Sekretaris LPBI PWNU Sumbar Fahmi Fakhruddin (foto kanan) memberikan materi psikososial sekaligus berbagi motivasi kepada anak-anak penyintas bencana di Desa Maninjau Kecamatan Tanjung Raya.

AGAM, SUMBAR -- Pemulihan psikososial pascabencana di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) masih terus berlangsung. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) melalui tim fasilitatornya, selama tiga hari melaksanakan program dukungan psikososial anak dengan pendekatan Self Healing Therapy (SHT) An-Nahdliyah di Kabupaten Agam dan Kabupaten Padang Pariaman. Program ini menyasar anak-anak penyintas bencana sebagai kelompok rentan yang membutuhkan pendampingan emosional berkelanjutan.

Sekretaris LPBI PWNU Sumbar, Fahmi Fakhruddin, menjelaskan, pendekatan SHT An-Nahdliyah dikemas secara kreatif dan partisipatif sehingga mampu menciptakan suasana yang aman, hangat dan menyenangkan bagi anak-anak. "Tawa, gerak dan kebersamaan jadi ruang pemulihan," ungkapnya.

Melalui metode tersebut, anak-anak didorong untuk lebih akrab, nyaman, serta ekspresif dalam menyalurkan emosi dan pengalaman batin yang mereka alami pascabencana.

“Proses pendampingan dilakukan secara partisipatif, hangat, dan berorientasi pada pemulihan psikososial yang berkelanjutan,” ujar Fahmi kepada www.sumatrazone.co.id, Kamis (22/1/2026) sore.

Fahmi yang mengomandoi kegiatan layanan dukungan psikososial anak-anak penyintas bencana di Kabupaten Agam, persisnya di Desa Maninjau Kecamatan Tanjung Raya, menambahkan, pihaknya melibatkan Tim Fasilitator dari Mahasiswa Psikologi UNP yakni Aisyah El Hafidzah, Fathimah Syarif, Bela Oktavia dan Intan Denata. Menurutnya, keterlibatan fasilitator dari kalangan mahasiswa dinilai efektif karena kedekatan usia, empati, serta kemampuan komunikasi interpersonal yang baik sehingga mampu membangun rasa aman dan kepercayaan diri anak-anak dalam waktu relatif singkat.

“Kedekatan usia dan empati menjadi faktor penting dalam membangun relasi emosional yang intens antara pendamping dan anak-anak penyintas,” jelasnya.

Lebih lanjut, Fahmi menegaskan, pendekatan psikososial ini diselenggarakan dengan menjunjung tinggi nilai dan norma budaya lokal, serta mengintegrasikan pendekatan religius yang ramah dan kontekstual. Hal tersebut dilakukan agar program mudah diterima oleh anak, keluarga, maupun masyarakat sekitar.

“Pendekatan ini menyentuh aspek emosional, sosial, dan spiritual anak secara bersamaan, sehingga pemulihan tidak bersifat instan, tetapi mendalam dan berjangka panjang,” imbuhnya diamini anggota LPBINU pusat, Daffa Khadafi.

Pihaknya berharap, melalui program ini trauma psikososial anak dapat diminimalisir sekaligus mendorong kesadaran publik untuk turut berperan aktif dalam proses pemulihan. Dengan demikian, anak-anak penyintas dapat tumbuh dan berkembang secara wajar, tangguh, serta sehat secara mental.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan dukungan psikososial dilakukan melalui permainan terapeutik, ekspresi seni, cerita reflektif, doa bersama, serta penguatan nilai-nilai lokal dan keagamaan yang disampaikan secara ramah dan tidak menggurui. Pada kesempatan itu, anak-anak juga mendapatkan peralatan sekolah, seperti tas, buku, alat tulis, pewarna, buku gambar dan bacaan. 

LPBINU juga menyiapkan pendampingan lanjutan berupa monitoring psikososial, penguatan peran orang tua dan guru, serta koordinasi dengan komunitas lokal.

Sejumlah peserta kegiatan mengaku merasa senang dan terbantu dengan adanya pendampingan tersebut.

“Kami merasa lebih tenang dan berani mengekspresikan perasaan. Kegiatannya ramah, menyenangkan, dan sangat membantu pemulihan anak,” ungkap mereka.

Ia pun berharap, program serupa dapat terus berlanjut.

“Semoga pendampingan seperti ini terus dilakukan agar pemulihan anak pascabencana berjalan dengan baik dan kegiatan sekolah bisa kembali normal dengan semangat baru,” pungkasnya.

