Penulis: Azrimaidaliza
- Guru Besar Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas
PROMOSI makanan bergizi dan sehat memiliki peran krusial dalam meningkatkan gizi dan kesehatan keluarga. Pengetahuan atau pemahaman orang tua yang baik terutama ibu, dapat memotivasi anggota keluarga untuk mengonsumsi makanan sehat, seperti sayur dan buah, serta memastikan ketersediaannya di rumah. Hal ini dapat mencegah masalah gizi dan kesehatan seperti permasalahan gizi kurang, gizi lebih dan penyakit tidak menular lainnya khususnya bagi kelompok rentan gizi seperti balita dan ibu hamil.
Kegiatan promosi berupa edukasi gizi sudah dilaksanakan namun masih belum optimal dalam mengatasi permasalahan gizi. Berbagai studi sudah membuktikan permasalahan gizi pada balita disebabkan oleh banyak faktor dan sangat kompleks. Sehingga dalam upaya mengatasinya selain berupa program pemberian makanan tambahan bagi balita gizi kurang atau buruk perlu disertakan dengan pemberian edukasi gizi, tidak hanya melakukan edukasi pada kelompok ibu namun akan lebih efektif apabila juga dilakukan secara personal seperti komunikasi antar pribadi.
Melalui pendekatan komunikasi antar pribadi, permasalahan gizi yang dirasakan dan dihadapi oleh ibu balita dapat dicarikan solusinya dan adanya peningkatan pemahaman ibu mengenai konsumsi makanan yang bergizi dan sehat bagi keluarga kemudian adanya penerapan perilaku gizi yang baik.
Secara teori, komunikasi antar pribadi berupa interaksi secara langsung dan adanya persuasi kepada individu dengan menekankan pada keterbukaan, empati, dukungan, dan pemahaman yang mendalam sehingga terbangun kepercayaan dan komitmen untuk menjalankan pola makan bergizi dan sehat.
Melalui kegiatan pengabdian yang dilaksanakan pada akhir tahun 2025 berupa penyuluhan secara langsung kepada ibu yang tinggal di Wilayah Kerja Puskesmas Dadok Tunggul Hitam, Padang dengan pendekatan komunikasi antar pribadi diketahui dapat meningkatkan pemahaman ibu balita. Kegiatan langsung dari rumah ke rumah yang berfokus pada ibu yang memiliki balita dengan permasalahan pertumbuhan dan perkembangan balita.
Target kegiatan edukasi ini diperoleh dari hasil penelitian dan dilanjutkan dengan kegiatan pengabdian. Komunikasi secara individu dan pemberian edukasi diawali dengan penilaian antropometri balita melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan menggunakan timbangan dan microtoise. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gizi balita dan harapannya dengan adanya penilaian antropometri pada balita dapat mengoptimalkan proses komunikasi antar pribadi serta memberikan rekomendasi pada saat diskusi dengan ibu balita.
Penulis dan tim kegiatan pengabdian juga melakukan kegiatan edukasi pada saat kegiatan Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Dadok Tunggul Hitam. Media edukasi berupa leaflet digunakan untuk membantu ibu balita memahami materi yang disampaikan.
Ke depan, kerjasama dengan institusi kesehatan perlu terus dilaksanakan dan diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran mahasiswa di luar kelas sehingga diharapkan turut membantu dalam mengatasi permasalahan gizi pada balita.
(***)


