SURABAYA -- Spektakuler memang! Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Jamiyah Diniyah Ijtimaiyah (organisasi sosial keagamaan), bisa dibilang benar-benar hebat. Meski didera geger berkepanjangan, ternyata, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berhasil menyudahi dengan "happy ending" alias berakhir dengan senyuman, penuh kebahagiaan, kekompakan dan keguyuban.
“Sebagai warga NU tulen, saya bangga. Ikut senang. Meski hasilnya belum maksimal. Karena bagaimana pun, sebagai dzurriyah (anak cucu) pendiri NU, saya ingin melihat jamiyah ini kuat karena aturan, bukan kuat karena personal. Ini momen bagus untuk menata kembali NU,” demikian disampaikan KH Ishaq Masykuri, dzurriyah almaghfurlah KH Hamid Baidlowi, Lasem, Jawa Tengah kepada awak media di Surabaya, Selasa (30/12/2025),
Menurut Kiai Ishaq, Muktamar ke-35 NU bisa ditempatkan di Jawa Tengah. “Kami sangat siap. Bisa di pondok Lasem, Ponpes Mbah Hamid Baidlowi atau di Sarang Pondok Pesantren Mbah Maemun Zuber. Terpenting, waktu yang sangat strategis (abad kedua NU) ini, benar-benar menjadi miqat kebangkitan NU di abad kedua,” tambahnya.
Ada juga yang merinci beberapa alternatif tempat pelaksanaan Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 mendatang. Apalagi, waktunya sudah mepet, alias musim haji. Muktamar ke-35 NU sebaiknya di Surabaya. Mengapa? Karena inilah tempat yang paling sesuai dengan rencana Muktamar NU ke-35 Tahun 2026. Surabaya adalah kota kelahiran NU.
“Sekaligus sebagai momentum untuk mengenang sejarah berdirinya NU. Soal fasilitas sangat memadai,” tegas seorang nahdliyin.
Di Surabaya, ujarnya, peserta bisa banyak merenung mulai dari pergerakan cikal bakal berdirinya NU, para kiai yang saat itu mendirikan Nahdlatul Wathan (1916), Nahdlatut Tujjar (1918), Tasywirul Afkar (1919) sampai Nahdlatul Ulama (NU). “Dan, ingat, kantor PBNU pertama itu di Surabaya,” tambahnya.
Bagaimana dengan Kediri? “Bagus juga. Di Kediri ada beberapa pesantren besar yang juga sangat monumental dan bersejarah. Seperti Pesantren Ploso dan Lirboyo Kediri. Bahkan usulan di Lirboyo semakin menguat dengan adanya Musyawaroh Kubro dan Islah Rais Aam dan Ketum PBNU yang barusan terjadi konflik terbuka dan meresahkan kaum nahdliyin. Meski (pesantren Lirboyo) sudah pernah ditempati muktamar,” urainya.
PBNU memang belum memastikan tanggal dan tempat pelaksanaannya. Panitia juga belum terbentuk. Sebab, hasil pertemuan di sejumlah tempat, itu baru dibahas secara internal PBNU sesuai AD/ART organisasi. Yang jelas, pelaksanaan Muktamar dipercepat, dibahas bersama antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersama jajarannya masing-masing.
”Langkah-langkah teknis akan dipersiapkan PBNU agar pelaksanaan muktamar dapat berlangsung tertib, sah, dan bermartabat,’’ begitu disampaikan Prof Muh Nuh, Katib Syuriyah PBNU yang juga mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kepada awak media.
Dalam kesempatan itu, Prof Nuh juga menyampaikan bahwa jajaran Syuriyah PBNU dengan kebesaran hati sudah memaafkan Ketum PBNU, terkait keputusannya mengundang tokoh pro-Israel.
Nahdliyin dari Kabupaten Jombang juga berharap Muktamar ke-35 kembali ke Jombang. Alasannya, di sini terdapat pesantren besar para muassis (pendiri) NU. Dari Ponpes Tebuireng (Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari), Tambakneras (KH Abd Wahab Hasbullah), Denanyar (KH Bisri syamsuri) sampai Darul Ulum Rejoso (KH Mustain Romly).
“Usulan menguat di Tebuireng sebagai pesantren Rais Akbar Pertama PBNU Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Di samping itu, secara bathiniyah, lega rasanya. Asal jangan seperti dulu, di Alun-alun,” tegas Drs Abd Kholiq, mantan Ketua GP Ansor Jombang.
Bangkalan tak mau kalah. Tokoh-tokoh NU Bangkalan berharap Muktamar ke-35 ada di sini. ”Bangkalan itu episentrum sejarah. Nol kilometer NU, karena dari sini, Syaikhona Kholil, sang guru para pendiri, memberikan tongkat komando (melalui Kiai As’ad Syamsul Arifin) kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari untuk mendirikan Jamiyah Nahdlatul Ulama. Terlebih barusan Syaikhona Kholil memperoleh penganugerahan gelar Pahlawan Nasional. Ini menambah gaung urgensi spiritual dan nasionalisme,” tegasnya.
