuk realitas politik di berbagai negara, serta mengapa dampaknya sering terus terasa dari Latin America hingga Timur Tengah dan Asia. (*)



Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top