SERANG -- Aklani, terdakwa kasus korupsi dana desa Rp 925 juta di Lontar, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, mengaku menggunakan dana desa untuk karaoke dan hiburan malam. Sang kades mengaku bersenang-senang dengan stafnya menggunakan dana desa.

#KEPINGIN Order Lipsus, Tayang Pers Relis/Testimoni/Advertorial di Sumatrazone? Hubungi Kami via WA +6283181675398

Dana yang digunakan terdakwa diambil dari proyek-proyek fiktif selama 2020. Misalnya, pembangunan rabat beton di beberapa RT yang nilainya ratusan juta.

Kemudian, ada proyek senilai puluhan juta seperti pelatihan servis ponsel untuk warga saat masa pandemi COVID-19. Ada juga laporan pajak yang tidak disetorkan, bantuan provinsi yang ditilap, hingga gaji pegawai yang tidak dibayarkan.

"Ini total hampir semiliar, banyak banget ini dikemanakan?" tanya hakim ketua Dedy Adi Saputra saat memeriksa terdakwa di Pengadilan Tipikor Serang, Banten, Selasa (31/10/2023) kemarin.

BACA JUGA: Soal Korupsi Dana Desa, Dari Lampung Lain Lagi Ceritanya! 

"Kalau saya merasa buat pribadi ada. Staf merasakan semua yang namanya duit," jawab Aklani.

"Buat beli apa?" tanya hakim.

"Malu ngucapinnya. Kalau saya pakai (kira-kira) Rp 275 juta buat hiburan dengan staf-staf," ujarnya.

Ia merinci, hiburan itu antara lain untuk karaoke dan membayar lady companion (LC). Ia mengatakan dia juga menyawer dengan uang korupsi itu.

"Karaoke, Yang Mulia. Nyanyi-nyanyi doang. Ya kalau hiburannya tiap hari," ujarnya

"Sisanya?" tanya hakim.

"Tiap hari hiburan terus. Ya mungkin ditotal (senilai itu). Nyawer setiap hari ada Rp 500-700 (ribu)," jawabnya.

Saweran itu katanya diberikan ke perempuan yang menemaninya dan staf saat karaoke. Ia menyebutkan uang itu juga dibagikan ke stafnya untuk menyawer LC.

#KEPINGIN Gabung Jadi Biro Iklan Sumatrazone? Buruan Hubungi Kami via WA +6283181675398

"Per orang (nyawer) ladies cepek (Rp 100 ribu). Saya bawa staf masing-masing (nyawer) Rp 500 (ribu)," ujarnya.

"Yang namanya duit, Yang Mulia, jangankan uang segitu, buat hiburan setiap hari habis," sambungnya.

Ia mengaku biasanya menghabiskan Rp 5-9 juta dalam satu malam. Dia juga mengaku agar tempat hiburan itu bisa dibuka untuknya meski sedang hari libur.

"Kecilnya aja Rp 5 juta semalam, paling besar Rp 9 juta," ujar Aklani.

"Jumat kalau buka, saya hajar juga, saya minta sama mami, 'Mi, buka'," sambungnya.

Aklani mengaku menyesali perbuatannya. Ia mengaku melakukan hal itu bersama dengan staf Desa Lontar.

"Bukan nyesel, nangis Yang Mulia. Kalau di musala nangis saya. Kan minta tobat, Yang Mulia," ujarnya.

"Saya mau pertimbangan untuk staf saya juga yang merasakan manisnya (dihukum), masa saya sendiri merasakan pahitnya," sambungnya Aklani.

#dtc/bri/haf







 
Top