SABANG, ACEH  -- Pengungsi Rohingya yang sudah melakukan perjalanan dari Bangladesh menuju Indonesia, khususnya ke Aceh disebut harus mengeluarkan biaya. Tak sedikit juga dari mereka harus menjual barang berharga untuk bisa berlayar meninggalkan Kamp Cox's Bazar, Bangladesh.
BACA JUGA: PAKKI Sumbar - Fakultas Teknik UNP Teken MoU, Diawali 11 Dosen FT Ikuti Pelatihan Agen Muda K3 Konstruksi 

Harga yang ditawarkan oleh para agen perjalanan juga bervariasi, mulai dari 20.000 - 100.000 Taka Bangladesh per orang. Jika dirupiahkan dari Rp2,8 juta - Rp 14 juta.

Namun ada juga agen yang hanya menghitung per satu keluarga. Jika tak memiliki uang, maka agen tak mengizinkan pengungsi Rohingya naik ke kapal kayu.

KEPINGIN Gabung Jadi Biro Perwakilan Media Online Sumatrazone di Wilayah Anda? Dapatkan Aneka Fasilitasnya! Hubungi Kami via WA: +6283181675398. SYARAT RINGAN, QUOTA TERBATAS!

Hanya satu rute perjalanan yang ditawarkan yaitu ke Indonesia dan titik pendaratan di Provinsi Aceh. Mereka memilih Aceh karena mayoritas populasi Muslim di daerah ini dengan anggapan mereka bakal diterima untuk tinggal. Tidak ada arah kapal untuk tujuan Malaysia.

Seorang pengungsi Rohingya di Sabang, Muhammad Idris yang cukup mahir berbahasa Melayu mengatakan, semua pengungsi yang mendarat di Aceh sudah membayar uang perjalanan ke orang-orang Bangladesh, dengan jaminan kapal kayu sudah terisi bahan makanan.

"Kami satu keluarga harus bayar 20.000 Taka ke orang-orang Bangladesh untuk menuju ke sini. Semua juga harus bayar ke mereka kalau tidak bayar tidak bisa naik (kapal)," kata Idris kepada awak media saat ditemui di tempat penampungan pengungsi Rohingya di Dermaga CT I Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Jumat (8/12/2023).

BACA JUGA: Ada Kecurigaan Judi Online 'Dipelihara', Kini Candunya Rambah Anak SD!

Menurutnya orang-orang etnis Rohingya lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Indonesia karena situasi di kamp Bangladesh sangat memprihatinkan dengan tingkat kriminal yang tinggi yang justru dilakukan oleh orang-orang Bangladesh.

Mereka etnis Rohingya kerap dimintai uang oleh warga di sana, jika tidak diberikan maka nyawa jadi taruhannya. Opsi kedua harus berlayar atau berpindah tempat meninggalkan kamp pengungsian. Namun tidak gratis, harus membayar ke agen-agen warga Bangladesh.

Idris tak tahu persis bagaimana jaringan agen-agen di sana merekrut etnis Rohingya untuk mau melakukan perjalanan ke Indonesia. Ia hanya menyebut, sebagian dari mereka memilih meninggalkan Bangladesh karena tidak tahan dengan kondisi kehidupan di sana.

"Ada orang-orang Bangladesh sering bikin gaduh-gaduh, minta duit, kalau tidak ada duit kita mati," ujar Idris.

Ia beralasan tujuan ke Aceh hanya untuk menghindari orang-orang tersebut yang bisa saja mengancam nyawa setiap etnis Rohingya di kamp. "Tujuan ke sini karena tidak ada orang Bangladesh, di sini kita ok, aman," katanya.

Sementara itu pengungsi Rohingya lainnya Rohima Kathum, berstatus janda tiga anak ini terpaksa kabur dari Bangladesh karena suaminya dibunuh oleh orang-orang yang dinilai berbahaya di kamp pengungsian.

Ia menceritakan hal itu ke dengan bahasa Rohingya yang diterjemahkan oleh rekannya ke bahasa Melayu. "Suami saya dibunuh orang berbahaya, jadi saya takut dan ikut lari ke Indonesia,"

"Saya tidak mau kejadian ini juga terjadi ke anak saya. Saya orang tidak punya, untuk naik kapal ke sini dibantu oleh keluarga di sana agar saya selamat," kata Rohima.

Ia memilih Indonesia lagi-lagi karena rute kapal yang disediakan hanya menuju ke sini dan tidak ada pilihan lain dan ia menilai orang Indonesia tidak seperti di Bangladesh. "Alasan ke sini juga karena Indonesia orang baik," ucapnya.

#gia





 
Top