oka swastika mahendra | Sastrawan


PAGI itu, radio di warung kopi kembali menyebut angka.

“Update terbaru: seribu tiga orang meninggal dunia,” kata penyiar, suaranya bersih, terlatih, tanpa jeda emosional. Seperti sedang membaca hasil undian.


Aku berhenti mengaduk kopi. Uapnya naik pelan, seperti arwah yang masih ragu meninggalkan dunia. Seribu tiga. Angka itu terdengar rapi, lurus, sopan—tidak seperti tubuh-tubuh yang ditemukan semalam, terpelintir, terjepit kayu, terbungkus lumpur. Angka selalu punya keistimewaan: ia tak pernah basah oleh air mata.


Di warung, beberapa orang mengangguk pelan.

“Musibah alam,” kata seorang lelaki sambil menyalakan rokok.

“Takdir,” sahut yang lain, seolah dua kata itu cukup untuk menutup peti mati massal.


Tak ada yang menyebut hutan. Tak ada yang bertanya kenapa air datang seperti pasukan. Tak ada yang mengingat kapan terakhir sungai diberi ruang bernapas. Kayu-kayu yang kini hanyut disebut sekadar “material terbawa arus”, bukan bukti kejahatan yang terlalu lama dibiarkan.


Aku menatap keluar. Di kepalaku, Sumatra menjelma tubuh besar yang dipaksa kurus, disayat izin demi izin. Bedebah—kata orang tua di kampungku dulu—adalah saat kayu turun gunung bersama murka. Saat alam berhenti memberi tanda, dan langsung menjatuhkan vonis.


Siang hari, televisi menyala di rumah tetangga. Kunjungan pejabat disiarkan langsung. Mereka mengenakan rompi lapangan yang masih kaku, sepatu bersih yang tak sempat mencium lumpur. Di belakang mereka, peta besar dibentangkan. Sungai ditunjuk, lereng diberi garis merah, seolah bencana bisa dipahami hanya dengan spidol dan papan presentasi.


“Pemerintah bergerak cepat,” kata reporter.

Puluhan ton beras, ribuan selimut, ratusan toilet portabel.

Delapan puluh enam miliar rupiah dari anggaran negara.


Di layar, semua tampak tertib. Di luar layar, seorang ibu duduk di tenda pengungsian, membagi satu telur rebus untuk tiga anak. Anak sulung pura-pura kenyang. Anak tengah mengunyah lambat, takut cepat habis. Anak bungsu hanya menjilat kuningnya, lalu tertidur sambil menangis. Di sudut lain, seorang kakek batuk panjang, menunggu obat yang katanya masih di perjalanan karena jalan terputus.


Malam datang tanpa listrik. Hujan turun seperti peringatan yang diulang-ulang. Orang-orang tak lagi berharap bantuan datang cepat. Mereka hanya berharap tak ikut menjadi angka baru di siaran pagi.


Esoknya, kabar baik menyeruak.

“Indonesia peringkat dua SEA Games 2025!”


Di warung, orang-orang bersorak kecil. Medali emas disebut satu per satu. Atlet difoto sambil menggigit keping kemenangan. Lagu kebangsaan diputar. Bendera dikibarkan tinggi. Negeri ini, rupanya, masih punya banyak alasan untuk bangga.


Aku ikut tersenyum, refleks, lalu merasa bersalah. Di tempat lain, bendera putih ditancapkan di tanah basah, menandai kuburan darurat. Tak ada podium. Tak ada lagu. Hanya doa pendek yang dipercepat hujan.


Sore harinya, negara kembali tampil gagah. Menteri ini mencabut persetujuan lingkungan delapan perusahaan. Menteri itu menyatakan dua puluh izin kehutanan akan dicabut. Total luasnya disebutkan dengan penuh wibawa: ratusan ribu hektare.


“Kinerja mereka buruk,” kata pejabat itu.


Bukan karena hutan mati.

Bukan karena sungai berubah algojo.

Bukan karena seribu tiga manusia kehilangan masa depan.


Di Batang Toru, operasi beberapa raksasa dihentikan—sementara. Audit ketat akan dilakukan. Kata “sementara” diucapkan ringan, seperti cuti singkat setelah pesta panjang. Alam rusak puluhan tahun, perusahaan cukup menunggu sebentar.


Moratorium diberlakukan. Investigasi berjalan. Penegakan hukum dikoordinasikan. Bahasa negara berderet rapi, kokoh, meyakinkan. Sayangnya, semua kata itu lahir setelah gelondongan kayu hanyut bersama mayat, setelah longsor lebih dulu menagih nyawa.


“Kita sudah tegas,” kata seorang pejabat di layar.

“Perusahaan perusak disikat satu per satu.”


Satu per satu.

Pelan.

Seolah korban bisa antre.

Seolah kematian punya jadwal tunggu.


Malam kembali turun. Radio memutar doa. Alfatehah dibacakan cepat, diselipkan di antara iklan kopi dan ponsel pintar. Seribu tiga nama diringkas jadi satu angka, lalu disimpan di arsip, di server, di ingatan yang mudah dipadamkan.


Aku mematikan radio. Di luar, hujan belum selesai. Aku membayangkan kayu-kayu itu bergerak lagi, mengingat jalan pulang yang dulu mereka kenal sebelum ditebang dan dijual dengan stempel sah.


Barangkali, pikirku, ini bukan musibah.

Ini hasil.

Hasil dari izin yang ditandatangani sambil tersenyum,

dari hutan yang dianggap angka,

dari kesadaran yang selalu datang

setelah kematian cukup banyak

untuk layak ditangisi.


Jika esok pagi angka itu bertambah,

kita mungkin akan kembali terkejut.

Lalu kembali sibuk.

Lalu kembali lupa. (*)


Jogjakarta 15 Desember 2025





 
Top