Wijaya Kusumah – Omjay | Guru Blogger Indonesia
// Inspirasi Pagi, Kamis 29 Januari 2026, mengingatkan kita bahwa organisasi ibarat sebuah pohon. Dari sanalah saya teringat perjalanan seorang guru bernama Omjay—Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd—yang selama puluhan tahun hidupnya diabdikan untuk dunia pendidikan dan organisasi guru.
Omjay sering mengatakan, “Saya bukan siapa-siapa, hanya guru yang terus belajar.” Kalimat sederhana itu justru mencerminkan makna terdalam dari sebuah organisasi. Di PGRI, tidak semua harus menjadi ketua. Tidak semua harus tampil di depan. Tapi setiap posisi memiliki arti, sebagaimana bagian-bagian pohon yang saling menguatkan.
Menjadi Batang yang Kokoh
Dalam perjalanan panjangnya di dunia pendidikan, Omjay kerap berada di posisi yang menuntut konsistensi. Ia tidak selalu berada di panggung utama, tetapi menjadi batang—menopang, menegakkan nilai, dan menjaga agar organisasi tetap berdiri lurus.
Sebagai pengurus, menjadi batang berarti tidak mudah patah oleh konflik, tidak goyah oleh kritik, dan tidak silau oleh jabatan. Batang memang jarang dipuji, tapi tanpanya pohon akan roboh. Begitulah Omjay menjalani perannya: bekerja tenang, tidak gaduh, namun berdampak.
Menjadi Cabang yang Merangkul
Omjay dikenal sebagai guru blogger yang gemar menggandeng guru-guru lain untuk menulis dan bersuara. Ia tidak berjalan sendiri. Ia mengajak, memotivasi, dan membuka ruang.
Inilah peran cabang dalam organisasi PGRI: menghubungkan ranting-ranting, menyatukan perbedaan, dan memberi ruang tumbuh. Cabang yang baik tidak mematahkan ranting kecil, tetapi menguatkannya agar ikut menjulang.
Banyak guru muda mengenal dunia literasi karena sentuhan Omjay. Ia tidak merasa lebih hebat, justru menunduk agar yang lain bisa tumbuh.
Menjadi Daun yang Meneduhkan
Daun tidak pernah berteriak tentang jasanya. Ia hanya bekerja, menyerap cahaya, dan memberi keteduhan. Omjay, di banyak kesempatan, menjadi daun—menguatkan guru yang lelah, mendengarkan keluh kesah honorer, dan menyemangati mereka yang hampir menyerah.
Bagi pengurus PGRI, inilah tugas mulia: menaungi, bukan menghakimi. Mendampingi, bukan mendikte. Organisasi akan hidup jika anggotanya merasa teduh, bukan tertekan.
Menjadi Buah yang Manis
Karya-karya Omjay—artikel, buku, dan pelatihan—adalah buah yang bisa dinikmati banyak orang. Buah yang manis menjaga nama baik pohon. Begitu pula pengurus organisasi: hasil kerja kitalah yang akan dikenang, bukan jabatan yang pernah disandang.
Buah tidak tumbuh instan. Ia lahir dari proses panjang: akar yang kuat, batang yang kokoh, dan daun yang setia bekerja. Begitu pula reputasi PGRI dibangun dari kerja senyap para pengurusnya.
Menjadi Akar yang Tak Terlihat
Inilah bagian yang paling sering dilupakan. Omjay berkali-kali menyampaikan bahwa pekerjaan paling mulia sering kali tidak terlihat. Rapat yang melelahkan, administrasi yang rumit, atau tugas-tugas sunyi yang jarang diapresiasi—itulah akar.
Tanpa akar, pohon akan tumbang. Tanpa pengurus yang mau bekerja di balik layar, organisasi hanya akan menjadi papan nama.
Penutup: Bekerja dengan Hati
Kisah Omjay mengajarkan satu hal penting bagi pengurus PGRI:
Kerjakan posisimu sebaik mungkin, dengan hati, bukan demi sorotan.
Organisasi bukan soal siapa yang paling tinggi, tetapi siapa yang paling kuat menopang.
Bukan siapa yang paling terdengar, tetapi siapa yang paling setia bekerja.
Jika hari ini kita berada di batang, cabang, daun, buah, atau bahkan akar yang tak terlihat—jalani dengan ikhlas. Karena pohon yang kuat bukan dibangun oleh satu bagian, melainkan oleh kesungguhan semua peran.
Tetap semangat mengabdi, para pengurus PGRI.
Barakallah fiikum.
Salam blogger persahabatan