Ketua LPBI PWNU Sumbar Drs Basrial Aidil yang dihubungi www.sumatrazone.co.id di sela kegiatan layanan dukungan psikososial anak-anak penyintas bencana di Kabupaten Padang Pariaman menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan program lanjutan LPBINU pasca bencana akhir Desember tahun lalu. 

"Kami memberikan layanan psikososial kepada anak-anak yang terdampak bencana di Nagari Sungai Buluah Barat Kecamatan Batang Kabupaten Padang Pariaman dan Desa Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya,” ujar Basrial yang pada kesempatan itu juga didampingi anggota LPBINU pusat, Beny Syaaf Jafar.

Lebih lanjut dijelaskan, titik pertama di Padang Pariaman berlokasi di Masjid Shalawat dengan peserta anak-anak usia TK hingga SD. Di Pariaman, ada tiga kali pertemuan dimulai dari 24 hingga 26 Januari. Titik kedua, di Maninjau pun demikian yang dimulai dari 26 hingga 28 Januari.

“Masyarakatnya sangat antusias, tertarik membawa anak-anak ke layanan dukungan psikososial kami. Bahkan setiap pertemuan, pesertanya melebihi dari yang ditargetkan. Tentunya, dengan harapan kegiatan memberikan manfaat bagi masyarakat di dua kabupaten terdampak bencana,” ucapnya.

Adapun layanan dukungan psikososial bertujuan membantu anak-anak yang keluarga terkena dampak bencana secara mental, mereka trauma. Selain itu, juga dapat membantu motivasi mereka kembali seperti keadaan semula, ceria dan jauh dari pada ketakutan, kalau sudah hujan takut dengan adanya dorongan motivasi ini, keluarga dan anak-anaknya tidak cemas dengan hal-hal seperti itu.

Pada kesempatan itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumbar Prof Ganefri mengatakan pelatihan psikososial memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang cara mengenali dampak psikologis pasca bencana.

“Dengan pengetahuan ini, mereka mampu mendeteksi lebih dini tanda-tanda stres berat, trauma pada anak-anak maupun orang dewasa, serta memberikan dukungan emosional yang tepat sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi gangguan yang lebih serius,” jelasnya.

Selain itu, pelatihan ini membekali peserta dengan keterampilan praktis dalam memberikan dukungan psikososial awal. Mereka belajar cara menenangkan korban yang panik, mendampingi anak-anak yang mengalami ketakutan, membangun rasa aman, serta memulihkan kembali rutinitas sosial yang sempat terhenti. Kehadiran pendamping yang terlatih membuat penyintas merasa didengar, dipahami, dan tidak sendirian menghadapi masa sulit.

Manfaat lainnya, menguatkan kembali ikatan sosial dan solidaritas mereka, melalui pendekatan psikososial, kegiatan kelompok seperti permainan anak, diskusi warga, kegiatan ibadah, dan aktivitas komunitas lainnya dapat difasilitasi dengan lebih terarah.


Aktivitas ini membantu memulihkan rasa kebersamaan, mengurangi perasaan terisolasi, dan menumbuhkan harapan untuk bangkit bersama.

Bagi anak-anak, pelatihan psikososial sangat penting karena mereka termasuk kelompok paling rentan terhadap dampak trauma. Pendekatan yang tepat dapat membantu anak mengekspresikan perasaan melalui bermain, menggambar, atau bercerita. Dengan demikian, proses pemulihan berlangsung secara alami tanpa tekanan, sekaligus mencegah dampak jangka panjang terhadap perkembangan mental dan emosional mereka.

Dalam jangka panjang, pelatihan psikososial juga meningkatkan ketahanan masyarakat (resiliensi) dalam menghadapi bencana berikutnya. Masyarakat yang memahami cara mengelola stres, saling mendukung, dan menjaga kesehatan mental akan lebih siap bangkit ketika menghadapi situasi sulit di masa depan.

“Dengan demikian, pelatihan psikososial bukan sekadar kegiatan pendampingan, tetapi merupakan investasi kemanusiaan yang mempercepat pemulihan, memulihkan harapan, dan menguatkan kembali fondasi sosial masyarakat yang terdampak bencana. Pemulihan fisik membangun kembali bangunan, tetapi pemulihan psikososial membangun kembali jiwa dan semangat hidup masyarakatnya,” jelasnya.

#bin/ede





 
Top