JAKARTA -- Anggota Komisi XIII DPR dari Fraksi Partai NasDem, M Shadiq Pasadigoe mendesak penyelidikan kasus dugaan penganiayaan Nenek Saudah (68) di areal Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Lubuk Aro, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.
Dia meminta aparat penegak hukum segera menangkap pelakunya, serta mengecek legalitas atau perizinan aktivitas pertambangan.
Shadiq mengatakan, peristiwa tersebut merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi, karena menyangkut keselamatan warga, keadilan, dan hak asasi manusia (HAM). Kekerasan terhadap warga sipil, terlebih terhadap kelompok rentan seperti lansia, adalah pelanggaran serius yang wajib ditindak tegas oleh negara.
"Praktik pertambangan ilegal tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga menimbulkan berbagai bahaya nyata. Antara lain risiko kecelakaan dan kehilangan nyawa, kerusakan lingkungan, pencemaran sumber air, konflik sosial serta meningkatnya kriminalitas di sekitar tambang," ungkap Shadiq kepada awak media di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Shadiq mengungkapkan, tambang ilegal juga memicu kerugian negara, karena tidak adanya kepatuhan terhadap aturan dan kewajiban hukum.
Secara yuridis, katanya, dugaan penganiayaan dapat dijerat dengan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sedangkan aktivitas pertambangan tanpa izin bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara Minerba).
"Dari sisi perlindungan warga negara, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM menegaskan kewajiban negara untuk melindungi setiap warga negara dari kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi," paparnya.
Lebih lanjut, ia mengaku mendapatkan informasi tersebut melalui pesan WhatsApp (WA) serta berbagai platform media sosial. Dia pun menegaskan akan mengawal proses hukum kasus itu hingga tuntas, demi memastikan tegaknya keadilan, perlindungan HAM, dan kepastian hukum bagi masyarakat.
“Di tengah kondisi masyarakat yang sedang menghadapi musibah bencana alam, negara harus hadir secara tegas dan berkeadilan. Tidak boleh ada pembiaran terhadap kekerasan maupun aktivitas ilegal yang merugikan rakyat. Saya meminta aparat bergerak cepat, profesional, dan transparan,” tegasnya.
Korban PETI
Di tengah krisis ekologis yang kian menggerus ruang hidup warga Sumatera Barat, kekerasan brutal menimpa seorang lansia pejuang lingkungan.
Nenek Saudah (68), warga Jorong Lubuak Aro, Nagari Padang Matinggi Utara, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumbar, dikenal sebagai lansia pejuang lingkungan.
Pada Kamis malam (1/1/2026), nenek renta itu dikeroyok sejumlah pekerja tambang emas ilegal (PETI), karena menolak aktivitas penambangan di tanah miliknya.
Sebelum kejadian, Nenek Saudah mendatangi para pekerja tambang dan meminta mereka menghentikan aktivitas penggalian di lahannya. Awalnya, permintaan itu dipatuhi, aksi penambangan berhenti sesaat.
Namun, usai azan Magrib, para pekerja tambang kembali beroperasi di tanah milik Nenek Saudah.
Mengetahui itu, Nenek Saudah mendatangi para penambang liar yang berjarak 300 meter dari rumahnya. Berbekal senter, dia melangkah di kegelapan malam.
Di tengah perjalanan, Nenek Saudah tiba-tiba dilempari batu. Dalam hitungan detik, sejumlah orang mendekatinya dan langsung melontarkan jotosan ke muka. Tubuhnya limbung kemudian ambruk akibat kekerasan itu.
Sambil memejamkan mata pura-pura pingsan, Nenek Saudah mendengar seseorang menyebutnya telah meninggal. Selanjutnya, tubuh sang nenek dibuang ke semak-semak. di tepi sungai, sekitar pukul 22.00 WIB.
Namun kekuasaan tetap di tangan Allah, sekitar pukul 01.00 WIB, Nenek Saudah tersadar. Segenap kekuatan dikumpulkan agar bisa bangun. Keinginannya hanya satu: pulang.
Perjuangan keras tak sia-sia, dia bisa sampai ke rumah. Namun, belum sempat masuk rumah, Nenek Saudah keburu pingsan. Pihak keluarga yang menemukan, langsung membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kini, Nenek Saudah masih menjalani perawatan intensif di RSUD Tuanku Imam Bonjol, Lubuk Sikaping. Bagian wajah dipenuhi memar, khususnya di kedua matanya. Bibir terlihat pecah. Tubuh sang nenek pun mengalami nyeri hebat. Dia mengaku sering pusing, mungkin akibat benturan keras di kepala. Sadis.
#inc/bin

