Kesempatan itu datang ketika ia terpilih menjadi delegasi sekolah dalam ajang Asia World Model United Nations (AWMUN) XII Tahun 2025 di Bali. Forum bergengsi yang mempertemukan ratusan pemuda dari berbagai negara itu menuntut para peserta untuk berpikir kritis, berdiplomasi, dan—yang paling menegangkan—berbicara di depan publik menggunakan bahasa Inggris.
Bagi Aldwindra, tantangan tersebut sempat terasa berat. Ia mengakui, kemampuan bahasa Inggrisnya membuatnya ragu untuk tampil maksimal. Namun, status sebagai delegasi resmi justru menjadi titik balik yang mengubah keraguan menjadi keberanian.
“Awalnya saya merasa insecure dengan bahasa Inggris saya, apalagi harus berdebat dengan delegasi internasional yang sangat fasih,” tuturnya. “Tapi ketika saya sudah berdiri di podium dan memegang mikrofon, rasa takut itu pelan-pelan hilang,” ia menambahkan.
Di momen itulah Aldwindra menemukan pelajaran terpenting dalam perjalanannya. Bukan soal siapa yang paling lancar berbicara, melainkan siapa yang berani mencoba. Dari podium itu pula, ia menyadari bahwa suaranya memiliki nilai dan pantas didengar di panggung dunia.
Pengalaman di AWMUN tidak hanya mengasah kemampuan akademik Aldwindra, tetapi juga membentuk mentalitas baru dalam dirinya. Ia belajar menyusun position paper, melobi, dan bernegosiasi—keterampilan yang jarang didapatkan di ruang kelas konvensional. Lebih dari itu, ia belajar mengendalikan rasa gugup dan mengubahnya menjadi energi positif.Perubahan yang dialami Aldwindra mendapat perhatian dari pihak sekolah. Kepala SMA Islam Al Azhar 19 Ciracas, Tati Ferawati, M.Pd., menilai keikutsertaan siswa dalam forum internasional merupakan bagian penting dari pendidikan karakter.
“Keberanian Aldwindra dan rekan-rekannya untuk tampil di forum global menunjukkan bahwa anak-anak kita mampu berkembang ketika diberi ruang dan kepercayaan,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman langsung seperti AWMUN adalah guru terbaik dalam membentuk kepercayaan diri dan kepemimpinan siswa.
Kini, sepulang dari Bali, Aldwindra membawa pulang lebih dari sekadar sertifikat. Ia membawa mental juara—kepercayaan diri untuk berbicara, keberanian untuk mencoba, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk diam.
Di usianya yang masih belia, Aldwindra telah membuktikan satu hal sederhana namun penting: panggung dunia tidak hanya milik mereka yang paling fasih, tetapi juga milik mereka yang berani melangkah ke depan dan menyuarakan gagasan. (*)


