Catatan Satire Rizal Pandiya | Penulis

- Sekretaris Perhimpunan Penulis Indonesia Satupena Lampung

// Jagat hiburan tiba-tiba memanas. Bukan karena skandal artis atau gosip murahan, melainkan karena ada dua grup band dengan basis massa yang fanatik dan bisa mengguncang panggung pertunjukan, kini saling “baku serang” lirik lewat lagu.

Pasang telinga, tapi bukan untuk menyimak lirik lagunya saja, melainkan untuk menampung suara piring yang melayang karena saling lempar di dapur kekuasaan. Ternyata, musik kini bukan lagi jadi hiburan belaka, karena sejak “Fufufafa” menjadi teror yang masih menjadi misteri dijagat politik, rupanya juga menjadi teror di jagat hiburan.

Fufufafa juga tidak lagi merupakan kata absurd hasil ketikan jemari lentik para warganet, tetapi juga telah naik derajat menjadi sebuah tema lagu, genre musik, juga sekaligus sebagai alat ukur sebuah kejujuran moral dari para rocker, yang giginya sudah mulai ompong tapi masih suka berteriak, “Mana suaranyaaa?”

Setelah lama tidak terdengar, dan menghilang seperti janji saat kampanye, tiba-tiba Fufufafa mendadak muncul. Bukan melalui mimbar akademik, bukan pula lewat konferensi pers, tapi via amplifier yang diputar ke kanan sampai mentok. Kini, ada dua grup band papan atas sedang turun gelanggang untuk unjuk gigi, dengan warna musik rock yang berisik, gaduh, dan liriknya membawa-bawa akun siluman Fufufafa.

Slank, grup musik yang melegenda, yang dulu identik dengan mabuk, cinta, dan perdamaian, kini sudah seperti notulen rapat kabinet terbatas. “Republik Fufufafa” sepertinya hadir bukan sebagai nyanyian di musim hujan, melainkan mirip siaran pers yang nyaris deadline. Isinya, tentang sekelompok orang di negeri yang sakau: sakau narkoba, sakau kuasa, sakau judi, lengkap seperti paket bansos yang dibagikan ke rakyat miskin.

Liriknya pun menantang dan frontal. Tapi itu memang sudah menjadi ciri khas Slank. Sejak awal kemunculannya, mereka selalu mengusung tema kritik sosial dan selalu diteriakkan dengan suara parau, bukan dengan berbisik manja. Cuma bedanya, kalau dulu mereka berteriak dari luar pagar, tapi kini mereka berteriak dari pagar yang justru pernah mereka bangun sendiri. Dan di situlah publik mulai bertanya, “Ini nostalgia di kursi empuk atau protes?”

Menariknya lagi, syair lagu yang dulu menjadi pengantar galau, namun kini telah menjelma menjadi arsip politik. Musik seakan tidak lagi netral. Nada lagu sepertinya berubah menjadi catatan kaki sejarah. Dan Slank, entah sadar atau tidak, sepertinya ia sedang mengajak fansnya membuka lagi memori kolektif yang tak sempat dihapus, meski berkali-kali diminta untuk “move on”.

Dan memang tak membutuhkan waktu lama untuk mengingat lirik lagu “Salam Dua Jari” pada Pilpres 2014. Lagu wajib yang dinyanyikan oleh mereka yang sedang terhipnotis oleh Jokowi, untuk mengajak memilih presiden yang masuk gorong-gorong. Kalau dulu Slank bicara tentang harapan, kini mereka bicara soal kenyataan. Betapa tipis bedanya: dulu menyanjung, kini menghujat. Dulu memuji, kini mencaci. Namun suaranya tetap sama-sama lantang.

Kini pantun pun berbalas, yang datang dari sebuah grup bernama Kuburan Band. Mereka tak mau ikut-ikutan menghujat, tapi justru lebih memilih membalas dengan lirik yang cukup pedas, lewat “Tak Diberi Tulang Lagi”, Kuburan Band seolah ingin mengatakan,”Rock boleh saja idealis, tapi jangan lupa, perut harus tetap diisi. Dan di saat mangkuk kosong, jeritan suara pun menjadi kritis.

