cerpen Ilhamdi Sulaiman
“Jika rambut ini kupotong, apakah aku masih aktor yang sama?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba ketika aku berdiri di depan cermin. Rambutku terurai, masih lembap, sisa keramas pagi tadi—keramas yang kulakukan dengan khidmat, seolah sedang bersiap naik panggung, padahal hanya untuk Jumatan kemarin.
Puluhan tahun rambut ini tumbuh bersamaku. Ia menyaksikan aku berubah-ubah rupa: menjadi Tiresias, peramal tua yang buta namun melihat kebenaran; menjadi Caligula, kaisar gila yang menertawakan kematian; juga menjadi dokter gadungan, tokoh jenaka yang memamerkan kepalsuan manusia dengan tawa getir. Rambut ini ikut basah oleh keringat panggung, ikut gemetar di bawah lampu sorot.
“Kenapa harus kupotong?” gumamku pada bayangan sendiri. “Bukankah rambut ini telah menjadi bagian dari tubuh peranku?”
Dulu rambut panjang adalah sikap. Sebuah penolakan halus terhadap keseragaman. Ia bukan sekadar gaya, tapi pernyataan diam: aku memilih menjadi seniman panggung, dengan segala keganjilannya.
Namun usia membawa bisikannya sendiri. Ada yang menyarankan agar aku “lebih rapi.” Ada yang bilang, “Zaman sudah berubah.” Kata-kata itu terdengar sopan, tapi menyimpan permintaan agar aku menanggalkan sesuatu yang sudah lama melekat.
Aku memungut gunting di meja. Kilau besinya memantul di cermin. Sejenak aku membayangkan rambut ini jatuh ke lantai, seperti tirai yang ditutup setelah pertunjukan usai.
Apakah setelah itu aku masih Tiresias? Masih Caligula? Atau hanya lelaki tua tanpa jejak peran?
Aku menurunkan gunting itu perlahan. Mungkin persoalannya bukan soal rambut. Mungkin ini soal keberanian untuk tetap setia pada pilihan, ketika dunia ingin aku menjadi versi yang lebih mudah diterima.
Untuk hari ini, rambut ini masih kubiarkan tumbuh. Sebagai pengingat: bahwa seorang aktor tak hidup dari kostum, melainkan dari kesetiaannya pada diri sendiri. (*)
29 Des 2025
