Oleh Christian Heru Cahyo Saputro | Jurnalis
// Tentang Kapal, Gelap dan Kompas yang Tak Pernah Padam
Di kanvas Bambang SBY,
laut bukan sekadar bentang biru,
dan kapal bukan sekadar benda yang mengapung.
Ia adalah diri—
yang berangkat dari dermaga sunyi,
mengusung luka, harap, dan keyakinan
yang sering kali tak sempat diucapkan.
Djong Java hadir sebagai bisikan tua,
seperti suara kayu lambung kapal
yang berderit pelan saat malam turun.
Sebuah ingatan Jawa
yang tidak gemuruh,
namun teguh:
mlaku alon-alon asal tekan—
berjalan perlahan, asal sampai.
Gelap dalam lukisan-lukisannya
bukan sekadar warna pekat.
Ia adalah malam panjang kehidupan:
krisis yang datang tanpa aba-aba,
ketidakpastian yang membuat arah
tak lagi tampak di cakrawala.
Di sanalah manusia sering diuji—
bukan pada terang,
melainkan pada saat mata kehilangan cahaya.
Namun Bambang tahu,
kapal tak diciptakan untuk diam.
Ia lahir untuk berlayar,
meski bintang bersembunyi,
meski angin berkhianat,
meski ombak menampar lambung tanpa ampun.
Dalam kegelapan itulah
kompas batin bekerja.
Bukan kompas besi,
melainkan keyakinan—
nilai yang tertanam,
iman yang diam-diam menyala.
Saat mata tak sanggup melihat tujuan,
hati mengingatkannya.
Kapal dalam gelap
masih bisa menentukan arah,
karena tujuan bukan berada di depan mata,
melainkan di dalam dada.
Sebagai pelukis,
Bambang menjaga mentalitas pelaut tua:
tidak gegabah,
tidak menyerah pada badai.
Setiap goresan adalah langkah kecil
menuju dermaga makna.
Setiap warna adalah doa
agar arah tak hilang
di tengah kabut zaman.
Ia tahu,
diam adalah karam yang paling sunyi.
Bergerak—meski perlahan,
meski penuh kehati-hatian—
lebih mulia daripada menyerah
pada rasa takut.
Lukisan-lukisan itu
adalah catatan pelayaran:
tentang jatuh-bangun,
tentang bertahan,
tentang keyakinan bahwa
selama kompas tujuan masih berfungsi,
gelap tak pernah benar-benar menang.
Dan kita,
yang membaca lukisan-lukisan itu,
seperti diajak naik ke geladak
samudra kehidupan:
belajar menggenggam tujuan,
menguatkan niat,
menyimpan harap
di tengah luas yang tak selalu ramah.
Sebab pada akhirnya,
dalam samudra yang luas dan tak pasti,
bukan cahaya yang paling menentukan arah,
melainkan keberanian
untuk terus berlayar.
Dengan tujuan yang kuat,
dan keyakinan yang kokoh,
InsyaAllah,
kita akan sampai—
meski malam panjang,
meski ombak belum reda. (*)
Semarang 29 Januari 2026

