Rosadi Jamani | Penulis

Ketua Satupena Kalbar


// Ini masih tentang sang maestro lintas zaman, Jaya Suprana. Seorang budayawan yang kalau memberi pujian, rasanya seperti mendapat stempel kelulusan batin. Usai beliau memuji dan mengkritik tulisan saya, datanglah sebuah tantangan intelektual yang bikin dada mengembang. “Mohon Bang Ros menulis esei tentang sticker tepuk tangan saya ini.” Dalam hati saya jawab sok tenang, “Siapa takut, budak Pontianak ni, bos.” Sombong amat? Jelas. Tapi ini sombong yang sudah dibaptis oleh koptagul dan keberanian.

Maka mari kita bahas satu simbol kecil yang sering kita anggap remeh, padahal ia sudah lebih tua dari banyak ideologi, tepuk tangan. Bunyi dua telapak yang bertemu ini bukan sekadar ekspresi kagum, melainkan jejak panjang peradaban. Jauh sebelum manusia sibuk berdebat di kolom komentar, mereka sudah bertepuk tangan di teater Yunani Kuno untuk menilai aktor dan orator. Di Romawi, bahkan ada profesi khusus bernama claque, orang-orang bayaran yang tugasnya bertepuk tangan, bersorak, dan menciptakan kesan seolah sebuah pertunjukan luar biasa. Buzzer zaman purba, wak, hanya saja tanpa Wi-Fi.

Secara biologis, tepuk tangan itu masuk akal. Tangan adalah alat komunikasi paling sopan yang dimiliki manusia. Memukul meja berarti marah. “Asing…!” Lalu, menginjak lantai terdengar barbar, berteriak sering disalahpahami. Sementara tepuk tangan berada di wilayah aman. Cukup keras untuk terdengar, cukup sopan untuk diterima. Secara fisika, dua telapak tangan menghasilkan gelombang suara yang stabil dan berulang, mudah disinkronkan secara massal. Itulah sebabnya ribuan orang bisa bertepuk tangan bersama tanpa latihan, sebuah keajaiban kecil yang jarang disyukuri.

Ilmu saraf bahkan mencatat, tepuk tangan memicu pelepasan dopamin pada otak penerimanya. Zat kimia yang sama keluar saat kita dipuji, dihargai, atau merasa diakui. Maka jangan heran, seniman, guru, pembicara, bahkan penulis status tengah malam, semuanya hidup dari tepuk tangan. Bukan karena narsis semata, tapi karena manusia memang makhluk yang ingin diakui keberadaannya. Tepuk tangan adalah kalimat tanpa huruf yang berkata, “Apa yang kau lakukan ada artinya.”

Dalam praktik sosial, tepuk tangan punya banyak wajah. Ada yang tulus sampai tangan pegal, ada yang formal sekadar memenuhi etika, ada yang berdiri penuh hormat. Ada pula yang pelan dan ambigu, antara kagum dan sindiran. Di era digital, ia bermetamorfosis menjadi emoji kecil berbentuk dua telapak tangan. Tidak berbunyi, tapi dampaknya nyata. Satu emoji bisa membuat penulis tersenyum, dua emoji bisa membuatnya menulis lagi.

Maka ketika seorang maestro seperti Jaya Suprana mengirimkan sticker tepuk tangan, itu bukan sekadar gambar lucu. Itu pengakuan, sekaligus tantangan buat saya. Sebuah isyarat halus, karya layak diteruskan, diperdalam, dan diuji. Tepuk tangan jenis ini lebih mahal dari pujian panjang yang kosong.

Pada akhirnya, tepuk tangan adalah doa singkat yang tidak diucapkan. Ia tidak menggurui, tidak menghakimi, hanya mengakui. Di dunia yang ribut oleh kata-kata, bunyi tepuk tangan yang jujur justru terasa paling nyaring. Maka kalau hari ini kita bertepuk tangan, pastikan itu lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan. Karena satu tepuk tangan yang tulus, wak, sering kali lebih berharga dari seribu kalimat yang dipaksakan. (*)

#camanewak






 
Top