Oleh Christian Heru Cahyo Saputro | Jurnalis Pemerhati Seni Rupa


SEPANJANG tahun 2025, seni rupa Lampung bergerak seperti arus pasang yang tak selalu riuh, tetapi pasti. Ia mengalir dari ruang ke ruang, dari kanvas ke dinding, dari galeri ke taman budaya, membawa serta kegelisahan zaman, ingatan kolektif, dan keberanian untuk bersuara.

Dalam berbagai tulisan dan catatan yang dipublikasikan penulis, Lampung tampak bukan sekadar latar geografis, melainkan ruang hidup yang sedang menegosiasikan identitasnya.

Tahun ini, seni rupa Lampung tidak berhenti pada keindahan visual. Ia menjelma bahasa tindakan, ruang dialog, dan medium empati.

We Take Action: Ketika Kanvas Tidak Lagi Diam

Pameran lukisan “We Take Action” di Taman Budaya Lampung menjadi penanda penting awal tahun. Pameran ini tidak lahir dari kehendak memamerkan keterampilan semata, melainkan dari dorongan untuk bersikap. Di ruang itu, lukisan-lukisan berdiri sebagai pernyataan: tentang keresahan sosial, tentang realitas yang menuntut keberpihakan.

Dalam catatan penulis pameran ini dibaca sebagai titik balik—bahwa seni rupa Lampung sedang bergerak dari representasi menuju partisipasi. Perupa tidak lagi sekadar mencatat dunia, tetapi ikut menyentuh dan menggugatnya. Kanvas tidak diam; ia bersuara.

Bhinneka DKL: Merayakan Perbedaan, Menyulam Kebersamaan

Dari pameran, seni rupa Lampung bergerak ke perayaan keberagaman melalui Bhinneka DKL. Di sini, seni tidak ditempatkan sebagai menara gading, melainkan sebagai ruang temu. Berbagai latar, gaya, dan pendekatan artistik hadir berdampingan, menegaskan bahwa Lampung adalah simpul perjumpaan banyak identitas.

Christian Saputro mencatat peristiwa ini sebagai bukti bahwa seni rupa Lampung tumbuh dari pluralitas. Perbedaan bukan jarak, melainkan energi kreatif. Di tangan para perupa, kebinekaan menjelma palet warna yang saling menguatkan.

Transformasi Budaya di Era Urbanisasi

Di tengah laju urbanisasi yang mengubah wajah kota-kota di Lampung, seni rupa menjadi medium refleksi yang jujur. Taman Budaya Lampung kembali memainkan perannya sebagai ruang tafsir—tempat seni membaca perubahan sosial: pergeseran nilai, benturan tradisi dan modernitas, serta pencarian identitas di tengah arus kota.

Dalam tulisan-tulisan penulis melihat seni rupa Lampung 2025 sebagai arsip hidup transformasi budaya. Karya-karya tidak berteriak, tetapi berbisik tentang kampung yang berubah, tentang kota yang tumbuh cepat, tentang manusia yang berusaha menemukan pijakan di antara keduanya.

Pamor DKL: Menegaskan Eksistensi, Menjaga Marwah

Pameran Pamor DKL menjadi penegasan posisi. Di sini, seni rupa Lampung tampil percaya diri, menunjukkan kematangan artistik sekaligus keberanian konseptual. Bukan sekadar pameran rutin, Pamor DKL dibaca sebagai pernyataan eksistensi—bahwa seni rupa Lampung memiliki daya tawar, karakter, dan kontinuitas.

Penulis mencatat Pamor DKL sebagai upaya menjaga marwah seni rupa daerah di tengah perubahan zaman: tidak terjebak romantisme lokal, namun juga tidak tercerabut dari akar.

Dialog untuk Sumatera: Seni sebagai Bahasa Kemanusiaan

Tahun 2025 menemukan puncak emosionalnya dalam “Dialog untuk Sumatera” di Taman Budaya Lampung. Pameran ini lahir dari duka, solidaritas, dan kepedulian. Seni rupa tidak lagi berbicara tentang diri sendiri, melainkan tentang sesama.

Dalam dialog ini, karya menjadi bahasa kemanusiaan. Setiap garis dan warna mengandung empati—tentang bencana, tentang kehilangan, tentang harapan yang harus dirawat bersama.

Penulis menempatkan peristiwa ini sebagai bukti bahwa seni rupa Lampung telah melampaui fungsi estetika: ia hadir sebagai ruang penyembuhan dan perenungan kolektif.

Catatan Akhir

Sepanjang 2025, seni rupa Lampung bergerak dalam lintasan yang jujur dan berani. Dari aksi, kebinekaan, transformasi budaya, penegasan eksistensi, hingga solidaritas kemanusiaan, semuanya membentuk satu mozaik besar: Lampung sebagai ruang seni yang hidup.

Dalam catatan dan tulisan saya, seni rupa Lampung tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan manusia, ruang, dan zaman. Ia tumbuh bukan untuk sekadar dikenang, tetapi untuk terus dipertanyakan—dan diperjuangkan. Lampung, pada 2025, adalah kanvas yang belum selesai. Dan seni rupanya terus menorehkan cerita. (*)







 
Top