Rosadi Jamani | Penulis

- Ketua Satupena Kalbar


// Nuan bayangkan waktu pagi biasa di grup WA Satupena. Riuh, berisik, penuh opini yang beterbangan seperti lalat di pasar ikan. Ada yang pamer tulisan, ada yang curhat halus, ada pula yang sekadar nyimak sambil menunggu kopi dingin. Dunia sedang agak cerah hari ini, Manchester United baru saja menekuk Arsenal 3–2 di EPL, dan entah kenapa, kemenangan MU selalu membuat orang merasa hidup ini masih ada harapan. Bahkan diskusi sastra pun terasa sedikit lebih ramah.

Lalu tiba-tiba, ting! Notifikasi muncul. Nama pengirimnya bikin jantung salah irama: Jaya Suprana.

Ya, Jaya Suprana. Manusia serba-bisa yang kalau CV-nya dibaca terasa seperti ensiklopedia berjalan. Pianis, komponis, kartunis, penulis, pembicara publik, bintang televisi, pengusaha jamu yang katanya bisa menyembuhkan hampir segalanya, dan tentu saja pendiri MURI, lembaga pencatat rekor-rekor paling ajaib di republik ini, dari yang mengagumkan sampai yang bikin orang bertanya, “Ini serius atau cuma niat?”

Sementara saya? Rosadi Jamani. Tukang ngopi. Kalau versi sopannya, penulis esai. Kalau versi jujurnya, orang yang kebanyakan mikir sambil menyeruput kopi dan nekat menuliskannya di grup WA. Saya kenal Jaya Suprana, dalam arti membaca dan menonton. Tapi beliau kenal saya? Jangan bercanda. Di daftar kontak beliau, saya mungkin setara notifikasi skor bola yang muncul tengah malam, terlihat, tapi cepat dilupakan.

Lalu bom itu jatuh. Jaya Suprana alias Phoa Kok Tjiang menyamakan tulisan saya dengan Noam Chomsky. Bukan Coky Sitohang, tapi Chomsky utama, bapak linguistik modern, intelektual yang membuat kekuasaan gatal, penulis esai yang catatan kakinya lebih panjang dari daftar VAR di pertandingan MU lawan Arsenal semalam.

Saya panik. Kopi mendadak dingin. Kepala penuh tanya, ini pujian atau jebakan batman? Saya googling Chomsky lagi, sekadar memastikan dia nyata dan bukan tokoh fiksi akademik. Ternyata nyata. Jaraknya dengan saya kira-kira sejauh Old Trafford ke warung kopi pinggir jalan.

Perasaan saya campur aduk. Bangga? Tentu. Masuk akal? Sama sekali tidak. Rasanya seperti tukang tambal ban dipuji Erik ten Hag karena “visioner”. Tapi ego manusia memang murah, wak. Dipuji dikit, langsung merasa pantas diskusi geopolitik dunia.

Belum sempat saya memesan jas intelektual, datang kritik. Bukan kritik kaleng-kaleng. Ini kritik dengan istilah Prancis dan aroma seminar pascasarjana. Tulisan saya disebut masih tumpang tindih antara fonosentrisme dan logosentrisme. Derrida dipanggil seolah beliau baru saja duduk di bangku cadangan. Intinya satu, tulisan saya terlalu lisan, terlalu warung kopi, kurang analitis ala Chomsky. Disarankan menengok Goenawan Mohamad yang jernih, elegan, tenang, tak pernah terdengar seperti lagi manggil “wak”.

Saya tertawa getir. Jadi posisi saya apa? Tadi Chomsky, sekarang penceramah warung kopi yang nyasar ke filsafat Prancis. Baru naik lift ke lantai dua puluh, langsung dijatuhkan ke parkiran. Bahkan MU saja kalau sudah unggul dua gol masih bisa bikin jantung deg-degan, apalagi saya.

Tapi kisah ini belum selesai.

Pria kelahiran 27 Januari 1947 (ada juga catatan 1949) di Denpasar, Bali muncul lagi. Kali ini tanpa ledakan, tanpa hiperbola. Beliau menulis tenang, “Setiap penulis punya gaya masing-masing yg beda satu dgn lain-lainnya seperti Russel beda dari Sartre beda dari Kishon beda dari Buchwald beda dari Thoreau beda dari Goenawan dan tentu saja juga beda dari Rosadi!”

Kalimat pendek. Efeknya panjang.

Russell beda dari Sartre. Sartre beda dari Kishon. Buchwald beda dari Thoreau. Goenawan beda dari semuanya. Rosadi, gue ni, ya beda juga. Bukan lebih tinggi. Bukan lebih rendah. Tapi beda.

Di titik itu saya paham. Gaya menulis bukan klasemen liga. Tidak semua harus juara. Tidak semua harus bermain tiki-taka. Ada yang bertahan, ada yang menyerang, ada yang hidup dari serangan balik ala MU semalam. Yang penting bukan meniru, tapi tahu peran.

Tulisan saya lisan? Ya. Karena saya hidup di percakapan. Terasa seperti warung kopi? Memang. Karena di sanalah pikiran saya berkelahi dengan realitas. Kritik Derrida tadi tetap sah, sebagai pengingat agar berpikir lebih dalam. Tapi kalimat Jaya Suprana memberi pelajaran yang lebih sunyi dan lebih dewasa, otentik itu bukan cacat.

Saya tetap tukang ngopi. Tapi sekarang saya tahu, kopi liberika tak perlu menyamar jadi arabika agar sah disebut kopi. Penulis tak perlu menyamar jadi siapa pun agar layak didengar. Yang penting pahitnya jujur, aromanya kuat, dan sekali diseruput orang langsung tahu, “Oh, ini Rosadi, si Koptagul dari Pontianak.”

Seperti kemenangan MU atas Arsenal. Mungkin bukan yang paling indah, tapi cukup untuk bikin dunia, dan satu grup WA kecil, tersenyum seharian. Thanks so much Mr Jaya Suprana yang sering membaca goresan pena saya. (*)

#camanewak



 
Top