Oleh: Nurul Jannah | Penulis
Ketika kebaikan disampaikan tanpa kelembutan, hati memilih menutup diri
// Nasihat seharusnya turun seperti cahaya: lembut, menghangatkan, dan membuat jiwa ingin mendekat. Bukan seperti kilat yang menyambar, membuat hati refleks menutup diri.
Karena nasihat adalah cahaya. Ia semestinya hadir bersama kelembutan, bukan dibungkus nada yang melukai.
Tujuan nasihat bukan mengecilkan seseorang, melainkan menolongnya berdiri lebih tegak dengan martabat yang tetap utuh. Namun, tidak semua yang disebut nasihat benar-benar membawa kebaikan. Sebagian datang dengan cara yang keras, menusuk, dan menghakimi. Kata-katanya mungkin benar, tetapi cara menyampaikannya, terkadang membuat hati memilih mengunci diri.
Dalam sebuah percakapan, pernah terdengar kalimat tajam.
“Itu salah. Harusnya begini.”
Bukan isi kalimat itu yang memberatkan. Cara penyampaian yang terasa menekan itulah yang melukai.
Nasihat yang kehilangan adab, akan kehilangan jalan masuk ke hati.
Agama mengajarkan kelembutan. Di mana, adab selalu didahulukan sebelum ilmu. Dan hati manusia sebaiknya dibuka dengan penuh penghormatan
Nada suara yang meninggi, pilihan kata yang kasar, atau penghakiman yang tergesa, hanya akan membuat pintu hati tertutup rapat.
Nasihat kadang berubah menjadi serangan. Demikian juga pengingat, terkadang bisa berubah menjadi tuduhan. Maka, kebaikan yang dipaksakan tidak pernah terasa sebagai kebaikan.
Pernah terdengar dialog sederhana:
“Maksudnya baik, kok.”
“Kalau memang baik, kenapa terasa menyakitkan?”
Di situlah pelajaran penting muncul. Bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi bagaimana menyampaikannya. Kebenaran yang dibalut adab akan diterima dengan lapang. Sebaliknya, kebenaran yang dilempar tanpa empati hanya akan memantul kembali, bahkan sebelum sempat dipahami. Karena hati manusia adalah taman yang harus diketuk perlahan agar terbuka.
Nasihat yang baik selalu membuat seseorang merasa dihargai dan dirangkul. Karena pada akhirnya, yang paling diingat bukan isi nasihatnya, melainkan rasa yang tertinggal di hati setelahnya.
Dan rasa itu bisa menjadi pintu kebaikan… atau justru alasan seseorang menjauh dari kebaikan itu sendiri. Karena, nasihat yang tidak dijaga adabnya, pelan-pelan akan kehilangan maknanya. (*)
Bogor, 23 Januari 2026
