Ririe Aiko | Kreator Puisi Esai
// Puisi esai ini diangkat dari peristiwa kekerasan dalam keluarga yang terjadi di Medan, Sumatera Utara, pada awal Desember 2025, ketika seorang anak yang masih di bawah umur terlibat dalam tindak pidana berat terhadap ibu kandungnya sendiri. (1)
—000—
Ia lahir dengan tangan kosong,
dan mata yang suci.
Tak ada bayi yang lahir
sambil menyembunyikan pisau di balik tangisnya.
Tak satu pun balita
bermimpi menjadi kriminal
di sela doa tidurnya.
Namun rumah
perlahan berubah menjadi
ruang yang menanam luka.
Ia belajar pertama kali
tentang tubuh lebam membiru
bukan dari jalanan,
melainkan dari dalam,
suara bentakan yang berulang,
dari piring yang dilemparkan
sebagai bahasa marah,
dari tangan yang seharusnya mengusap
namun berubah menjadi ancaman.
Pengasuhan tak selalu berniat melukai,
namun luka tumbuh
dari kebiasaan yang dibiarkan.
Rasa sakit dipelajari sebagai patuh,
tanpa ruang bertanya. (2)
Ani adalah anak itu, (3)
yang tumbuh dengan tubuh
penuh bekas luka.
Pikirannya riuh,
emosi terus memantik,
menunggu percikan
untuk meledak.
Setiap pukulan, setiap bentakan,
adalah cerita yang tertulis di tubuhnya,
menjadi sejarah yang menjerumuskannya
ke dalam tangan yang berdarah.
Emosi yang ia simpan terlalu lama,
luka yang tak pernah menemukan bahasa,
membakar akal dan hatinya.
Maka ketika tangan ibu lagi-lagi
menjadi ancaman yang tak bisa dihindari,
anak itu membabi buta,
Tak lagi menjadi manusia.
Ia memilih durhaka
Iebih dari seorang Malin Kundang.
—000—
Tangan kecil itu berdiri di ruang interogasi,
mata yang dulu bening kini menatap dingin,
amarah menggumpal tanpa tempat pulang
Di bawah lampu redup yang bisu.
Ia meledak,
tak memberi ampun,
walau langit dan seisi bumi
mengutuknya.
“Kriminal.”
“Durhaka.”
Kata-kata mencaci,
menghujam dari segala arah.
Tak seorang pun merengkuh pelaku,
karena kejahatan tak bisa dibenarkan.
Namun siapa yang menilik
retakan masa kecil
yang terlalu lama dibiarkan mengeras,
menjadi batu-batu dingin di relung jiwa?
Siapa yang mau menatap
air mata di balik tawa dan lelucon dunia?
Mengapa ia harus terbiasa menerima
perlakuan semena-mena,
dari rahim yang pernah mengandungnya?
—000—
Di malam-malam yang sepi,
Ani menangis sendiri,
dadanya terasa sakit dan pedih,
memanggil nama yang seharusnya menenangkan:
“Mama… Mama… Mama…”
Namun yang datang hanya gema kosong.
Suara itu ia rindukan
setelah ia hilangkan.
Tak ada yang benar-benar berubah,
kecuali jiwa yang tergelincir
ke dalam trauma seumur hidup.
Kenangan manis dan pahit
berdiam dalam satu ingatan.
Yang tersisa bukan lagi emosi,
melainkan benci
pada dunia yang mengajarkannya amarah.
—000—
Di balik headline yang dingin,
tersimpan kebenaran pahit
yang jarang kita sentuh:
kekerasan tak pernah melahirkan pengasuhan.
Suara kecil itu manusia,
dan luka mereka bisa menetap lama.
Jambak, pukul, bentak
semua demi kepatuhan yang dipaksakan.
Tak pernah ada telinga yang cukup sabar
mendengar tangis tanpa syarat.
Tak pernah ada pelukan
yang datang tanpa ancaman atau hukuman.
Anak yang tidak dibesarkan oleh cinta
akan tumbuh penuh dengan kebencian.
Ia belajar membangun tembok di dada,
menyembunyikan rindu di balik kemarahan,
mengubah ketakutan menjadi senjata,
hingga ia tak mampu lagi
mengarsipkan amarahnya. (4)

