Yusrizal Karana | Penulis

Sekretaris Perkumpulan Penulis Satupena Lampung


// Beberapa waktu lalu saya mendengar dua sahabat sedang terlibat perdebatan yang cukup serius. Bukan soal warisan, bukan juga soal utang. Mereka ribut soal warna jaket Partai Gerakan Rakyat (PGR). Serius. Jika melihat nada suaranya, seperti sedang membahas APBN. Masalahnya adalah, “Kenapa, kok warnanya mirip rompi tahanan KPK?”

Ini pertanyaan penting. Karena warna rompi itu, sependek yang saya tahu, belum pernah dipakai copet terminal, belum pernah dipakai maling ayam, apalagi maling sendal masjid waktu jumatan. Rompi itu biasanya melekat di badan orang-orang yang dulu pakai dasi, jas, parfum mahal dan kendaraan mewah.

Singkatnya, koruptor. Ini sebuah sebutan yang – amit-amit – tidak pernah ada dalam kurikulum atau buku paket anak SD. Ya, mereka ini korupsi bukan karena lapar, melainkan ingin cepat kaya. Mereka menggangsir uang rakyat yang dikumpulkan dari pajak buruh, petani, pegawai, bahkan mungkin dari emak-emak yang antre beli minyak goreng curah.

Maka wajar saja jika warna itu membuat orang refleks mengernyitkan jidat. Tapi tunggu dulu. Jangan langsung emosi, seperti warganet yang kena jebak klikbait judul berita. Padahal, warna jingga itu bukan warna sembarangan. Ini penjelasannya.

Sebelum masuk pada substansi, kita belajar soal warna dulu. Secara spektrum, jingga berada di antara kuning dan merah. Nah, posisi “di tengah” inilah yang membuat warna jingga jadi serba salah, gelisah, rumit dan penuh makna. Mirip seperti posisi rakyat jelata yang tidak sepenuhnya marah, tapi sudah lelah berharap.

Jika warna merah diidentikkan dengan darah, amarah, bahaya, atau ledakan, dan lampu rem yang tiba-tiba mendadak berhenti, maka warna kuning diidentikkan dengan cahaya, harapan, tapi juga peringatan. Persis seperti traffic light atau rambu lalu lintas yang kadang sering diterabas oleh ketidaksabaran, “Gas atau rem, ya?”

Ketika warna kuning dan merah bertemu, maka lahirlah warna jingga. Seperti sebuah energi yang belum meledak. Seperti emosi yang ditahan, mau marah, tapi masih bisa sopan.

Jika dianalogikan, jingga itu seperti seseorang yang mulai kesal, tapi masih ingat etika. Rasanya ingin ngomel, mulut sudah mau ngeromet tapi ingat kamera CCTV. Rasanya ingin berteriak sambil mencabut badik, tapi sadar kalau masih ber-KTP di negara hukum (katanya). Itulah sebabnya jingga kerap diartikan sebagai warna perubahan.

Perubahan itu sejatinya tidak pernah datang pada siang bolong, karena terlalu terang sehingga semua nampak seperti baik-baik saja. Perubahan juga tidak pernah datang pada malam yang gelap gulita, karena terlalu kelam. Orang sudah keburu pasrah di peraduan.

Perubahan pasti selalu datang pada sebuah senja. Saat matahari pamit tapi rembulan belum berani hadir. Dan senja itu, sebagaimana yang sering dirilis banyak penyair tua, berwarna jingga. Kendati ada nama lain, yaitu oranye, serapan dari bahasa asing: orange.

Itulah sebabnya, penyair lebih suka menulis jingga ketimbang oranye, seperti dalam puisi, “Senja itu jingga.” Artinya, status lama sedang runtuh, tapi status baru belum mapan. Hati sedang ragu, dunia sedang goyah. Lalu kenapa jingga seperti terasa gelisah? Karena mata manusia sering menangkapnya sebagai sebuah warna yang aktif, tapi tidak setenang biru dan tidak semarah merah. Secara psikologi, sebenarnya jingga bisa sedikit menaikkan ritme detak jantung, membuat lebih waspada, serta bisa memberikan sinyal bahwa akan terjadi sesuatu.

Bukan karena takut, melainkan resah karena lama menunggu. Jingga sejatinya adalah sebuah amarah yang ditahan. Jika merah berkata, “Aku marah dan siap meledak,” maka jingga akan menjawab, “Aku juga bisa marah, tapi masih ingat aturan.”

Para demonstran yang budiman biasanya tahu bahwa demonstrasi damai sering berakhir pada sore hari, ketika langit berwarna jingga. Revolusi sering juga dimulai pada senja hari.

Dan pidato paling berbahaya sering disampaikan dengan nada tenang, tapi jingga tidak akan pernah berteriak, melainkan membuat orang harus selalu berpikir. Lalu kenapa KPK memilih warna jingga untuk sebuah rompi bagi tahanannya?

Begini. Secara praktis, warna jingga mudah ditangkap kamera. Karena mencolok jadi sulit disamarkan. Orang yang mengenakan rompi itu dipastikan tidak bisa sembunyi. Mau pakai topikah, maskerkah, atau mengenakan kaca mata hitam, tetap saja kelihatan,”Ooh, itu koruptornya.”

Secara simbolik, KPK tidak memilih warna hitam karena kesannya terlalu absolut. KPK juga tidak memilih warna merah karena mungkin dinilai mengarah pada satu kelompok dan terkesan agak politis. Dan KPK juga tidak memilih putih karena terkesan suci.

KPK justru memilih warna jingga karena para maling itu bukan kriminal jalanan, melainkan datang dari ruang rapat ber-AC, bukan dari sebuah gang yang sempit. Mereka datang bukan dari kolong jembatan melainkan dari gedung yang tinggi. Mereka juga berdasi, berijazah dan sering menyebut kata, “Yang terhormat…”

Rompi jingga adalah peralihan sebuah status dari pemegang wewenang menjadi pesakitan. Dari penjaga hukum menjadi objek hukum, dari penguasa menjadi tahanan. Itulah yang namanya senja kekuasaan.

Jingga itu bukan cantik, tapi tegas. Jingga itu keras, tapi jujur. Jingga itu bukan hiasan, tapi peringatan. Maka jika hari ini Partai Gerakan Rakyat memilih jingga sebagai ikon warnanya, sebenarnya tidak perlu buru-buru dinyinyiri. Warna itu bukan asal comot lantas langsung dideklarasi. Warna itu mengandung pesan yang sangat kuat akan sebuah perubahan yang sedang diperjuangkan, namun belum selesai.

Warna jingga juga merupakan sebuah peringatan kepada kader Partai Gerakan Rakyat, karena suatu saat ia akan mengenakan warna jingga yang sesungguhnya. Jingga yang datang bukan dari kursi partai melainkan dari kursi KPK. Karena itu, kader partai diminta untuk senantiasa ingat bahwa jingga bisa menjadi perisai tetapi juga bisa menjadi jebakan bagi siapa saja yang culas, koruptif, dan memiliki niat yang tidak baik.

Dan masalah perdebatan warna jingga atau oranye? Sudahlah. Itu hanya perbedaan istilah dan sebutan saja. Seperti kopi Robusta tanpa gula dan kopi pahit. Rasanya tetap bikin jantung deg-degan. Sama halnya dengan Anies Baswedan dan Gerakan Rakyat. Mau dibolak-balik, mau ditukar-tukar, ujungnya sama saja: Gerakan Rakyat adalah Anies Baswedan dan Anies Baswedan adalah Gerakan Rakyat. Selebihnya, biarlah senja kala yang akan menjelaskannya. (*)





 
Top