Ulibadirsad | Penulis
// Filosofi “ular bercabang lidah” adalah metafora klasik tentang ambiguitas kuasa.
Dalam banyak tradisi, ular melambangkan kecerdikan dan daya hidup.
Namun lidah yang bercabang menandai sesuatu yang lebih dalam kemampuan mengatakan dua hal yang bertentangan dalam satu waktu.
Secara filosofis, ini bukan sekadar kebohongan, melainkan disonansi antara logos (kata), ethos (nilai), dan praxis (tindakan).
Seorang pemimpin bisa sangat fasih di ranah wacana, namun rapuh saat diuji di ranah keputusan nyata.
Dalam kajian kepemimpinan modern, fenomena ini disebut performative leadership: kepemimpinan yang kuat di panggung simbolik, tetapi lemah di ruang implementasi.
Bahasa dijadikan alat legitimasi, bukan lagi cermin dari komitmen moral.
Fakta akhir-akhir ini menunjukkan pola yang berulang: narasi publik dirangkai dengan istilah luhur—rakyat, keadilan, kesejahteraan sementara kebijakan yang lahir justru menjauh dari makna kata-kata itu.
Masalahnya bukan pada perbedaan pendapat, melainkan pada ketiadaan konsistensi nilai.
Secara etis, lidah bercabang mengikis kepercayaan publik.
Dan dalam filsafat politik, kepercayaan adalah modal utama kekuasaan. Tanpa itu, legitimasi berubah menjadi sekadar formalitas hukum.
Renungan:
Pemimpin sejati tidak diukur dari kelihaian retorika,menggelegar dipodium tetapi dari koherensi antara yang diucapkan dan yang diwujudkan.
Karena kata yang tidak menjelma tindakan,
pada akhirnya hanya menjadi gema kosong dalam sejarah. (*)