Sampai di reff, satire mulai naik level. Slank disebut sebagai anjing yang setia selama sepuluh tahun. Sebuah lirik yang sangat pedas tapi nampak jujur, seperti sambal lado Padang. Kuburan Band memang tak merobohkan tangga nada, tapi ia memukul sejarah. Ini bukan perkara lagu, melainkan lebih pada soal konsistensi. Bukan pula masalah negara atau republik, tapi soal mangkuk yang mulai kosong.

Lirik “Tak diberi tulang lagi” merupakan sebuah metafora yang paling brutal dalam khasanah musik di Tanah Air, akhir-akhir ini. Jangan salah makna, tulang di sini bukan kalium atau kalsium, melainkan fasilitas dan kemewahan. Tulang juga bukan makanan, gizi, atau nutrisi, tapi juga posisi dan jabatan. Ketika tulang tak lagi dalam genggaman, maka gonggongan pun berubah arah. Dulu ke lawan, sekarang ke bekas tuan.

Nampaknya, Kuburan Band sangat paham bahwa era digital tak mengenal kata lupa atau amnesia. Jejak digital bisa disulap menjadi refrein moral, di mana ucapan yang dulu-dulu beradu dengan lirik hari ini. Sejarah ternyata punya ingatan yang lebih tajam dari busur biola. Publik mungkin bisa lupa, tapi arsip tidak.

Lalu ada yang bertanya, “Apakah ini sedang terjadi perang antara slanker versus termul?” Atau cuma dua grup band yang sama-sama ingin dianggap eksis di tengah algoritma media sosial? Jawabnya, bisa jadi keduanya benar. Karena di republik ini, idealisme kadang bisa dikalahkan dengan nasi bungkus dan berbagi di panggung yang sama.

Sementara, Fufufafa itu sebenarnya cuma simbol, akun tak bertuan di dunia maya. Ia dilahirkan dari sebuah ujaran kebencian, lalu dibesarkan oleh algoritma, dan kini jadi perhatian oleh penikmat seni dan politisi. Dari sebuah anonim menjadi metafora republik. Dari bahan meme lalu menjadi lirik lagu. Sungguh sebuah pencapaian budaya yang aneh.

Ironisnya lagi, akun Fufufafa yang dulu diserang para aktivis, pengamat dan penyinyir, kini justru jadi cermin yang retak. Buktinya, Slank menggunakannya untuk mencerminkan sebuah kekacauan. Sedangkan Kuburan Band, menggunakannya untuk menunjukkan suatu kemunafikan. Keduanya sama-sama benar, dan sekaligus saling menelanjangi.

Pertanyaan yang menohok, apakah Slank sedang merasa sakit hati karena kini sudah tak menjadi komisaris lagi? Bisa iya dan bisa juga tidak. Namun publik sudah terlanjur sinis. Di negeri yang katanya sedang sakau, niat baik memang sering dicurigai. Mungkin saja Slank sedang menyigi kasus korupsi, perjudian yang dilindungi, atau pembalakan liar oleh oligarki. Tapi tetap saja ada yang bertanya, “Ini tulus atau karena sakit hati?”

Yang jelas, Slank tidak sekonyong-konyong berubah. Mereka cuma terlambat menyadari bahwa berada terlalu dekat dengan aras kekuasaan bisa membuat jeritan suara terdengar seperti bisikan. Dan kini, setelah menjauh dari kekuasaan, teriakan itu terdengar lantang. Namun sangat disayangkan, cerita masa lalu diungkit oleh kawan sesama band.

Kuburan Band memang bukan makhluk suci. Mereka cuma lebih jeli membaca peluang dan momentum. Melalui satire yang rapi, mereka meluncurkan sebuah pesan berupa kritik yang paling tajam tapi bukan kepada kekuasaan, melainkan kepada mereka yang dulu pernah menikmatinya.

Kini, Fufufafa resmi jadi lagu kebangsaan bagi orang-orang yang gelisah. Ia dinyanyikan dengan nada sumbang, lalu dibalas dengan sindiran tajam, dan dinikmati netizen sambil menyeruput kopi pahit. Memang di negeri ini, yang paling jujur kadang bukan pidato presiden, tetapi justru lirik lagu yang saling serang dan saling sindir. Nah, di situlah letak hiburannya. (*)

Bandar Lampung, 8 Januari 2026

#MakDacokPedom





 
Top