Oleh: Tb Mhd Arief Hendrawan
// Di ufuk zaman yang kian merenta,
Cahaya-Mu menyelinap di antara celah debu dosa.
Saat nurani terhimpit hiruk-pikuk dunia yang fana,
Engkaulah mentari, penunjuk jalan bagi jiwa yang buta.
Kini, musim telah berganti wajah,
Di mana Orang Soleh bisa Salah,
Tersandung sombong dalam jubah ibadah,
Merasa surga miliknya, sedang lisan menebar serapah.
Lupa bahwa Engkau, Sang Teladan, adalah samudera rendah hati.
Namun lihatlah rahasia Ilahi,
Di mana Orang Salah bisa Soleh kembali,
Bersimpuh di sepertiga malam dengan air mata yang perih,
Mencuci hitamnya masa lalu dengan tobat yang gigih.
Sebab Engkau mengajar: pintu ampunan-Nya tak pernah terkunci.
Wahai Muhammad, Mataharinya Dunia…
Sinar-Mu tak membedakan kasta maupun noda.
Engkau adalah kompas saat benar dan salah mulai bias,
Saat kesalehan hanya jadi topeng, dan dosa dianggap tuntas.
Zaman ini bukan tentang siapa yang paling suci,
Tapi tentang siapa yang paling merasa butuh pada-Mu, Ya Rabb.
Sebab tanpa syafaat-Mu yang menghangatkan ruhani,
Kami hanyalah pengelana yang tersesat di rimba sepi.
Terangilah hati kami yang mulai membatu,
Agar yang soleh tetap terjaga dari angkuhnya kalbu,
Dan yang salah lekas pulang ke pelukan rindu,
Menuju cahaya-Mu, satu-satunya matahari yang takkan berlalu.
Yaa… Rabb
Dalam Tahajjudku di tengah malam yang sepi ini
Aku yang tak berdaya ini
mengadu kepadaMu
Di zaman di mana penampilan luar seringkali menipu,
kami diingatkan bahwa iman adalah perjalanan, bukan sekadar status.
Ada kalanya kami melihat ‘orang soleh’ yang terjebak dalam rasa bangga akan amalnya, dan ada kalanya ‘orang salah’ justru menemukan jalan pulang melalui pintu tobat yang sunyi.
Nabi Muhammad SAW hadir sebagai Matahari Dunia—bukan untuk menghakimi siapa yang paling terang, tapi untuk menyinari kita semua agar tak tersesat dalam kegelapan ego.
Semoga kami tidak menjadi orang yang sibuk menghitung dosa orang lain,
sampai lupa membersihkan noda di hati sendiri. (*)
Salam Sapa dan Santun
Cah Angon, songgolangit 110126

