Rosadi Jamani | Penulis

- Ketua Satupena Kalbar


// Lama tak membuat followers saya menangis. Maka siapkan tisu, wak. Serius. Narasi ini bukan sekadar tulisan, tapi undangan untuk larut. Tetap sedia Koptagul, kalau-kalau dada ikut sesak.


Berulang kali saya gagal menahan air mata setiap menonton video-video itu. Video yang tampak sederhana, tanpa musik megah atau efek berlebihan, tapi justru di situlah kekejamannya. Ia menikam perasaan perlahan, telaten, sampai hati tak sempat menghindar. Tentang anak yang bertahun-tahun bertugas di negeri orang, hilang dari meja makan keluarga, absen dari hari raya, lenyap dari pelukan orang tua, lalu tiba-tiba berdiri di belakang ayah atau ibunya. Tanpa kabar. Tanpa pesan. Seolah rindu sengaja disimpan terlalu lama, agar saat dilepaskan bisa merobohkan siapa pun yang menyaksikan.

Kadang ada sedikit drama. Anak itu menyamar, pura-pura jadi orang lain, pura-pura hanya lewat. Sampai akhirnya ibu atau ayahnya menoleh ke belakang. Dunia seperti berhenti bernapas. Wajah yang selama ini hanya hadir lewat doa kini berdiri nyata di depan mata. Seragam tentara yang gagah itu bukan sekadar pakaian; ia adalah bukti jarak, waktu yang hilang, dan rasa takut yang selama ini dipendam sendirian. Senyum sang anak pecah, tangis orang tua meledak. Lutut lemas. Pelukan gemetar. Seolah ingin memastikan ini bukan mimpi singkat yang akan lenyap saat terbangun.

Saya selalu membayangkan malam-malam sebelum pertemuan itu. Ibu yang menunggu kabar sambil menatap ponsel yang tak kunjung berbunyi. Ayah yang pura-pura kuat, padahal diam-diam menelan rindu sendirian. Doa yang diulang-ulang dengan suara pelan: semoga anakku pulang selamat, semoga Tuhan menjaga langkahnya, semoga aku masih diberi umur untuk memeluknya sekali lagi. Saat doa itu akhirnya menjelma manusia, air mata menjadi bahasa paling jujur yang tersisa.

Lebih menyayat lagi ketika yang pulang adalah seorang ayah. Bertahun-tahun bertugas di daerah konflik, meninggalkan anak yang tumbuh tanpa kehadirannya. Anak yang belajar berjalan tanpa tangan ayah, belajar bicara tanpa suara ayah, belajar kuat sebelum waktunya. Lalu suatu hari, di ruang yang biasa saja, ayah itu muncul. Anak kecil itu menatap asing, ragu, bingung, hingga akhirnya mengenali wajah yang selama ini hanya hidup di foto. Pelukan mereka bukan sekadar temu. Itu adalah tahun-tahun yang hilang saling berkejaran dalam satu detik.

Namun hidup tak selalu memberi reunion seindah itu. Ada ibu renta yang rambutnya memutih, duduk sendiri di teras rumah kayu. Katanya ia tak menunggu siapa-siapa, tapi setiap suara motor lewat, kepalanya refleks menoleh. Anak bungsunya merantau belasan tahun. Tak ada video call, tak ada foto terbaru. Suatu sore, seorang pria asing memanggil, “Mak…” Satu kata, dan seluruh hidup yang menua dalam penantian runtuh seketika.

Ada pula kisah paling kejam: penantian yang tak pernah menjadi pertemuan. Koper sudah siap, masakan favorit sudah dicatat. Tapi yang datang justru seragam terlipat rapi dalam peti dan bendera penutup wajah. Di depan orang banyak ia tegar. Di malam sunyi, ia memeluk baju anaknya, menangis tanpa suara.

Mungkin itulah sebabnya video-video itu terasa epik sekaligus menyiksa. Karena ia memaksa kita mengingat rumah, orang-orang yang menua diam-diam saat kita pergi, dan waktu yang tak pernah mau menunggu. Kita menangis bukan hanya karena kisah mereka, tapi karena sadar: suatu hari nanti, kitalah yang akan menunggu… atau ditunggu. Semoga, saat hari itu tiba, air mata kita jatuh di pelukan, bukan di batu nisan. (*)

#camanewak




 
Top