Rosadi Jamani | Penulis

-- Ketua Satupena Kalbar


UNTUK sementara, negara Amerika Serikat masih terkuat di dunia. Jangan coba sok jago melawan Paman Usman, ups salah, Paman Sam! Taruhannya, ditangkap, digulingkan, terakhir dibunuh atas nama demokrasi. Sudah delapan pemimpin dunia tinggal nama akibat menantang AS. Satu-satunya agar aman, cium pantat Trump. Simak lagi narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Coba bayangkan begini wak. Di suatu malam sunyi di Washington, ketika dunia tidur dan Google Maps sedang tidak update, Paman Sam duduk sendirian. Topi koboi miring, sepatu bot berdebu, satu tangan memutar globe dunia seperti spinner bocah SD, tangan lain pegang remote bertuliskan, Regime Change.

Klik. Negara bergetar.

Klik lagi. Presiden tumbang.

Ini bukan trailer film Marvel, ini sejarah versi “katanya demi demokrasi”. Amerika Serikat, sang polisi kosmik, sheriff galaksi, dan sutradara tunggal film dunia, sudah berkali-kali memainkan peran klasik, menyelamatkan dunia dengan cara menghancurkannya lebih dulu.

Mari kita buka album kenangan ini satu per satu.

Bab Iran, 1953.

Mohammad Mosaddegh, perdana menteri yang terlalu berani, nasionalisasi minyak. Minyak wak. Kata paling sensitif di kamus geopolitik. CIA dan MI6 pun turun tangan lewat Operasi Ajax. Kerusuhan direkayasa, opini publik diaduk, dan Mosaddegh berakhir sebagai tahanan rumah seumur hidup. Shah naik tahta, AS tersenyum. Tapi sejarah punya selera humor gelap, 1979, Revolusi Iran meledak. Boomerang pertama menghantam wajah.

Guatemala, 1954.

Jacobo Árbenz ingin tanah dibagi ke petani. Niat baik, tapi salah sasaran, itu tanah milik United Fruit Company. CIA langsung alergi. Operasi PBSuccess diluncurkan. Radio palsu, bom kecil, pasukan bayaran. Árbenz kabur, militer berkuasa, perang saudara puluhan tahun. Ribuan tewas. Semua demi pisang. Literal wak, pisang.

Vietnam Selatan, 1963.

Ngo Dinh Diem, sekutu setia, tiba-tiba dianggap “kurang fleksibel”. CIA angkat alis, kudeta terjadi. Diem dan adiknya dibunuh di dalam kendaraan lapis baja. Darah mengalir, kamera mengabadikan. Hasilnya? Perang Vietnam jadi neraka panjang. AS kalah, trauma nasional, dan dunia belajar bahwa domino tidak selalu jatuh sesuai rencana.

Chile, 1973.

Salvador Allende terpilih secara demokratis. Kesalahannya cuma satu, sosialis dan nasionalisasi tembaga. Nixon tidak suka. Project FUBELT jalan. Ekonomi dicekik, militer disuapi, istana dibom. Allende mati, Pinochet naik dengan sepatu penuh darah. AS menyebutnya stabilitas. Rakyat Chile menyebutnya mimpi buruk.

Panama, 1989.

Manuel Noriega, mantan aset CIA, berubah jadi musuh negara. Operasi Just Cause digelar. 27 ribu tentara masuk, Panama City dibom, Noriega ditangkap dari kedutaan Vatikan. Terusan Panama aman. Sipil? Ya, itu nanti dibahas di catatan kaki sejarah.

Irak, 2003.

Saddam Hussein dan senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan. Tank-tank masuk Baghdad, Saddam ditangkap dari lubang tanah seperti adegan kartun gelap. Digantung. Minyak mengalir. Tapi sebagai bonus tak terduga, ISIS lahir. Demokrasi? Entah di folder mana itu disimpan.

Libya, 2011.

Gaddafi, raja tenda dan pidato 90 menit tanpa naskah. NATO turun tangan, bom dari udara. Gaddafi ditangkap massa, mati brutal. Libya runtuh, pasar budak muncul. Dunia bingung, AS angkat bahu, mission accomplished.

Klimaks versi episode terbaru: Venezuela.

Nicolás Maduro, musuh ideologis, pemilik ladang minyak superbesar. Versi paling sensasional mengatakan, serangan malam, Caracas bergetar, Maduro ditangkap, diterbangkan ke kapal induk. Dunia gaduh. Rusia-Iran naik tensi. AS kembali berkata, “Ini demi rakyat.”

Delapan pemimpin, delapan cerita, satu pola.

Jika terlalu nasionalis: tumbang.

Jika sentuh minyak: tumbang.

Jika tak patuh: tumbang.


Paman Sam selalu datang membawa demokrasi…

dengan bom, sanksi dan CIA di belakang layar.


Akhir cerita? Belum wak.

Globe masih diputar.

Remote masih di tangan.

Dunia masih jadi panggung sandiwara geopolitik paling mahal sepanjang sejarah.


Who is the next? Kalian bisa identifikasi sendirilah.


Alhamdulillah, Indonesia masih aman, wak. (*)


#camanewak







 
Top