Ririe Aiko
TIDAK banyak yang tahu Singkawang punya batik sendiri. Selama ini, batik lebih sering dilekatkan pada daerah-daerah di Pulau Jawa, sementara batik dari luar Jawa kerap dianggap sebagai potensi yang belum sepenuhnya hadir di ruang publik. Singkawang, sebuah kota di Kalimantan Barat, termasuk di antara daerah yang lama berada di posisi tersebut: memiliki karya, tetapi minim sorotan.
Batik Singkawang tumbuh dari konteks budaya yang khas. Kota ini dikenal sebagai ruang pertemuan budaya Tionghoa, Melayu, dan Dayak yang hidup berdampingan dalam keseharian masyarakatnya. Jejak keberagaman itu tercermin dalam motif dan warna batiknya. Tidak terpaku pada satu pakem, Batik Singkawang cenderung menampilkan warna-warna berani dengan komposisi visual yang ekspresif, menjadi pembeda yang cukup jelas jika dibandingkan dengan batik klasik Jawa yang lebih banyak bermain pada warna tanah dan pola simbolik tradisional.
Keunikan ini bukan hasil eksperimen sesaat, melainkan proses panjang yang lahir dari lingkungan sosialnya. Batik Singkawang berkembang sebagai batik kontemporer berbasis lokal, memadukan identitas daerah dengan kebebasan visual. Motif-motifnya tidak selalu mengacu pada simbol keraton atau filosofi lama, tetapi merekam keseharian, alam, dan keberagaman budaya yang menjadi napas kota tersebut.
Dalam skala nasional, batik Singkawang sempat berada di kategori “underexposed”. Ia dikenal sebagai potensi budaya, namun menghadapi keterbatasan akses pengembangan dan pemasaran. Situasi ini perlahan berubah ketika keterampilan membatik diorganisasi secara lebih terstruktur melalui pendekatan pemberdayaan desa. Hasilnya terlihat nyata. Saat ini, sebanyak 240 pelaku tergabung dalam 18 kelompok batik aktif di Singkawang, menjalankan produksi mandiri sekaligus mengelola workshop lokal di desanya masing-masing.
Dari sisi produk, batik Singkawang bukan sekadar kain, melainkan hasil kerja kolektif masyarakat. Setiap helai batik merepresentasikan proses belajar, produksi, dan pengelolaan yang dilakukan secara berkelompok. Batik ini tidak lahir dari industri besar, tetapi dari ekosistem lokal yang hidup dan berkelanjutan.
Batik Singkawang kini bisa diperoleh langsung melalui workshop kelompok batik di wilayah Desa Sejahtera Astra Singkawang, serta melalui pameran UMKM dan kanal digital yang mulai dimanfaatkan para perajin. Akses ini membuka peluang bagi konsumen untuk mendapatkan batik dengan Singkawang dengan mudah, sekaligus mendukung ekonomi lokal secara langsung.
Batik Singkawang menawarkan lebih dari sekadar motif yang berbeda. Ia menghadirkan pilihan batik yang merepresentasikan keberagaman Indonesia di luar pusat-pusat lama.
Dengan karakter visual yang kuat, proses produksi berbasis komunitas, dan akses yang semakin terbuka, batik Singkawang layak dipertimbangkan sebagai bagian dari gaya hidup sekaligus dukungan nyata terhadap ekonomi lokal yang tumbuh dari desa.
#orb/bin
.jpeg)