PERISTIWA pemberontakan PRRI menimbulkan luka mendalam di kalangan orang-orang Minang. Banyak menimbulkan korban jiwa di kalangan sipil.
PRRI adalah singkatan dari Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, sebuah gerakan separatis yang diproklamasikan di Sumatera pada tahun 1958 sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah pusat Soekarno karena ketidakpuasan atas ketidakadilan pembangunan dan sentralisasi yang dianggap merugikan daerah luar Jawa, terutama Sumatera.
Gerakan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh militer dan sipil, termasuk Ahmad Husein dan Sjafruddin Prawiranegara dan seringkali disebut bersama PERMESTA (Perjuangan Semesta) dari Sulawesi, yang memiliki tuntutan serupa mengenai otonomi daerah dan perbaikan ekonomi.
Sutan Iskandar (kelahiran 1947), masih segar mengingat peristiwa pemberontakan PRRI di Bukittinggi. Saat itu usianya baru saja beranjak 12 tahun ketika sekelompok tentara pusat (sebutan orang-orang Minang kepada tentara pemerintahan Sukarno) menggiring ratusan lelaki dalam kelompok-kelompok kecil ke arah tugu Jam Gadang.
"Selanjutnya saya tidak menyaksikan lagi mereka diapakan, tapi memang saya mendengar tembakan berkali-kali dari arah Jam Gadang," kenangnya.
187 Orang Dibunuh di Dekat Jam Gadang
Dalam buku "PRRI: Pemberontakan atau Bukan?" karya Syamdani, apa yang pernah disaksikan Sutan Iskandar adalah kenyataan sejarah adanya. Mengacu kepada sebuah artikel yang pernah dimuat surat kabar Singgalang edisi 20 Januari 2000, ada 187 orang Minang yang pernah dibunuh di dekat tugu kebanggan masyarakat Bukittinggi tersebut.
Ironisnya, dari jumlah itu, hanya 17 orang yang teridentifikasi sebagai gerilyawan PRRI, sedangkan 170 lainnya merupakan warga sipil yang tidak mengerti apa-apa.
Selain Insiden Jam Gadang, pembunuhan, penyiksaan dan teror pun banyak dialami oleh rakyat Sumatera Barat kala itu. Betti Yusfa dalam sebuah makalah yang dikeluarkan oleh IKIP Padang pada 1998, ‘Kekerasan dalam Zaman PRRI di Tlatang Kamang 1958-1961’, menuliskan kisah pilu keluarga seorang ulama asal Kamang bernama Kari Mangkudung.
Dari hasil wawancara Betti dengan seorang tokoh masyarakat di Kamang, Z Sutan Kabasaran, dituturkan bagaimana keluarga Kari Mangkudung musnah dibantai tentara pusat.
"Mereka hanya menyisakan seorang bayi berusia tiga bulan yang kemudian dibawa seorang tentara pusat dan sampai sekarang tidak diketahui lagi di mana rimbanya,” ungkap Sutan Kabasarn seperti yang dikutip oleh Betti dalam makalahnya.
Mayat Digulingkan dari Bukit
Betti juga mengungkap insiden di Desa Bansa pada 1959. Dari saksi sejarah bernama M. Datuk Manindieh dikisahkan tentang kisah sedih tiga pemuka masyarakat Desa Bansa. Yakni Datuk Kabasaran, Datuk Beco dan datuk Alam.
Tanpa sebab musabab, ketiga orang tua yang tak berdaya itu diperintahkan jalan ke Desa Pauh (berjarak 4 km dari Bansa) sambil diiringi oleh sekelompok tentara pusat.
Begitu sampai di Desa Pauh, para tentara itu menyuruh ketiga orang tua tersebut mendaki sebuah bukit. Sambil terseok-seok, ketiganya menuruti apa yang diperintahkan oleh para prajurit tersebut. Alih-alih dibebaskan, ternyata ketiganya hanya menjadi sasaran latihan tembak.
"Dari jarak yang cukup jauh, tentara pusat menembaki mereka satu persatu hingga mayat-mayat ketiganya bergulingan ke kaki bukit," ungkap Datuk Manindieh.
Tank Tembaki Rumah Warga
Teror juga dilakukan oleh tentara pusat terhadap orang-orang Kuala Tangkar. Kesaksian seorang penduduk bernama Sanur dalam surat kabar Singgalang, 2 Februari 2000 menyebutkan bahwa pernah karena orang-orang Kuala Tangkar dianggap pro PRRI, mereka menyerang desa itu dengan mengerahkan empat tank baja.
"Tank-tank itu menghujani rumah-rumah penduduk dengan peluru-peluru secara membabibuta hingga musnah terbakar," ungkap Sanur.
Pembantaian massal juga pernah dilakukan tentara pusat pada November 1959 di Kamang. Pada hari Senin saat diadakan hari pakan/pasar, sejak pukul 7 pagi, tak hentinya tentara pusat mengirimkan peluru-peluru mortir dari Bukittingi.
Tak cukup dengan menggunakan mortir, artileri berat dari Angkatan Darat pun ikut berbunyi disusul dengan serangan udara dari sebuah pesawat tempur. Akibatnya banyak rakyat bersimbah darah.
Sebagaimana diketahui, pada 10 Februari 1958, tercetuslah yang disebut sebagai PRRI (Pemerintah Revolusiener Republik Indonesia). Pimpinan Letnan Kolonel Ahmad Husein (tokoh pejuang kemerdekaan Sumatera Barat) di Padang.
Awalnya, menurut sejarawan RZ Leirissa dalam bukunya berjudul "PRRI Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis," gerakan itu sebagai koreksi politik terhadap pemerintahan Presiden Sukarno yang dianggap berat ke sebelah kiri atau "kekiri-kirian".
'Dikompori' kelompok-kelompok kiri, terutama Partai Komunis Indonesia (PKI), kritik dan permintaan untuk membubarkan kabinet Djuanda itu malah disikap Presiden Sukarno secara keras.
Lalu, Presiden Sukarno memerintahkan tentara menyerang Sumatera Barat. Maka diadakanlah Operasi 17 Agustus 1958 yang dipimpin oleh Kolonel Achmad Jani. Sejak itulah ranah Minang dibekap perang saudara yang memilukan.
###

