Rosadi Jamani | Penulis

Ketua Satupena Kalbar


// Memang asem si Noel. Ia ngasih clue, parpol yang ada huruf “K” menerima aliran dugaan korupsi K3. Satu huruf. Satu alfabet. Tapi efeknya bikin netizen jungkir balik seperti lomba cerdas cermat versi warkop. Mari kita lindas, eh salah, kupas clue huruf K tersebut sambil seruput Koptagul. Awas muncrat, wak!

Mari kita luruskan dulu sebelum tertawa makin jauh ke ujung galaksi. Immanuel Ebenezer alias Noel, mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, bicara ini menjelang sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, 26 Januari 2026. Isunya serius. Dugaan pemerasan terkait sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Kemenaker. Noel menyebut ada ormas dan partai politik yang terlibat. Ormasnya dikasih penjelasan, bukan berbasis agama. Nah, partainya? Tidak disebut. Sama sekali tidak. Yang disebut cuma satu, ada huruf “K”. Titik. “Udah itu dulu clue-nya ya,” kata Noel, santai tapi mematikan.

Di situlah republik +62 meledak.

Netizen langsung berubah dari warga negara jadi ahli forensik alfabet. Semua partai dicek satu-satu. Yang ada K, dicurigai. Yang tak ada K, ikut waswas, takut besok hurufnya direvisi. PKB disebut. PKS diseret. PKN dipelototi. Ada yang nyeletuk PPKN, entah ini partai, pelajaran sekolah, atau nostalgia Orde Baru. Bahkan PKK ikut kebagian. Padahal itu isinya ibu-ibu arisan dan lomba yel-yel 17-an. Tapi netizen tak peduli. Ada K? Masuk. Qiqiq…

Lucunya, logika netizen berkembang liar. Ada yang bilang, “Kalau cuma K, hampir semua bisa.” Lalu muncullah KDI—Kompetisi Dangdut Indonesia. Bahkan KDI P. Ini sudah bukan analisis politik, ini stand up comedy berbasis keyboard. Huruf K mendadak lebih berbahaya dari huruf X di matematika.

Padahal, kalau mau jujur dan sedikit waras, Noel tidak menuduh secara eksplisit. Ia tidak menunjuk, tidak menuding, tidak menyebut. Ini lebih mirip sindiran berlapis, atau strategi memberi tekanan tanpa membuka kartu. Dalam politik, ini jurus klasik, lempar asap, biar yang merasa kena panas sendiri. Siapa yang gelisah, biasanya paling cepat bereaksi. Peribahasa Melayu, siapa luka ia pedih.

Penting dicatat. Pernyataan ini bukan putusan hukum, bukan vonis, bukan dakwaan resmi. Ini pernyataan politik di ruang publik, yang efeknya memang bukan di pengadilan, tapi di linimasa. Di sanalah hukuman sosial bekerja lebih cepat dari palu hakim.

So, kalau hari ini netizen tertawa sambil menebak-nebak, itu wajar. Republik ini memang hobi bercanda di tengah perkara serius. Tapi satu hal jelas, Noel sengaja tidak menyebut nama, dan sampai hari ini, tidak ada partai yang secara resmi disebut atau ditetapkan dalam pernyataannya.

Sisanya? Biarlah huruf K menikmati status barunya. Bukan lagi sekadar alfabet, tapi ikon kecurigaan nasional. Netizen? Mereka sudah siap.

Kalau besok cluenya berubah jadi huruf “P”, jangan kaget kalau Panci, Piring dan Pintu ikut diseret. Atau, berubah huruf “M” lebih liar lagi. Di bagian ini, indahnya negeri kita wak. (*)

#camanewak



 
Top