PADANG — Derita warga Gurun Panjang, Kampung Jambak, Kelurahan Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Kota Padang belum juga berakhir. Setelah rumah mereka diterjang banjir bandang dan harta benda hanyut, kini luka yang lebih perih tengah mereka tanggung: fitnah dan hujatan publik akibat sebuah video viral di media sosial.
Video tersebut menuding adanya aktivitas alat berat yang diduga dipaksa bekerja untuk mengeruk pasir sungai guna dijual demi keuntungan pribadi. Narasi itu menyebar liar, tanpa konfirmasi, tanpa empati dan tanpa mengetahui fakta lapangan. Dampak paling nyata saat ini; para korban bencana yang sedang mengungsi justru berubah menjadi objek amarah warganet.
“Sudah jadi korban bencana, kami malah difitnah dan dihujat,” ungkap Ade, salah seorang warga, dengan mata berkaca-kaca.
Bantuan berhenti datang, pengungsi terpaksa bubar
Sejak video itu viral, situasi berubah drastis. Bantuan yang sebelumnya mengalir dari para donatur tiba-tiba tersendat. Kepercayaan publik tergerus oleh narasi yang beredar di media sosial.
Satu per satu keluarga pengungsi terpaksa meninggalkan surau tempat mereka berteduh. Bukan karena kondisi sudah pulih, melainkan karena tak lagi sanggup bertahan tanpa bantuan logistik. Kini, hanya tiga kepala keluarga yang masih bertahan dengan perlengkapan seadanya, di tengah rasa cemas dan keputusasaan.
Mereka hidup di ruang ibadah yang sederhana, beralaskan tikar tipis, dikelilingi pakaian basah, peralatan dapur seadanya, serta trauma yang sulit dilukiskan.
Operator alat berat bantah keras tuduhan
Tim media turun langsung ke lokasi dan menemui Misriadi (50), operator alat berat yang dituding dalam video viral itu. Dengan suara berat menahan lelah, ia membantah tegas seluruh tuduhan.
“Itu fitnah. Tidak pernah ada ancaman kepada saya. Pasir yang dimuat ke truk itu untuk ditimbunkan ke jalan dan halaman rumah warga yang rusak akibat banjir,” jelasnya
Ia menegaskan, penggunaan alat berat tidak bisa sembarangan.
“Kalau memang diperlukan, kami lapor dulu pada dinas yang menyediakan alat ini. Tidak ada jual beli pasir seperti yang dituduhkan,” tegasnya.
Tokoh adat jadi sasaran hujatan paling brutal
Sementara itu, Indra (56), tokoh adat yang muncul dalam video viral tersebut, mengaku menjadi sasaran hujatan paling kejam. Ia dituding sebagai dalang penjarahan pasir sungai, dipanggil ke kantor polisi, dan keluarganya ikut menanggung beban psikologis.
Indra tak menampik bahwa ia yang menginisiasi pengambilan pasir, namun tujuannya semata untuk kepentingan warga terdampak.
“Benar, itu inisiatif saya. Ada warga yang minta pasir untuk menimbun jalan dan halaman rumah mereka yang habis dibawa banjir. Bukan untuk diperjualbelikan,” ujarnya.
Sebagai ninik mamak, ia merasa hanya menjalankan tanggung jawab sosial. Ia mengaku telah berkomunikasi dengan operator dan memastikan pihak terkait mengetahui aktivitas tersebut. Namun pada saat itulah, ia direkam secara diam-diam lalu video yang viral diberi narasi menyesatkan.
“Kami di sini ada lima KK, semuanya korban banjir dan mengungsi di surau. Tapi justru kami diperlakukan seperti penjahat. Bahkan saya sampai dijemput polisi karena video itu,” tuturnya lirih.
Luka yang tak terlihat: tekanan mental dan rusaknya nama baik
Fitnah itu tak hanya memukul logistik dan bantuan. Luka psikologis turut membekas. Anak-anak menjadi cemas dan takut berinteraksi, sementara orang dewasa merasa harga diri mereka diinjak di saat hidup tengah paling rapuh.
“Kami hanya ingin nama kami dibersihkan. Kami ini korban, bukan pelaku kejahatan,” harap warga.
Kartina (55) menyampaikan hal yang paling menyayat:
“Kami sedang berduka. Mengungsi di surau sejak bencana. Tiba-tiba keluarga kami dijemput polisi karena fitnah di video itu.”
Bencana tak hanya soal air bah
Tragedi ini memberi pelajaran pahit bagi warga Gurun Panjang: bencana alam dapat merusak rumah, namun bencana informasi di media sosial dapat meruntuhkan martabat, memutus aliran bantuan, dan memecah solidaritas.
Mereka kini hanya meminta satu hal: kebenaran ditegakkan, perspektif diluruskan, dan publik tidak lagi menghakimi hanya dari potongan video tanpa konteks.
Mereka berharap media serta pembuat konten lebih jernih, berimbang, dan mengedepankan verifikasi sebelum menyebarkan narasi yang berpotensi melukai korban bencana.
Di tengah sisa genangan lumpur dan rumah yang masih berantakan, warga Gurun Panjang bertahan bukan hanya dari ganasnya banjir bandang, tetapi juga dari gelombang hujatan yang jauh lebih sunyi namun tak kalah menyakitkan.
#bim/mon

