by bambang oeban | sastrawan


Aku bukan Panji

bukan panjul atau penjol

atau doncol bin dodol!

Aku yang kini berdiri

di simpang peradaban

bukan sebagai hakim,

bukan pula sebagai nabi,

hanya saksi kebetulan

masih diberi mata,

telinga dan …

kegelisahan.


Aku menyaksikan

negeri kehilangan kompas,

kehilangan arah mata angin,

kehilangan malu, namun

sangat mahir

menyimpan dendam.


Di negeri ini,

jumlah penghuninya

lebih banyak hewan

bernama anjing,

sementara manusia tinggal

kurang dari sepuluh persen

itu pun banyak yang menyamar,

menyembunyikan hati

di balik topeng bulu,

menggeram tapi

mengaku bernalar.

Bukan anjing rumahan

yang setia menunggu tuannya

pulang dengan mata basah,

bukan anjing penjaga ladang

yang tahu batas pagar

dan teritori, melainkan

anjing-anjing liar yang

lupa asal-usul liurnya,

kehilangan adat,

kehilangan adab,

kehilangan rasa cukup.


Asal Usul

Negeri Anjing,

Konon,

legenda ini tidak lahir

dari rahim dongeng, tapi

dari perut yang kenyataannya

terlalu lama ditahan lapar.

Negeri ini dulu

bernama negeri manusia,

negeri kata,

negeri musyawarah,

negeri tempat perbedaan

diperdebatkan dengan akal,

bukan dengan taring.

Namun abad

berjalan pincang.

Para manusia mulai

menukar nurani dengan

tulang kekuasaan.

Mereka belajar menggonggong

lebih keras dari berbicara,

belajar menggigit

lebih cepat dari berpikir.

Sedikit demi sedikit,

mereka berlatih merangkak,

menurunkan punggung,

menajamkan gigi,

hingga lupa caranya berdiri tegak.

Anjing-anjing pun lahir

bukan dari rahim induk,

tetapi dari rahim

keserakahan.


Di pusat negeri,

anjing-anjing duduk

di kursi empuk, mengaku

wakil rakyat padahal hanya

wakil nafsu.

Mereka menggonggong

tentang moral sambil

menyembunyikan bangkai

di balik meja sidang.

Mereka bersumpah

setia pada hukum sambil

menggerogoti tulang konstitusi

sedikit demi sedikit,

rapi,

tak berisik.

Anjing-anjing ini

pandai berpidato, menghafal

kata “demokrasi”

tak pernah mencicipi maknanya.

Mereka tahu cara memutar lidah,

menggiring opini,

menyulap kebohongan

menjadi berita utama.

Dan bila ada manusia bertanya,

“Di mana keadilan?”

anjing-anjing itu akan

serempak menggonggong:

“Untuk stabilitas!

Untuk keamanan!

Untuk kepentingan bersama!”

Padahal yang mereka maksud

adalah kepentingan

kandang.


Di gang-gang sempit,

anjing-anjing jalanan

berkelahi demi sisa tulang

yang sengaja dilemparkan

oleh anjing-anjing elite.

Mereka diajari membenci

tanpa sempat memahami.

Diajak berkelahi tanpa tahu

siapa lawan sebenarnya.

Kulit,

agama,

asal-usul,

bahkan cara berdoa

jadi alasan saling mencabik.

Anjing-anjing ini berteriak

tentang kehormatan sambil

menginjak kehormatan

sesamanya.

Mengaku paling benar

sambil mengotori jalanan

dengan darah dan hoaks.

Dan manusia-manusia

yang tersisa hanya bisa

menutup jendela,

berdoa dalam sunyi,

takut bicara,

takut berpikir,

takut hidup.


Ada pula anjing-anjing

penjaga layar, menguasai kata,

gambar, dan arah angin.

Mereka tak lagi pantulkan kenyataan,

melainkan membengkokkannya

sesuai selera tuan.

Berita dijadikan tulang,

fakta dijilat hingga licin,

lalu dilempar ke publik

dengan label “kebenaran”.

Jika manusia bertanya,

“Mengapa kami bingung?”

anjing-anjing media

akan menjawab:

“Itu karena kalian bodoh.”

Padahal kebingungan itu

dirancang,

diproduksi massal,

dan dijual murah

supaya manusia lupa

bertanya lebih jauh.


Namun ironinya,

yang paling mengerikan

bukanlah anjing-anjing

yang menggigit manusia,

melainkan anjing-anjing

yang dengan sombong

berani meludahi Tuhan.

Mereka menyebut nama Tuhan

sebagai slogan,

sebagai stiker di dahi,

sebagai tameng saat menipu.

Mereka mengutip ayat

tanpa pernah tunduk,

menghafal doa

tanpa pernah diam.

Tuhan Maha Santun

dijadikan alat legitimasi,

bukan sumber etika.

