Rosadi Jamani | Penulis

- Ketua Satupena Kalbar


KADANG kasihan lihat Bu Wagub Babel. Ditersangkakan polisi gara-gara dugaan ijazah palsu. Dramanya sangat pendek, polisi sangat gercep. Berbeda dengan kasus ijazah yang lain. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Pulau Belitung pagi itu terasa seperti adegan pembuka film Laskar Pelangi versi politik. Matahari menyinari pantai granit, ombak bergulung tenang, tapi di daratan, badai administratif sedang menghantam Wakil Gubernurnya. Gubernur Bangka Belitung, Hidayat Arsani, berdiri bak mercusuar di Tanjung Kelayang. Tinggi, tegak, tapi memberi sinyal bahwa kapal yang karam itu bukan miliknya. “Ini urusan pribadi,” katanya. Pribadi. Sebuah kata yang diucapkan seringan pasir putih Belitung, padahal bobotnya sekeras batu granit.

Publik pun tertegun. Lah, bukankah Hidayat dan Hellyana dulu berlayar dengan perahu yang sama, diikat tali politik yang sama, berfoto dengan senyum yang sama, dan dilantik dengan sumpah yang sama? Tapi sang gubernur memilih posisi aman, seperti nelayan yang tiba-tiba mengaku cuma numpang duduk di perahu saat badai datang. Jangan dikaitkan, katanya. Ini ranah hukum. Selesai. Bahkan ia menambahkan jurus pamungkas, saat maju sebagai calon wagub, Hellyana pakai ijazah SMA. Bukan ijazah sarjana yang sekarang dipersoalkan. Logika ini disajikan seperti mie belitung, gurih di awal, tapi bikin mikir di akhir.

Masalahnya, badai ini tidak muncul dari langit biru. Ia datang dari laporan seorang mahasiswa Universitas Bangka Belitung, Ahmad Sidik, yang tampaknya bosan melihat batu granit keadilan hanya jadi hiasan pantai. Pada 21 Juli 2025, ia melangkah ke Bareskrim Mabes Polri dengan membawa bukti awal, tangkapan layar PDDIKTI, fotokopi ijazah Sarjana Hukum Universitas Azzahra, dan surat edaran Pemprov Babel yang ditandatangani Hellyana lengkap dengan gelar “SH”. Gelar kecil, tapi dampaknya seperti ombak musim angin timur.

Cerita makin epik saat diketahui Universitas Azzahra, kampus asal ijazah itu, sudah ditutup pemerintah lewat SK Kemendikbudristek Nomor 370/E/O/2024. Kampusnya tutup, tapi ijazahnya masih jalan. Seperti mercusuar mati yang masih dipakai kapal sebagai penunjuk arah. Absurd, tapi nyata.

Lalu datanglah klimaks ala film layar lebar. Surat penetapan tersangka tertanggal 17 Desember 2025 beredar, lengkap dengan nomor panjang yang terdengar seperti mantra hukum. Hellyana dijerat pasal berlapis, pemalsuan surat, pemalsuan akta autentik, hingga penggunaan gelar akademik yang diduga tak sah. Pasalnya berderet seperti batu-batu granit di Pantai Tanjung Tinggi, besar, keras, dan sulit dielakkan. Bareskrim membenarkan. Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko mengucapkan kalimat singkat tapi menghentak, “Iya benar.”

Namun drama belum selesai. Di warung kopi Manggar sampai sudut-sudut Pangkalpinang, muncul pertanyaan yang lebih tajam dari duri ikan, kenapa cuma wagub? Bukankah proses pencalonan melewati partai politik dan KPUD dengan verifikasi berlapis-lapis, katanya seketat jaring nelayan Belitung? Kalau semua itu berjalan, bagaimana ijazah bermasalah bisa lolos sampai panggung kekuasaan? Kalau hulunya bocor, kenapa hilirnya saja yang disalahkan?

Ada pula bisik-bisik yang lebih pahit dari kopi hitam: mungkin Hellyana mudah ditersangkakan karena tak punya backing kuat. Dalam politik kita, hukum kadang seperti perahu wisata, kuat menampung yang berduit, tapi mudah oleng kalau penumpangnya sendirian.

Hidayat berharap Hellyana menyelesaikan kasus ini dengan baik di Mabes Polri. Kalimat yang terdengar manis, tapi dinginnya seperti angin laut malam hari. Pulau Belitung pun kembali jadi saksi, satu kapal karam, banyak yang berpura-pura tidak ikut berlayar. Granit tetap diam, tapi rakyat mencatat.


Batu granit tepi pantai

Ombak tenang pagi hari

Satu jabatan mulai tercecai

Tegak goyang dihadapi sendiri


Laskar pelangi pandang langit

Kopi Manggar pahit legit

Saksi pelangi pandang sulit

Nyali longgar semakin terhimpit


Mercusuar tegak malam sepi

Perahu karam laut bertepi

Kekuasaan tegak hukum menjadi

Tersangka karam aturan sunyi (*)


#camanewak




 
Top