JAKARTA -- Potensi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Januari 2026. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, meningkatkan kesiapsiagaan dan terus memperbarui informasi cuaca dari sumber resmi.
Anggota LPBI PBNU Samsul Arifin menjelaskan bahwa meningkatnya curah hujan yang disertai angin kencang dipicu oleh berbagai faktor iklim dan dinamika atmosfer.
“Salah satu faktor curah hujan disertai angin adalah masih meningkatnya suhu muka laut yang memicu penguapan tinggi, serta adanya dinamika atmosfer seperti gelombang ekuatorial dan daerah pertemuan angin (konvergensi). Kondisi ini menyebabkan pembentukan awan hujan dan angin yang intens,” ujar Samsul di Jakarta, Jumat (23/1/2026), seperti dilansir dari NU Online.
Samsul mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan, khususnya saat beraktivitas di luar rumah. Menurutnya, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga keluarga dan komunitas.
“Menjaga kebersihan, hati-hati di saat beraktivitas di luar rumah, update terhadap informasi dari sosial media terhadap perubahan cuaca, menyiapkan perlengkapan darurat seperti obat-obatan, senter, makanan siap saji, serta mempersiapkan kesiapsiagaan keluarga,” tuturnya.
LPBI PBNU juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi, seiring dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait curah hujan lebat yang masih akan terjadi hingga akhir Januari.
“Kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi curah hujan lebat, sebagaimana prediksi BMKG yang diperkirakan masih berlangsung hingga akhir bulan. LPBI PBNU meminta masyarakat mengantisipasi risiko banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya serta mengikuti arahan dari pihak berwenang,” ujar Samsul.
Ia menambahkan pentingnya solidaritas dan kesiapsiagaan kolektif dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem. “Jaga keselamatan, perhatikan lingkungan sekitar, dan siaga terhadap potensi bencana. Mari saling menjaga, memperkuat kesiapsiagaan, dan berdoa agar terhindar dari bencana, demi keselamatan bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani memaparkan bahwa cuaca ekstrem hingga akhir Januari disebabkan munculnya Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia.
“Terdapat sejumlah faktor teknis yang memengaruhi kondisi cuaca sepekan ke depan. Yaitu, adanya Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia dengan kecepatan angin maksimum sekitar sistem mencapai 15 knot (28 km/jam) dan tekanan udara 1001 hPa,” jelas Andri dalam keterangan yang persnya, Jumat (23/1/2026).
Menurutnya, pergerakan sistem tersebut berpotensi memperkuat pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.
“Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” ujarnya.
BMKG juga mencatat menguatnya Monsun Asia yang disertai seruakan dingin (cold surge) dari daratan Asia turut meningkatkan potensi cuaca ekstrem.
“Fenomena tersebut mempercepat pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah selatan khatulistiwa,” katanya.
Secara bersamaan, aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Kelvin, yang didukung nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif, memperkuat pembentukan awan Cumulonimbus. Kondisi ini diperparah oleh kelembapan udara yang tinggi serta labilitas atmosfer yang kuat.
“Hasil analisis dinamika atmosfer menunjukkan bahwa potensi hujan lebat yang menyertai kilat dan angin kencang akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia secara bergantian menjelang akhir Januari 2026,” ungkap Andri.
BMKG memprakirakan potensi cuaca ekstrem tersebut berpeluang terjadi di Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.
“Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi,” pungkas Andri.
#bin/ede