Lalu, nahdliyin dari kota Pudak ,Gresik, tak mau ketinggalan. Gresik dinilai sebagai kota bersejarah para wali. Penyebar awal Islam di Indonesia seperti Fatimah binti Maimun, Maulana Malik Ibrahim, dan Sunan Giri. Dulu Gresik ikut Kabupaten Surabaya, sehingga jika Muktamar ke-35 di Gresik sama saja kembali ke kota kelahirannya.
“Gresik itu kota santri. Pesantren banyak, beberapa muassis dan tokoh awal berdirinya NU berasal juga dari Gresik, Kiai Muhammad Zubair (Mustasyar PBNU pertama), Kiai Faqih Maskumambang (Wakil Rais Akbar pertama), Kiai Abd Hamid Faqih (salah satu pencetus nama NU), Kiai Umar Burhan (sang Arsiparis NU). “Kalau peserta muktamar ke-35 NU ingin tahu secara lengkap sejarah NU, ada di Rumah Arsip, itu di Grseik,” tegas salah seorang nahdliyin.
Jika Gresik dipilih, maka, yang paling memungkinkan ditempatkan di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Gresik. “Karena Ponpes Mambaus Sholihin merupakan pesantren terbesar di Gresik dengan jumlah santri sekitar 10 ribu. Di sini juga memadukan nilai dan metode pembelajaran salaf (Langitan), modern (Gontor) dan kekhasan tradisi (Raudhatul Muta’alim Jatipurwo) Surabaya.”
“Di Gresik, fasilitas lengkap. Masjid, Aula, Ruang Pleno, Ruang Komisi-komisi dan Asrama Pesantren sebagai penginapan yang representatif dengan 3 area pesantren yang cukup luas termasuk untuk parkir kendaraan. Jika menginginkan penginapan yang lebih bagus, ada banyak hotel dan penginapan terdekat dengan harga terjangkau, seperti Hotel Horison, Aston, Santika, Sapta Nawa, dll,” tulisnya.
Beredar 18 Nama Masuk Blacklist
Warganet memang layak disebut ‘kejam’. Konflik PBNU ini bisa membuat mereka melempar nama-nama yang dinilai tidak boleh (lagi) berada di PBNU. “Demi masa depan jamiyah, saya rasa itu, sah-sah saja. Sekarang ini, kondisi nahdliyin jengkel setengah mati. Mereka marah kalau di PBNU itu ternyata kumpulan orang-orang "NU" atau ‘Nunut Urip’,” demikian disampaikan KH Ishaq Masykuri.
"Nunut urip" adalah istilah bahasa Jawa yang berarti "numpang hidup" atau "ikut hidup," seringkali memiliki konotasi negatif untuk menyindir orang yang hanya mencari keuntungan dengan memanfaatkan orang atau organisasi lain (seperti dalam konteks Nahdlatul Ulama - NU), namun juga bisa diartikan sebagai "ikut menghidupkan" atau berkontribusi bersama, tergantung konteksnya. Istilah ini menunjukkan perilaku mengambil keuntungan dari kondisi hidup orang lain tanpa berkontribusi, meski ada juga pemahaman positif seperti "ikut iuran" atau "turut menopang hidup".
Kiai Ishaq lalu bertanya: Apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan? Maslahat? Atau ego? Menurutnya NU rusak karena permainan riswah (duit). “Kalau kita jujur, persoalan PBNU bukan semata soal administrasi. Saya tahu sendiri, bahwa, budaya riswah (suap) tengah melanda NU. Karena itu, Muktamar ke-35 NU nanti harus kembali ke jatidiri, bahwa, riswah itu haram, jangan ada dalam Muktamar mendatang,” tegasnya.
Masih menurut Kiai Ishaq, membersihkan NU dari riswah memang tidak mudah. Karena itu, ia menyarankan agar pemilihan Tanzfidziyah (Ketum) PBNU diubah. Dia dipilih murni oleh AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi). “Dengan begitu, Ketua Umum PBNU benar-benar berada dalam kendali Rais Aam PBNU. Tidak seperti sekarang, gegeran, dan sama-sama merasa benar, menggunakan AD/ART,” tambahnya.
Pun soal nama-nama (18 orang PBNU) yang di-blacklist nahdliyin, menurutnya, itu terserah kepada muktamirin, dalam hal ini AHWA. “Saya pernah usul, agar PBNU ke depan dipegang dzurriyah muassis NU. Dengan catatan, mereka tidak pernah terkontaminasi kepentingan politik personal. Masih banyak dzurriyah – yang tidak berpolitik untuk diri sendiri ini – mereka harus menginisiasi pertemuan sendiri. Saya yakin warga NU akan lebih percaya dan, jamiyah ini akan selamat dari tarik-menarik kepentingan,” pungkasnya.
#dut/bin

