Puisi Yurnaldi Paduko Rajo


1.

Uang di Panggung, Rakyat di Belakang Layar


Uang ditumpuk rapi

di halaman kejaksaan.

Enam koma enam triliun rupiah

dipamerkan seperti piala.


Kamera menyala.

Pidato dimulai.

Presiden bicara tentang keberpihakan,

tentang negara yang hadir,

tentang rakyat yang dilindungi.


Tapi rakyat hanya penonton.

Yang ditampilkan adalah uang,

bukan kebenaran.


Yang disorot adalah angka,

bukan asal-usulnya.


Enam koma enam triliun

bukan satu cerita.

Ia dikemas,

disatukan,

lalu dijual sebagai dongeng

tentang negara yang tegas

melawan kejahatan.


Di sinilah sandiwara dimulai.


2.

Membelah Angka, Membuka Kebohongan


Empat koma dua triliun

datang dari gula dan CPO.

Korupsi impor.

Luka lama.

Tak ada kait

dengan hutan yang gundul

dan sungai yang meluap.


Hanya dua koma tiga triliun

yang berhubungan

dengan bencana Sumatra.


Dua koma tiga

untuk tanah yang runtuh,

air yang membunuh,

dan ribuan nyawa

yang tak sempat berteriak.


Angka itu kecil.

Terlalu kecil

untuk bencana sebesar ini.


Namun di podium,

semuanya dilebur,

disamakan,

disebut sebagai kemenangan negara.


Padahal itu manipulasi cerita.


3.

Tanpa Borgol, Tanpa Nama


Tak ada satu pun

baju oranye.

Tak ada tersangka

dipamerkan.


Karena ini bukan pidana,

kata negara.

Ini hanya administrasi.


Dua puluh perusahaan sawit.

Satu perusahaan tambang.

Melanggar hukum.

Merusak hutan.


Datang,

menyetor uang,

lalu pulang.


Siapa pemiliknya?


Negara menjawab pelan:

rahasia.

Nama-nama itu

lebih dilindungi

daripada nyawa rakyat.

Di republik ini,

uang bisa menebus segalanya,

asal cukup besar

dan disetor tepat waktu.


4.

Administrasi yang Memutihkan Kejahatan


Dua koma tiga triliun

dibayar sebagai denda.

Sebagai pengganti kerugian.


Sebagai tiket kebebasan.


Izin diputihkan.

Konsesi berlanjut.

Bisnis tetap berjalan.


Sementara yang rusak:

1.200 kilometer jalan nasional.

31 jembatan nasional.

127 sungai.

975 sekolah.

174 ribu rumah warga.


1.559 nyawa hilang.

129 tak pernah kembali.

Ini bukan kerugian administrasi.


Ini tragedi kemanusiaan.


Tapi negara

menghitungnya

seperti laporan keuangan.


5.

APBN Bocor, Bantuan Ditolak


Negara berkata:

kami mampu.


Bantuan internasional ditolak.

Dengan alasan harga diri.


Padahal APBN

sudah megap-megap.

Defisit ratusan triliun.


Belanja lebih besar

dari penerimaan.


Jika benar mampu,

mengapa rakyat

mengibarkan bendera putih?

Mengapa tanggap darurat

tak kunjung berakhir?


Mengapa pemulihan

hanya janji

di balik mikrofon?


6.

Takut Investigasi, Takut Terbongkar


Bantuan asing ditolak

bukan karena mampu,

melainkan karena takut.


Takut jika investigasi masuk.

Takut jika dunia bertanya.


Siapa merambah hutan?

Siapa membiarkan?

Siapa menikmati.


Karena jika kebenaran dibuka,

konflik kepentingan ikut terbuka.


Dan mungkin,

kekuasaan

tak sepenuhnya bersih.


7.

Rakyat Ditinggal, Korporasi Dirangkul


Korporasi tersenyum.

Ongkang-ongkang kaki.


Mereka sudah bayar.

Murah.

Sangat murah.


Negara merangkul mereka,

sementara rakyat

dibiarkan berjuang sendiri.


Ekonomi lumpuh.

Hidup patah.


Di Aceh,

tanggap darurat diperpanjang.

Bencana belum selesai.

Tapi perhatian negara

sudah habis.


8.

Negara Bertekuk Lutut


Inilah wajah kekuasaan

yang telanjang.


Negara bertekuk lutut

di hadapan korporasi.


Uang dijadikan panggung.

Pidato dijadikan tirai.

Rakyat dijadikan latar.


Sandiwara dimainkan

atas nama keadilan.


Padahal yang dilindungi

adalah mafia ekonomi,

rent seeking,

dan kekuasaan

yang takut pada kebenaran.


Hentikan sandiwara ini.


Penderitaan rakyat

bukan bahan pencitraan.

Nyawa manusia

bukan properti politik.


Sejarah akan mencatat:

siapa berdiri bersama korban,

dan siapa berdiri

di sisi pelaku. (*)


Padang, 30 Desember 2025




 
Top