Surga dijadikan umpan,

neraka dijadikan ancaman

untuk membungkam akal sehat.

Dan bila Tuhan tak sesuai

dengan rencana mereka,

maka Tuhanlah yang dituduh

mengganggu ketertiban.


Sejarah pun mencatat,

kurang dari sepuluh persen

manusia masih mencoba

berdiri tegak.

Lutut mereka gemetar,

suara mereka serak,

namun mereka belum

sepenuhnya lupa cara

menyebut kata “malu”.

Manusia-manusia ini

tak sempurna,

tak selalu benar,

namun masih mau belajar.

Mereka percaya bahwa negeri

tak dibangun dari gonggongan,

melainkan dari percakapan.

Bahwa hukum

bukan alat balas dendam,

melainkan jembatan keadilan.

Namun mereka lelah.

Setiap hari harus menjelaskan

mengapa kejujuran penting,

mengapa kekerasan bukan solusi,

mengapa berbeda bukan

berarti musuh.


Di negeri anjing,

filsafat hidup kerap

ditertawakan.

“Untuk apa berpikir,

jika menggigit lebih cepat?”

Namun justru di sanalah

manusia diuji:

apakah hidup hanya soal

bertahan atau tentang

menjaga makna?

Filsafat bukanlah

onggok menara gading,

melainkan kompas batin.

Ia mengajarkan jeda

sebelum reaksi,

pertanyaan sebelum

keyakinan buta.

Tanpa filsafat,

manusia mudah tergelincir

menjadi anjing, bukan sebab

tubuhnya, melainkan

pikirannya menyerah.


Di negeri ini,

moral dijual dalam paket

cepat saji, gampang

disantap, ditelan …

Tanpa proses,

tanpa refleksi,

tanpa tanggung jawab.

Cukup teriak paling keras,

cukup pasang simbol paling besar,

cukup tunjuk musuh bersama,

maka kau dianggap bermoral.

Padahal moral sejati tak berisik.

Ia bekerja diam-diam

di ruang sunyi keputusan,

saat tak ada kamera,

tak ada tepuk tangan.


Sajak Pamflet ini

bukan palu pengadilan.

Aku tidak menunjuk hidung

siapa pun tuan dan nyonya,

sekali pun para janda

sambil berteriak “bersalah!”

Sebab aku tahu,

di dalam diri manusia

ada kemungkinan menjadi anjing,

dan di dalam anjing ada cermin

dari kegagalan manusia.

Menghakimi terlalu mudah,

mengerti jauh lebih sulit.


Aku juga kebetulan

tak membawa kitab

petunjuk instan berjudul …

“Cara Menjadi Manusia dalam Tujuh Hari.”

Setiap zaman

punya luka sendiri,

dan setiap luka

butuh perawatan berbeda.

Yang bisa kutawarkan

hanyalah pertanyaan,

bukan jawaban mutlak.


Maybe, ini solusi sejati

tidak selalu didramatisir.

Ia sering membosankan,

pelan, dan tidak viral.

Ia bernama:

pendidikan yang jujur,

bukan sekadar hafalan.

Ia bernama:

hukum yang adil,

bukan tajam ke bawah

tumpul ke atas.

Ia bernama:

media bertanggung jawab,

bukan sekadar ramai.

Ia bernama:

agama yang membumi,

bukan mengawang sambil

memukul.

Ia bernama:

keberanian untuk berkata

“Aku bisa salah.”


Merawat kemanusiaan

bukan proyek lima tahunan.

Ia pekerjaan seumur hidup.

Dimulai dari hal kecil:

mendengar sebelum menyerang,

membaca sebelum menyebar,

berpikir sebelum menggonggong.

Mengajarkan anak-anak

bahwa perbedaan

bukan ancaman,

melainkan latihan empati.

Mengingatkan pemimpin

bahwa kekuasaan

bukan kandang pribadi,

melainkan amanah rapuh.


Legenda Negeri Anjing

belum tamat, masih ditulis

tiap hari oleh pilihan kecil kita.

Apakah kita akan ikut

menggonggong

demi tulang sesaat,

atau bertahan berdiri

meski sendirian?

Apakah kita akan meludahi langit

sambil mengaku suci,

atau menunduk

karena sadar betapa

rapuhnya diri?


Aku yang berdiri

di simpang peradaban ini,

hanya bisa berharap manusia

yang tersisa berani menyalakan

lampu kecil di tengah kandang

yang gelap tanpa cahaya.

Sebab satu lampu

tak mengusir malam,

tetapi cukup

untuk mengingatkan:

kita masih manusia.

Dan legenda ini,

pada akhirnya,

bukan tentang anjing,

melainkan tentang pilihan,

apakah kita ingin hidup

dengan taring,

atau dengan nurani.

tetap mencari muka

hanya kepada

Tuhan?


Desa Singasari, Malam Jumat Kliwon, 4 September 2025, 22.25




 
Top