Catatan Satir Yusrizal Karana | Penulis

- Sekretaris Satupena Lampung


// Presiden Rusia Vladimir Putin memiliki satu kebiasaan yang sulit ia ditinggalkan. Ia selalu menutup sambutan atau pidato dengan teriakan keras “Ura…!”. Ini bukan suara orang sedang kesandung kabel mic, juga bukan salah ketik. Teriakan “Ura!” adalah sebuah seruan kemenangan semacam “hore” versi negara beruang merah. Kesannya memang cukup heroik, apalagi harus diucapkan dengan dada sedikit dibusungkan, karena bayangan sejarah perang dunia juga seakan turut berdiri tegak mengiringinya.

Menurut catatan di berbagai media, setiap Victory Day, Putin seolah punya template tetap. Tinggal ganti jas setiap tahun bertukar, dan selebihnya sama: Congratulations! Happy Great Victory Day! Lalu berteriak dengan lantang “Uraaa!”

“Ura” secara harfiah, adalah teriakan atau sorak-sorai keberhasilan dari sebuah kemenangan. Pada perang dunia, teriakkan ini selalu bergema dari tentara Merah Uni Soviet ketika menyerbu musuh. Tujuannya sederhana saja, yaitu memberi motivasi kepada dirinya sendiri sambil meyakinkan bahwa lawan mereka segera bertekuk lutut.

Nah, entah bagaimana ceritanya, apakah melalui jalur Google Translate atau pendekatan budaya, setelah membaca buku tengah malam jumat kliwon, kata ini kemudian tiba di Indonesia dengan sedikit modifikasi menjadi “Hura.”

Tapi tenang dulu. Ini bukan bahasa Rusia kawe, bukan pula sebagai upaya menyelipkan paham komunis melalui fonetik. Yang dimaksudkan “Hura” di sini adalah singkatan dari “Hanya untuk Rakyat”. Tidak ada vodka, tidak ada Lenin. Yang ada hanya semangat untuk menyambut sebuah partai yang baru lahir.

Syahdan, salam “Hura” sekarang resmi menjadi kosakata baru dan wajib diucapkan oleh kader Partai Gerakan Rakyat (PGR). Setiap acara, baik itu berupa rapat serius maupun duarius, salam ini selalu dimunculkan dan diucapkan secara serentak, dengan lantang, serta penuh keyakinan. Seperti teriakan diskon di mal Ramayana yang menggunakan mic wireless.

Jika “Hura…!” diucapkan dengan full power, maka Efeknya akan menggetarkan gedung, lampu gantung pun seperti minta cuti, dan security hotel refleks akan mengecek aplikasi BMKG, karena dikira ada gempa bumi.

Dan yang membuat situasi nambah dramatis, teriakan Hura ini harus diiringi dengan acungan lima jari tangan. Kalau Slank punya “Salam Dua Jari”, maka ini versi extended edition. Bukan sekadar membuka tangan, isyarat pesan ojol, atau kode putus cinta “Goodbye”. Lima jari ini punya makna tersendiri. Filosofis. Cukup berat, karena bisa bikin jidat berkerut meskipun belum tentu paham.

Menurut Anies Baswedan, lima jari itu sejatinya adalah ide dasar dari sebuah perubahan. Supaya lebih paham, yuk kita bahas satu per satu, dengan bahasa rakyat tetapi santai. Siapkan kopi dan cemilannya.

Pertama Integritas. Barang ini konon sekarang agak langka, bahkan nyaris menjadi mitos. Ketika seseorang bersikap jujur, meski tidak ada wartawan, tidak ada kamera, dan juga tidak ada amplopnya. Orang yang berintegritas biasanya tegak lurus dengan komitmen yang telah ia tanamkan dalam hatinya. Bahkan saat sendirian, ketika semua orang meninggalkannya. Jika integritas sudah aktif, maka godaan apa pun pasti tahu diri, dan datangnya hanya lewat spam.

Kedua Meritokrasi. Ini sistem yang paling menakutkan bagi siapa saja yang kariernya melesat melalui jalur grup WhatsApp keluarga. Dalam sistem meritokrasi, jabatan tidak bisa dititipkan, tidak bisa diwariskan, dan juga tidak bisa dibantu menggunakan foto selfie bareng pejabat. Prestasi dan kualitas diri adalah mata uang resmi. Dan bagi yang tak punya, dipersilakan nabung dulu.

Ketiga Transparansi. Ini artinya rakyat bukan hanya disuruh percaya doang, tapi juga diajak melihat. Kebijakan tidak ditulis menggunakan font New Romans di balik laptop. Dan anggaran tidak disimpan di laci rahasia. Kalau transparansi bisa berjalan, maka seperti kata orang Minang, “Buka kulit tampak isi”.

Lalu yang keempat adalah Responsibility. Ini keberanian untuk berdiri paling depan di kala sukses, dan tidak sembunyi di belakang meja saat timbul masalah. Orang yang memiliki tanggung jawab biasanya tidak sibuk mencari kambing hitam, karena mereka sadar bahwa cermin jauh lebih jujur ketimbang seribu alasan.

Dan yang terakhir adalah Accountability. Ini adalah level dewasa dari sebuah tanggung jawab. Di sini seseorang bukan hanya merasa benar, tapi juga harus bisa menjelaskan dengan logika, dengan data, dan tentu dengan akal sehat. Kalau ada wartawan yang bertanya lalu dijawab, “Nggak tahu….kok tanya saya,” seraya mengambil langkah seribu, maka ini ciri-ciri orang yang nggak punya tanggungjawab dan tentu tidak akuntabel.

Kelima nilai ini seringkali disampaikan Anies di forum kongkow anak muda, di kampus-kampus, dan juga di ruang diskusi sambil ngopi bareng. Tapi intinya jelas, bahwa ini adalah kompetisi yang berbasis kemampuan, bukan berdasarkan silsilah, atau bukan juga karena kamu anak siapa? Sepupu siapa, atau keponakan siapa? Meskipun sering mengirim parcel, namun kelima ini harus menjadi pertimbangan utama.

Karena itu, Partai Gerakan Rakyat jangan hanya lantang berteriak Huraaa! Namun harus konsisten menjalankan salam lima jari tadi. Dan jangan sampai juga jarinya lima, tapi pada praktiknya hanya tinggal jempol doang. Sederhana tapi agak berat memang.

Jadi, salam Hura bukanlah tiruan dari Rusia. Ini bukan seperti cosplay geopolitik. Ini adalah slogan yang membawa misi untuk mengingatkan bahwa setiap yel, moto, tageline, teriakan atau apapun namanya, harus ada maknanya, dan setiap acungan jari memiliki arti yang harus dipertanggungjawabkan.

Maka jangan lupa bagi kader Partai Gerakan Rakyat agar selalu memberi salam lima jari sambil berteriak, “Huraaa…!” karena ini adalah salam resmi. Dan di republik yang sering akrab dengan kasak-kusuk di bawah meja, lalu bisik-bisik rahasia karena enggan bicara jujur, mungkin teriakan “Hura! “akan lebih mencerahkan. Nggak percaya? Coba aja. Huraaa! (*)

Bandar Lampung, 21 Januari 2026

#MakDacokPedom





 
Top